4

1448 Words
Setiba mereka di rumah, Flo hanya masuk ke kamar dan tak keluar hingga keesokan harinya saat harus ke kampus. Ia sama sekali tak bisa berkonsentrasi dengan pelajaran yang ada hingga bahkan Jeff melemparnya dengan kertas tetap tak ia gubris lagi. "Apa kamu seterkejut itu hingga tak bisa bicara lagi?" tanya Jeff yang tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. "Aduh, Jeff! Aku tidak tahu kesalahan apa yang sudah aku perbuat hingga harus mengalami semua itu, kenapa aku sesial ini sampai dijodohkan dengan si manusia kutub padahal di dalam mimpi saja aku tidak bisa membayangkannya." "Jadi kita punya julukan baru untuk dia?" tanya Jeff tertawa. "Aku serius, Jeff!" ujar Flo kesal. "Jika kamu merasa tak bisa menerimanya maka jangan dipaksakan, Flo." "Tapi apa aku punya pilihan?" "Setiap orang punya pilihan tapi apakah kita memilih pilihan yang tepat hal itulah yang tak kita ketahui." "Aku tak tahu kamu bisa sebijak ini." "Jeffry," ujar Jeff bangga hingga Flo tertawa mendengarnya. Saat waktunya pulang dengan cepat Flo segera pulang ke rumah mencoba memikirkan apa yang akan ia pilih bahkan saat tiba di kamarnya ia berdoa meminta petunjuk pilihan mana yang tepat untuknya. Tok...tok...tok... "Masuk," ujar Flo. Roger masuk ke dalam kamar putrinya dan menatapnya dengan sedih. Ia tahu saat ini putrinya pasti sedang memikirkan pilihan apa yang sebaiknya ia ambil. "Boleh Papa bicara sama kamu?" "Ya, Pa." Roger duduk di samping putrinya dan menghela napasnya sebelum mulai bicara. "Papa tahu kalau Tuan Muda Ry terlihat menakutkan dan tak banyak bicara tapi sesungguhnya dia anak yang baik. Jika tidak maka tak mungkin Papa akan menerima perjodohan ini meski kedua orang tuanya yang melamarmu langsung pada kami." "Apa Mama dan Pak Brent melamarku pada kalian?" "Ya, kemarin saat kamu masih di kampus mereka datang ke rumah memintamu pada kami dan kami mengatakan jika kami akan mengikuti apapun keputusanmu." Flo hanya menatap papanya dan tak tahu harus mengatakan apa. "Kamu sudah dewasa dan Papa yakin kamu bisa menentukan pilihan yang menurut kamu paling tepat tapi saran Papa hanyalah jika kamu merasa sanggup menjalaninya maka terimalah tapi jika kamu merasa tidak sanggup jangan memaksakan dirimu menerimanya hanya demi kami. Yang pasti jika kamu memutuskan menerimanya tapi ternyata kamu tak bahagia, pintu rumah ini akan selalu terbuka untukmu." Tanpa bisa Flo kendalikan air mata mengalir di pipinya. "Jangan menangis, Sayang. Kamu tahu Papa dan Mama menyayangimu dan kami ingin kamu bahagia," ujar Roger merengkuh putrinya ke dalam pelukannya. "Ya, Pa, Flo tahu. Terima kasih." "Tidurlah, hari sudah malam," ujar Roger dan mengecup kepala putrinya sebelum keluar dari kamarnya. Flo masih tak tahu keputusan apa yang akan ia ambil sedangkan waktu yang dimilikinya untuk memikirkannya hanya tersisa 2 hari lagi. Apa ia harus egois dengan memilih menolak perjodohan ini dan ia akan bisa menikah karena cinta. Atau ia harus menerimanya demi kedua orang tuanya dan juga kedua orang yang sudah begitu berjasa di dalam hidupnya. Jika aku menolak maka aku akan membuat Papa merasa tidak enak pada keluarga Pak Brent. Selain itu aku juga akan mengecewakan Mama Sarah tapi jika aku menerima sanggupkah aku menjalani pernikahan itu? Saat membayangkan harus hidup bersama dengan Ry hal itu membuatnya merasa ketakutan. Selama ini ia tak perlu takut akan terjebak satu ruang bersama Ry karena jika tiba-tiba laki-laki itu muncul ia tinggal kabur dari rumah itu sedangkan jika mereka akan tinggal bersama ke mana Flo bisa kabur? Rasa kantuk mengalahkannya dan dirinya tertidur sebelum mengambil keputusan. *** Hari yang dijanjikan Flo tiba dan saat ini mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Tak ketinggalan Jeff juga hadir di sana dan Flo sedikit tenang saat menatap laki-laki itu yang juga menatapnya kemudian tersenyum padanya. Flo bisa merasakan jika Jeff akan mendukungnya jawaban apa pun yang akan ia berikan nantinya. Dirinya tersenyum membalas senyum yang Jeff berikan padanya. "Seperti yang aku janjikan hari ini aku akan memberikan jawabannya." Mereka semua menatapnya menunggu bahkan ia bisa melihat jika Ry sudah tak sabar mendengar jawabannya hingga bahkan wajahnya semakin tampak dingin. "Aku akan menerimanya." Sarah tersenyum mendengarnya begitu juga kedua orang tua Flo. Ia saat ini tak menyesal mengambil keputusan itu sewaktu melihat raut bahagia di wajah kedua orang tua mereka. Tanpa sengaja ia menatap Ry dan menemukan laki-laki itu juga sedang menatapnya. Ia tak tahu apakah laki-laki itu bahagia mendengarkan jawabannya ataukah tidak karena wajahnya masih datar tanpa ekspresi seperti biasanya. "Mama senang sekali," ujar Sarah mendekap Flo dengan erat. "Terima kasih, Sayang." "Iya, Ma." Setelah itu mereka semua mendiskusikan kapan pernikahan itu akan dilangsungkan. "Bagaimana kalau 2 minggu lagi?" tanya Sarah. "3 hari lagi saja, Ma," ujar Ry. "Apa kamu gila, Ry?! Bagaimana caranya Mama menyiapkan pernikahan hanya dalam waktu 3 hari saja?" "Aku harus segera kembali ke Boston, Ma." "Tidak, Ry!" "1 minggu, Ma," tawar Ry dan Flo hanya bisa menatap bolak balik di antara kedua orang itu. "Aku tahu Mama bisa menyiapkan semuanya hanya dalam waktu 1 minggu saja," sambung Ry. Sarah menghela napas lelah mendengarnya dan dirinya tahu jika apa yang Ry katakan benar. "Tergantung, Flo, jika dia setuju maka Mama juga akan setuju." "Apa jawabanmu?" tanya Ry dingin pada Flo dan dengan tatapan intimidasinya yang tentu saja membuat Flo begitu gugup dan takut jadinya. "Aku setuju," gugup Flo sebab ia tahu jika sampai berani menolak maka entah apa yang akan Ry lakukan padanya. Akhirnya mereka semua sepakat jika pernikahan itu akan diadakan 1 minggu lagi dan Flo sedikit menyesal menerimanya. Flo sungguh tidak mungkin akan menduga jika di usianya yang baru 23 tahun ia sudah akan menikah dan dengan laki-laki yang berbeda 5 tahun dengannya bahkan selalu ia hindari selama ini. "Flo, apa kamu memiliki permintaan khusus untuk acara pernikahan ini atau tempat khusus untuk menyelenggarakannya?" Flo menatap pada Sarah dan tak tahu harus menjawab apa. Ia selama ini tak pernah memikirkan tentang pernikahan karena memiliki kekasih saja ia tak pernah apalagi memikirkan sebuah pernikahan. "Aku serahkan pada kalian saja untuk mengurus semuanya," jawabnya akhirnya menatap Sarah dan Aura. Setelah itu ia undur diri dari sana dan berjalan keluar menuju taman yang ada di belakang rumah itu. Ia duduk di ayunan dan menyandarkan kepalanya di sana. Memandang kegelapan malam dengan tatapan kosongnya. Ia menatap ke samping saat seseorang duduk di dekatnya. "Kenapa kamu terima perjodohan itu kalau kamu jadi sedih seperti ini?" tanya Jeff menatap sahabatnya. "Entahlah!" ujar Flo. "Jika kamu tidak mau menikah dengannya bagaimana kalau kita kabur saja dari sini? Aku memiliki sedikit tabungan." "Kamu tahu aku tak bisa melakukan hal itu. Aku menyadari jika sesungguhnya aku hanya ingin jadi anak yang berbakti saja dan aku tak ingin membuat Mama Sarah jadi sedih jika aku menolaknya. Jadi jika aku melarikan diri maka hal itu akan membuat mereka lebih kecewa lagi." "Baiklah jika itu keputusanmu. Tapi kamu tahu bukan aku akan selalu ada jika kamu membutuhkanku?" "Ya, terima kasih," ujar Flo tersenyum tak menyadari seseorang menatap mereka saat ini dan merasa begitu marah melihatnya. *** Mempersiapkan pernikahan dalam waktu yang begitu singkat membuat Flo lumayan stress. Semuanya harus ia lakukan sendiri dan hanya kedua mama juga Jeff yang membantunya. Dirinya sedikit kesal sebab tak tahu apa kegunaan calon suaminya jika bahkan segala hal diantar oleh Jeff atau papanya. Ia tahu laki-laki itu juga tak menginginkan pernikahan ini tapi bukankah dia yang paling membutuhkan pernikahan ini. Lalu kenapa dirinya yang harus kesusahan, mengalami banyak tekanan dan bahkan harus meluangkan banyak waktu. "Flo, kamu harus fitting baju pengantin lagi hari ini," ujar Aura saat Flo masih saja bermalas-malasan. "Biarkan saja, Ma, lagi pula pengantin pria tidak akan datang jadi buat apa juga aku datang. Jika nanti tidak muat ikat saja pakai tali," kesal Flo akhirnya sebab berkali-kali fitting dia harus datang sendirian saja ke sana dan kemudian ia memilih untuk tidur siang. Ia merasa terganggu saat ada seseorang menguncang tubuhnya. "Pergi!" bentak Flo karena yakin jika itu pasti Jeff yang menganggunya. Sebab jika itu kedua orangtuanya maka mereka akan memanggilnya dengan perlahan bukannya mendorong-dorongnya dengan kasar. Kemarahan Flo semakin memuncak saat hal itu tak berhenti juga. "Pergi! Biarkan saja si manusia kutub nikah sendiri!" amuk Flo. "Gantilah pakaianmu! Aku tunggu kamu di bawah dalam waktu 5 menit. Jika kamu tak turun maka aku akan membawamu dengan paksa." "Akh!" teriak Flo dengan cepat segera bangun dan beringsut di ujung ranjang saat tahu siapa sesungguhnya yang membangunkannya. Ia hanya bisa terbelalak tak bisa bicara sampai laki-laki itu keluar dan menutup pintu. Mati aku! Mati aku! Mana aku bilang dia si manusia kutub lagi, batin Flo merasa akan gila sebentar lagi. *** Di luar kamar Flo, Ry dengan tidak sabar menunggu calon istrinya keluar dari sana. Jika tak memikirkan sopan santun mungkin dia akan langsung membawanya sekarang juga. "Apa dia sengaja berlama-lama?" Ia tak tahu jika Flo bahkan memberikan julukan baru untuknya. Selama ini yang dia tahu mereka memanggilnya Mr. Amerika dan dia tahu mereka memberikannya julukan itu karena dirinya yang sejak kecil tergila-gila dengan semua hal yang berhubungan dengan Amerika. Saat liburan sekolah hanya negara itu saja yang ingin dia kunjungi tidak yang lainnya dan karena itu juga dia membangun usahanya di sana. Kesabarannya hampir habis saat 5 menit berlalu dan gadis itu belum keluar juga. Beruntung saat dia baru akan kembali masuk akhirnya gadis itu keluar juga terlihat takut padanya dan ia tahu sebabnya. *** Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD