Ry mengikuti kepergian istrinya dengan tatapannya hingga tak tampak olehnya. Sesaat tadi dia merasa jika Flo ingin menangis tapi sepertinya itu hanya perasaannya saja.
Dia pamit menyusul Flo ke atas saat sudah menyelesaikan sarapannya dan dia menemukan Flo duduk diam di sofa.
"Kenapa kamu belum bersiap-siap?!"
"Kenapa harus secepat itu, Kak?" tanya Flo.
"Aku harus mengurus pekerjaanku."
"Tapi aku belum siap berpisah dari Mama dan Papa," lirih Flo dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aku sudah meninggalkan pekerjaanku terlalu lama dan aku tak akan menundanya lebih lama lagi hanya karena kecengenganmu!"
"Aku benci, Kakak!" isaknya.
"Siapkan barang-barangmu atau kamu tak akan membawa apa-apa!"
Flo mengikuti kemauannya karena memang tak punya pilihan sebab sekarang laki-laki itu merupakan suaminya.
***
Setelah melalui penerbangan yang panjang dan juga melelahkan, akhirnya mereka tiba di rumah yang terletak di kawasan elite yang berada di Boston.
Flo tak tahu dia harus bahagia atau tidak saat tiba di tempat itu. Dirinya tak mengenal siapa-siapa di sini dan tinggal jauh dari kedua orang tuanya.
Baru tiba di sini saja ia sudah merasa ingin kembali menangis lagi saat mengingat mereka. Sebab seumur hidupnya tak pernah ia harus tinggal jauh dari mereka tapi sekarang bahkan ia harus tinggal di negara dan benua yang berbeda dengan mereka.
"Kamarmu di sana dan jangan pernah mengusik hidup yang lainnya, aku tak ingin kamu mengangguku dan meneleponku jika tak ada sesuatu yang benar-benar penting," ujarnya dan kemudian melangkah menuju kamarnya.
"Kak," panggil Flo pelan meski takut.
Ry menghentikan langkahnya dan kemudian berbalik menatap Flo tajam menunggu ia kembali bicara.
"Jika tidak keberatan maukah Kakak memberitahuku bagaimana aku harus bersikap di sini, di mana kampusku, dan semua hal yang harus aku tahu."
"Pikirkan saja sendiri!" ujarnya kembali melangkah.
"Tolong, Kak," panggil Flo lagi.
Tapi dia masih bergeming tak menjawab.
"Tolong Kak sekali ini saja dan aku janji setelah ini aku tidak akan merepotkan lagi. Kakak juga bisa meminta apapun padaku nanti."
"Baiklah, bersiaplah besok jam 8 pagi dan jika kamu terlambat kamu bisa mencari tahu sendiri."
Flo menghembuskan napas lega mendengarnya dan ia segera tidur karena tak mau sampai terlambat besok pagi.
***
Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu dan dirinya menghabiskan hampir semua waktunya untuk mengenal negara dan orang-orang di tempat itu sendirian dan mempelajari semuanya sendirian.
Kesibukan karena mengurus semuanya membuat Flo bisa mengabaikan kehadiran laki-laki yang merupakan suaminya. Mereka benar-benar seperti orang asing tanpa interaksi sama sekali.
Hari ini seperti biasanya ia berangkat ke kampus dan bergegas menuju halte bis seperti biasanya. Ry tak tahu jika ia naik bus dan bukannya naik mobil. Awalnya ia naik bus agar bisa mengenal jalan-jalan dan tempat-tempat di sana. Tapi ternyata dia lebih nyaman naik bis daripada mobil pribadi hingga ia tetap naik bus sampai sekarang.
Pulang dari kampus Flo kembali naik bis tapi saat menggesek kartu untuk membayar ongkosnya ternyata saldonya sudah habis sedangkan ia lupa membawa dompetnya jadi akhirnya ia kembali turun.
Flo mengambil ponselnya dan menatapnya sejenak memutuskan apakah ia harus menghubungi Ry atau tidak hingga akhirnya ia memberanikan diri menekan nomor kantor Ry.
"Halo," jawab suara seorang wanita di sana.
"Apa aku bisa berbicara dengan Mr. Kenrick?"
"Ini dari siapa?"
"Istrinya."
"Saat ini Mr. Kenrick sedang rapat."
"Bisakah kamu memberitahunya jika ini penting dan hanya sebentar saja, aku mohon."
"Baiklah."
"Ada apa, Flo?!" tanya Ry dengan suara yang terdengar tak sabar sesaat setelah Flo menunggu.
"Kak, aku__"
"Sudah aku katakan bukan jika tidak penting jangan meneleponku!"
"Tapi, aku__"
"Sudahlah kamu membuang-buang waktuku saja!" bentak Ry kembali dan memutuskan telepon.
Flo hanya bisa menatap ponsel itu dan kemudian menghela napas lelah.
Ia mulai berjalan kaki yang mungkin bisa menghabiskan waktu 1 jam baru ia akan sampai di rumah jika dibandingkan naik bis yang lebih singkat tapi ia tak punya pilihan.
Setengah jam kemudian ponselnya berbunyi dan tertera Mr. Amerika di sana tapi ia hanya menatapnya tak mau mengangkatnya.
Ia tahu jika suaminya yang kejam itu pasti sudah sampai rumah saat ini dan menemukannya belum pulang.
"Biarkan saja dia menunggu sampai jamuran," kesal Flo lebih memilih jalan kaki daripada harus meminta bantuan laki-laki itu lagi.
Lima belas menit sebelum sampai rumah bahkan langit juga begitu kejam padanya hingga menumpahkan hujan ke bumi.
"Ya, aku tahu aku belum mandi tapi sedikit lagi aku sampai rumah," gerutu Flo kesal. Sejak tadi ponselnya sudah ia matikan karena Ry terus meneleponnya.
"Untung saja tasku waterproof," ujar Flo dan kembali berjalan kaki.
"Lain kali aku harus membawa payung. Kenapa aku tidak memeriksa saldoku dulu semalam?" gerutu Flo kembali.
Kakinya sudah begitu lelah dan dirinya juga sudah mulai merasa kedinginan. Ia senang saat akhirnya tiba juga di rumah.
Baru saja ia ingin membuka pintu tiba-tiba sudah terbuka di hadapannya.
"Dari mana saja kamu?!" bentak Ry murka.
Flo terus masuk dan tidak menggubris laki-laki itu. Semua ini juga salahnya dan ia tidak peduli rumah itu banjir oleh air yang menetes dari tubuhnya.
"Jawab! Apa kamu bisu?!"
"Mau Kakak apa?! Saat tadi aku menelepon Kakak tak ingin bicara padaku lalu kenapa sekarang aku harus bicara pada Kakak?!" amuk Flo sebab ia sangat kelelahan saat ini juga kedinginan.
"Aku hanya ingin meminta Kakak menjemputku karena aku tak punya ongkos untuk pulang tapi aku sekarang tahu jika ternyata itu bukan sesuatu yang penting," ujar Flo tanpa sadar menangis karena begitu kesal.
"Kenapa kamu perlu ongkos untuk pulang? Apa sopir tidak menjemputmu?"
"Aku tak pernah naik mobil. Aku selalu naik bus dan ya aku tahu ini salahku jadi tolong jangan ganggu aku, aku lelah dan juga lapar setelah berjalan kaki selama 1 jam, Kakak bisa kembali bekerja atau melakukan apa pun yang begitu penting untuk Kakak dan jangan menganggu sesuatu yang tak penting bagi Kakak. Kakak tak perlu menekankan maksud Kakak karena aku tahu jika aku memang tak penting," kesal Flo kemudian kembali berjalan menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Selesai mandi ia kembali keluar dan menemukan Ry masih di sana.
"Apa Kakak sudah makan?" tanya Flo meski marah pada laki-laki itu.
"Belum."
"Tunggulah sebentar aku akan memasak sesuatu yang cepat," ujar Flo kemudian menuju dapur.
Saat sudah selesai ia memanggil Ry dan kemudian mereka makan malam bersama dalam diam. Begitu selesai mencuci piring dan berbalik ia menemukan Ry masih duduk di sana menatapnya tapi ia tak memedulikannya dan berjalan menuju kamarnya hingga Ry mencekal lengannya saat ia melewati laki-laki itu.
Ry berdiri dari duduknya hingga mereka begitu dekat dan Flo mundur untuk memberi jarak pada mereka.
"Maaf," ujar Ry.
Flo mengangkat tatapannya tak menyangka akan mendengar ucapan itu keluar dari mulut laki-laki itu.
"Tidak apa-apa, Kak," ujar Flo berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Ry tapi laki-laki itu memegangnya dengan erat.
"Aku suamimu, Flo," geram Ry.
"Aku tahu, Kak, tanpa Kakak memberitahuku. Sekarang tolong lepaskan tanganku, aku mau tidur."
Bukannya melepaskannya laki-laki itu malah mendekat pada Flo yang kembali mundur hingga ia terjebak tak bisa ke mana-mana lagi.
"Kakak, mau apa?"
"Panggil namaku mulai sekarang."
"Kenapa?"
"Karena kamu istriku dan bukan adikku!" geramnya.
"Hanya istri status saja kenapa dipermasalahkan?" tanya Flo tak mengerti hingga ia terbelalak saat Ry mengangkat tangannya dan kemudian mengusap bibirnya perlahan membuat Flo semakin terbelalak.
"Panggil namaku menggunakan bibirmu ini," bisik Ry lagi sambil terus mengusap bibir Flo.
"Ry," panggil Flo mengikuti kemauan Ry tak tahu sebabnya dan hanya bisa merasakan jika ia tak menurutinya maka Ry akan melakukan sesuatu padanya.
Meski Flo sudah menurutinya tapi laki-laki itu hanya tertegun dan masih tak melepaskannya.
"Ry, aku harus tidur karena besok aku ada jadwal kuliah," ujar Flo lagi untuk menyadarkan laki-laki itu saat dia masih diam di tempatnya.
Sesaat Flo bisa melihat jika raut dingin kembali pada laki-laki itu yang bergegas melepaskannya. Dengan cepat Flo berlari pergi dari sana dan ia bisa merasakan degup jantungnya yang terasa begitu cepat.
Ia menenangkan dirinya saat sampai di kamar dan tak mengerti ada apa dengan laki-laki itu tapi kemudian ia tak ingin pusing memikirkannya jadi ia bergegas tidur saja.
***
Jangan lupa klik love & komentnya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^