aku mendengar suara lelaki itu sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"setelah itu kamu langsung kesini sebelum Keenan sadar"kalau sampek yang datang adalah rafael, aku gak akan pernah percaya lagi sama dia.
aku masih berusaha untuk tetap memejamkan mata.
gak lama setelah itu aku mendengar pintu terbuka, dan ada suara langkah seseorang.
"selamat pagi pak"suara itu, gak salah lagi ini suara rafael, aku yakin banget ini suara rafael.
"pagi, hari ini kamu gak usah ke kantor, kamu di sini saja jagain Keenandra"
"siap pak"
"kalau ada apa apa kabari saya"
"baik pak, ini baju kerja yang bapak minta"
"terimakasih yaaa"
"sama sama pak"aku mendengar suara kaki seseorang mulai menjauh dan suara pintu di buka, pasti lelaki itu sudah keluar.
aku harus tetap bertahan untuk pura pura belum sadar.
"halo klara tolong berkas kemaren kamu antar langsung ke ruangan pak alex, karna hari ini saya tidak ke kantor"pak alex, ternyata dugaan ku benar, dia menyuruh perempuan itu ke ruangan alex, berani kamu bohongin aku rafael.
lebih baik aku buka mata ku sekarang pasti rafael akan terkejut.
aku Mencoba membuka mata ku pelan pelan.
"kee, kamu sudah sadar"Rafael langsung mematikan telpon nya dan menghampiri aku.
"kok aku disini"
"iya, kemarin kamu pingsan jadi saya bawa kamu kesini"jadi rafael yang membawa aku kesini, tapi kenapa tadi malam bukan dia yang disini.
"pingsan"kek nya aku harus belajar pura pura begok disini.
"iya, apa yang kamu rasain sekarang"
"kepala aku rasa nya sakit"
"saya panggilin dokter ya"
"gak usah, aku gak papa"
"kamu yakin gak papa"
"iya aku hanya haus"dari semalam aku harus menahan haus demi tau apa yang kamu sembunyi kan dari aku.
rafael mengambilkan aku minum, setelah meminumnya hampir setengah botol aku baru bisa merasa lega.
"makasih ya mas"rafael mengangguk dan duduk di kursi di sebelah tempat tidur ku.
"mas dari kapan disini"
"dari kemarin"
"mas gak kerja"aku melihat rafael diam seperti orang yang sedang berfikir.
"gak, hari ini saya temenin kamu disini"
"gak papa mas ke kantor aja, saya gak mau ngerepotin mas terus"
"gak ngerepotin kok, jadi kamu gak usah khawatir"
"saya gak enak mas"
"gak papa, saya sudah izin jadi kamu gak usah khawatir"ternyata selain ganteng kamu juga pinter berbohong rafael.
"kamu laper gak, mau saya cari makan"aku hanya menggangguk.
setelah rafael keluar, aku menghembus nafas berat, kenapa kamu bohongin aku rafael, apa selama ini kebaikan kamu juga sebatas pura pura.
gak lama setelah itu rafael datang membawa bubur ayam dan segelas teh hangat.
rafael membantu aku untuk duduk.
"kamu suka gak bubur ayam"aku mengangguk.
setelah tau rafael bohong sama aku rasanya aku udah males ngomong sama dia.
setelah makan bubur rafael membantu aku minum obat.
"ya udah kamu istirahat ya"aku mengangguk dan mulai memejamkan mata.
*****
pas aku bangun rafael gak ada, kemana dia.
"selamat siang mbak Keenan"seorang suster masuk mengantarkan makan siang, mungkin rafael sholat dzuhur kali ya.
"siang sus"ini kesempatan aku, mumpung rafael gak ada.
"suster lihat abg saya gak"
"ada mbak di depan lagi ngobrol sama papa nya mbak"
"papa"
"iya mbak, mau saya panggilin"
"gak usah sus, saya kirain gak ada yang jagain saya"
"mau saya bantu suapin mbak"
"boleh sus"suster itu duduk di kursi di sebelah tempat tidur ku.
"o,iya sus yang di luar abg saya yang tadi pagi apa yang semalam ya sus"
"yang semalam saya kurang tau sih mbak soal nya saya shift pagi"iya juga sih suster malam sama pagi mana sama.
"kemaren saya masuk kerumah sakit jam berapa ya sus"
"kalau gak salah sebelum ashar deh mbak"
"yang bawa saya kesini siapa ya sus"
"abg mbak yang di depan"ternyata kali ini rafael jujur.
"saya bisa pulang besok gak sus"
"kalau soal itu saya kurang tau mbak, saya harus tanya dulu ke dokter"
gak terasa makanan nya abis juga, setelah makan suster membantu aku minum obat.
"makasih ya sus"
"sama sama mbak, kalau gitu saya permisi"aku hanya mengangguk.
bosen banget di sini, aku lihat ke arah pintu gak ada tanda tanda rafael akan masuk.
hampir tiga jaman aku baru melihat pintu kamar di buka dan ternyata rafael.
"hy kee"
"hy mas"aku paksain untuk senyum.
"maaf ya tadi saya harus pergi sebentar karna ada urusan yang harus saya urus"
"iya mas gak papa"
"gimana keadaan kamu"
"udah mendingan kok mas"
"kamu laper gak biar saya cari makan"
"gak usah mas, tadi saya udah makan sama suster"
"ya udah saya tinggal sebentar untuk sholat ashar"aku hanya menggangguk.
aku menghela nafas lelah, gimana cara nya agar aku bisa pulang, aku gak mau di sini.
aku sudah lama banget gak ke makam umi, rasa nya aku kangen banget sama umi.
aku memejamkan mata ku, ada perasaan sesak di dalam hati.
sekarang Keenan sendiri umi, bahkan orang yang Keenan anggap baik bahkan dia bohongin Keenan selama ini, kalau benar laki laki semalam itu kak alex, kenapa dia memulai hubungan ini dengan kebohongan.
"kee kamu kenapa kok nangis"aku gak sadar rafael masuk, aku cepat cepat membuka mata.
aku menggeleng, rafael mengelus lembut kepala ku.
"jangan bohong, apa kamu sakit kasih tau saya"aku menggeleng.
"kalau ada masalah kamu bisa cerita sama saya, siapa tau saya bisa bantu"kamu gak akan bisa membantu masalah aku rafael, karna kamu sendiri sumber dari rasa sakit aku.
"gak aku hanya rindu umiii"
"ya udah kamu istirahat yaaa, biar kamu cepat sembuh, nanti kalau kamu sudah bisa keluar dari sini saya akan antar kamu ke makam buk hanna dan pak arvan"
"makasih ya mas"tiba tiba aku merasa kepala ku sakit, sangat sakit.
"kee kamu kenapa"rafael menyentuh kepala ku.
"kepala ku sakit mas"aku melihat rafael menekan tombol nurse call bel yang tidak jauh dari tabung oksigen.
gak lama setelah itu seorang suster datang.
"sus, tolong panggilkan dokter"
gak lama setelah itu suster tadi datang bersama seorang dokter perempuan.
"saya periksa dulu ya pak"rafael menggangguk.
Setelah melakukan pemeriksaan dokter itu menyuruh suster menyuntikan obat anti nyeri ke dalam infus. gak lama setelah itu rasa sakit ku beransur ansur hilang begitu juga dengan kesadaran ku.