Tak terasa hari pernikahan tiba dan saat ini Flo sudah mengenakan pakaian pengantin yang sangat indah juga pas ditubuhnya. Ia menatap wajahnya di cermin dan merasa jika itu pasti bukan dirinya karena saat ini ia terlihat begitu berbeda.
"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Aura.
"Iya, Ma," jawab Flo berpaling menatap mamanya.
Kemudian mereka segera keluar dari ruang tunggu yang terdapat di gedung tempat pernikahan itu akan berlangsung. Ia menyiapkan hatinya untuk memasuki kehidupan selanjutnya dari hidupnya yang ia tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Papa tak menyangka jika kamu secantik ini. Apa kamu tertukar dengan seorang bidadari saat di dalam tadi?"
Flo tersenyum sekaligus terisak mendengarnya saat Roger meraih tangannya dan membiarkan ia mengandengnya. Setelah itu mereka mulai menyusuri jalan di mana sudah menunggu calon suaminya di depan sana.
Flo mengenggam lengan papanya dengan erat tak berani mengangkat kepalanya sedikit pun menatap ke depan. Dirinya masih ingat hari di mana ia berteriak memanggil laki-laki itu manusia kutub yang membuatnya semakin takut pada laki-laki itu. Untung saja tidak ada yang laki-laki itu lakukan padanya karena mungkin tahu jika ia akan berlari secepat kilat jika sampai merasa lebih takut dari biasanya.
Saat papanya sudah menyerahkannya dan mereka mulai mengucapkan sumpah pernikahannya hati Flo seolah teriris karena merasa sudah mempermainkan sebuah ikatan pernikahan bahkan air mata menetes di pipinya. Ia sungguh berharap jika pernikahan ini akan menjadi sebuah pernikahan yang sesungguhnya dan bertahan selamanya walau dirinya tak yakin apakah ia mampu mempertahankannya.
Ry mendekat pada Flo saat wanita itu sudah sah menjadi istrinya. Dirinya mendekat untuk menciumnya sebagai bukti jika pernikahan mereka sudah sah.
Ia meraih pinggang Flo dan mulai mendekatkan bibirnya di pipi Flo.
"Aku tahu jika kamu terpaksa menikah denganku tapi jangan tunjukkan hal itu pada semua orang hingga akan mempermalukan keluarga kita," bisiknya dingin di telinga Flo.
Bagi yang tak tahu hal itu akan tampak seolah laki-laki itu mencium pipinya tapi hanya Flo yang tahu kenyataan yang sebenarnya dan ia sangat ingin menangis sepuasnya mendengarnya bahkan ia harus mengenggam jas yang Ry pakai sekuat tenaga agar ia bisa mengendalikan dirinya.
Setelah itu mereka semua menuju resepsi pernikahan dan sepanjang waktu ia berdiri sejauh yang dia bisa dari laki-laki itu tanpa membuat orang menyadarinya. Dirinya juga harus terus tersenyum setiap menerima ucapan dari para tamu hingga Flo merasa jika lebih lama lagi semua itu berlangsung mungkin ia tak akan mau tersenyum lagi selamanya.
Saat acara itu berakhir, Flo menghembuskan napas dengan lega dan membanting tubuhnya di atas sofa dengan lelah.
Tak lama kemudian Jeff menyusul duduk di sana bersamanya.
"Aku tak tahu ternyata kamu bisa jadi secantik ini seperti upik abu yang berubah menjadi cinderella."
"Sialan!" ucap Flo dan melempar bantalan sofa pada Jeff dengan kesal.
"Hati-hatilah saat kamu sekamar bersamanya mungkin saja besok saat kamu bangun sudah jadi patung es."
"Jeff! Bersikaplah yang sopan pada Flo. Dia sekarang sudah menjadi kakak iparmu bukan sahabatmu lagi," ucap Sarah.
"Ya, Ma. Maaf, Flo," timpal Jeff kemudian menghampiri Sarah dan mengecup pipinya.
"Aku tidur dulu, Ma. Hari ini sungguh melelahkan," ujar Jeff dan bergegas naik ke kamarnya.
"Flo, kamu pasti juga lelah. Tidurlah!"
"Ya, Ma," timpal Flo tak bersemangat saat ingat di mana ia harus tidur saat ini. Ia lupa bertanya pada laki-laki itu apakah mereka akan melakukan hubungan suami istri atau tidak dan ketidaktahuannya akan hal itu membuatnya semakin ketakutan.
Tapi dia mengatakan jika pernikahan ini hanya status saja. Jadi apakah aku bisa tenang? batin Flo saat sampai di depan kamar suaminya. Ia tahu jika suaminya sudah naik terlebih dahulu ke kamar tadi.
Tuhan, jika engkau menyayangiku semoga saja dia sudah tidur saat aku masuk, batin Flo berdoa. Dengan pelan ia membuka pintu itu dan kemudian mengintip ke dalam tapi ia harus kecewa saat menemukan jika laki-laki itu masih bangun bahkan sedang bekerja dengan laptopnya.
Selain dingin, tak punya emosi ternyata juga gila kerja. Dirimu sungguh sangat beruntung, Flo, batinnya kembali. Ia merasa mungkin tak lama lagi dirinya akan gila karena terus bicara sendirian saja sejak tadi atau mati kehabisan napas karena ia merasakan perasaan tak bisa bernapas saat berada di kamar yang sama dengan laki-laki itu.
Ia masuk dan hanya bisa duduk diam di sofa tak tahu harus melakukan apa. Dengan gelisah ia terus memainkan tangannya dan jika bukan karena takut mengecewakan Sarah ingin ia kabur dari kamar itu.
"Kamu bisa mandi di sana dan setelah itu bereskan kamar ini."
Flo sedikit terkejut mendengarnya saat tiba-tiba dia bersuara padanya hingga dengan refleks ia segera menurutinya. Selesai mandi ia kembali menuruti perintah laki-laki itu tapi dirinya sengaja menunda semuanya dengan sangat perlahan.
Ia tak tahu akan tidur di mana dan ia sama sekali tak ingin bertanya. Flo kembali terbelalak saat akhirnya laki-laki itu bangun dari kursinya dan berbaring di ranjang memejamkan mata dan ia terus saja membereskan kamar itu.
"Jika tidak ingin aku membawamu turun besok dalam keadaan tak sadarkan diri, sebaiknya kamu tidur," ujarnya kembali setelah 2 jam berlalu yang tentu saja membuat Flo kembali terkejut karena mengira jika dia sudah tidur.
Sebuah bantal dilemparkan padanya dan dengan cepat ia menangkapnya. Flo menatap suaminya dengan tatapan kesalnya kemudian menuju sofa.
Jika itu Jeff aku tidak mungkin akan menerima semua perlakuan ini dalam diam, batin Flo kesal.
Ia duduk di sana sambil memeluk bantal itu dengan erat dan menyandarkan dagunya di sana menatap Ry terus menerus. Ingin ia memprotes tapi jika masih mau hidup keesokan harinya hal itu tak mungkin ia lakukan.
Sampai akhirnya ia yakin jika laki-laki itu sudah tidur dan dirinya meletakkan dan memukul bantal dengan marah di atas sofa bersiap untuk tidur.
"Sudah dinginnya kayak kutub utara, irit bicara, gila kerja dan sekarang juga kejam. Menu yang sangat komplit," gerutu Flo kesal dan memilih berbaring di sana melepaskan lelahnya. Ia berani mengerutu hanya karena yakin laki-laki itu sudah tidur.
***
Flo terbangun dengan badan yang terasa penat semua di sekujur tubuhnya tapi ia tetap harus bangun. Ia menemukan laki-laki itu sudah tak ada di ranjangnya jadi dirinya bergegas ke kamar mandi setelah mengambil perlengkapannya.
"Apa kamu tidak punya mata?!" bentak sebuah suara dengan dingin yang membuat dirinya terkejut setengah mati saat tanpa sengaja ia menabraknya dan terlempar ke dalam pelukan laki-laki itu.
Flo meletakkan tangannya di d**a laki-laki itu dan bisa merasakan rasa lembab kulit Ry dijari-jarinya
Flo bergegas mundur saat sadar apa yang terjadi jika tubuh mereka menempel dengan erat dan jika Ry hanya berbalut handuk saja.
"Maaf, Kak, aku tidak sengaja."
Ry hanya menatapnya tajam dan kemudian kembali melangkah ke dalam kamar sedangkan Flo bergegas masuk ke kamar mandi.
Saat ia keluar sudah tak ada suaminya di sana dan ia begitu lega. Dengan cepat ia merapikan dirinya dan bergegas turun ke bawah untuk sarapan dengan yang lainnya dan Flo sama sekali tak berani bersuara atau mengatakan apa pun.
"Kapan kalian akan kembali ke Boston?" tanya Brent.
"Besok, Pa," ujar Ry dan Flo begitu terkejut mendengarnya tak menyangka secepat itu ia akan berpisah jauh dari kedua orang tuanya.
"Kamu baik-baik saja, Flo?" tanya Sarah saat Flo sudah tenang tapi ia bisa melihat matanya berkaca-kaca.
"Ya, Ma," ujar Flo mengerjapkan mata agar air matanya tak tumpah.
"Bersiaplah dan jika ada barang yang harus kamu ambil kamu bisa mengambilnya hari ini," ujar Ry pada Flo.
Flo sungguh kesal karenanya tapi ia memilih bungkam kemudian naik ke kamar mereka.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^