Sesuai janjinya pada Sarah kemarin saat pulang dari kampus ia langsung ikut bersama Jeff ke rumah keluarga Kenrick. Sepanjang waktu jika tidak bersama Jeff maka ia akan bersama para pelayan.
Dirinya membantu mengerjakan pekerjaan di sana hingga bahkan ia sampai lupa waktu.
Flo baru sadar saat kedua orang tuanya tiba. Ia bergegas mandi karena tak ingin membuat semua orang menunda makan malam hanya karena dirinya.
Sewaktu keluar dari kamar tamu tanpa sengaja ia menabrak tubuh seseorang yang langsung merengkuh pinggangnya.
"Maaf, Kak!" gugup Flo saat melihat siapa yang sudah ia tabrak. Ia semakin gugup saat Ry menatapnya begitu tajam. Ia berusaha melepaskan dirinya tapi Ry merengkuh pinggangnya dengan erat.
"Apa kamu bermaksud menggodaku?"
Flo hanya bisa terperangah mendengarnya.
"Kamu bisa menggoda adikku tapi aku tak akan pernah tergoda."
Flo tertawa tanpa bisa dicegahnya,
"Aku bahkan hampir mati ketakutan jadi bagaimana mungkin aku akan menggoda, Kakak," ujarnya dan dengan cepat membekap mulutnya kembali saat sadar apa yang sudah ia ucapkan. Ia kembali terbelalak ketakutan melihat tatapan Ry yang semakin tajam padanya.
"Kenapa kamu takut padaku? Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak ada," ujar Flo kembali berusaha membebaskan diri tapi Ry masih bergeming.
"Ma," panggil Flo hingga dengan cepat Ry melepaskannya dan ia memanfaatkan hal itu berlari secepatnya dari sana sebelum Ry menyadari jika tak ada Sarah di sana sebab ia tahu jika laki-laki itu pasti akan sangat marah saat sadar.
Ry hanya bisa menatap Flo yang bergegas kabur darinya setelah menipunya dan dia mengeretakan giginya dengan marah.
Entah kenapa sejak pulang kembali ia selalu merasa marah pada gadis itu apalagi saat mendengar suara percakapan dan tawa bersama jeff saat dia melewati kamar adiknya kemarin.
Bertabrakan dengan gadis itu sama sekali tak memperbaiki suasana hatinya malah semakin memperparahnya.
Kemudian sebelum turun untuk makan malam bersama yang lainnya dia kembali mengendalikan dirinya.
Makan malam pun di mulai dalam suasana yang terasa horor bagi Flo sebab ia tak berani mengangkat kepalanya karena takut tanpa sengaja bertatapan dengan Ry lagi.
Sudah cukup beruntung tadi ia bisa lepas dari laki-laki itu dengan selamat. Ia tak tahu apa kesalahannya hingga membuat laki-laki itu marah padanya karena biasanya selama ini dia selalu mengabaikannya tapi kenapa kali ini berbeda dirinya sungguh tak mengerti.
Selama ini laki-laki itu selalu membuatnya merasa takut dan ia tak pernah bisa menghilangkan perasaan itu. Kejadian tadi hanya semakin membuatnya takut pada laki-laki itu.
Tidak lama setelah mereka semua selesai makan malam, Brent mengajak semuanya untuk duduk di perpustakaan yang memang selalu menjadi lokasi Brent jika ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan.
"Ry dan Flo, kalian juga ikut!" perintahnya saat mereka baru ingin pergi karena mengira jika itu hanya percakapan orang yang lebih tua sedangkan Jeff naik ke kamarnya sebab ia sudah tahu apa yang akan dibicarakan.
Mereka kemudian ikut serta ke perpustakaan dan Flo duduk di antara kedua orang tuanya.
"Ry, kamu tahu kenapa kami memintamu pulang?" tanya Brent.
"Karena aku sudah tidak pulang selama 2 tahun."
"Salah satu alasannya tapi bukan yang paling utama."
"Apa maksud, Papa?"
"Kami mencemaskanmu yang tinggal begitu jauh dari kami. Jadi jika kamu ingin kembali dan tetap tinggal di sana maka kamu harus segera menikah. Agar kami bisa merasa tenang jika ada yang menjagamu di sana."
"Tapi aku baru membangun perusahaanku, Pa, kehadiran seorang istri hanya akan mempersulit semuanya."
"Pilihanmu hanya itu, menikah atau kembali ke sini dan jika kamu setuju untuk menikah maka kami akan menjodohkanmu."
Ry menghela napas frustrasi mendengarnya, "Baiklah, aku akan menikah. Tapi dengan siapa Papa akan menjodohkan aku? Kenapa kita tidak membicarakan ini secara pribadi saja?" tanya Ry keberatan karena tak ingin berdebat dengan papanya di depan orang lain yang terasa tidak sopan baginya.
"Karena kami akan menjodohkan kamu dengan Flo," ujar Brent hingga membuat Ry tak bisa berkata-kata.
Flo yang tak kalah terkejutnya seketika langsung tersedak sebab ia sedang minum saat mendengar penuturan Brent. Sejak tadi ia sudah tak nyaman mendengar perdebatan itu.
"Tapi keputusan apakah ia akan menerima perjodohan ini atau tidak itu tergantung padanya."
Flo semakin terbatuk-batuk mendengarnya karena tak tahu kenapa semua itu dibebankan padanya hingga Aura terus mengusap punggung putrinya. Walau akhirnya ia memahami jika mereka tak ingin memaksanya dan ingin memberikannya pilihan.
"Kami akan memberikan kalian waktu untuk bicara berdua dan jika kalian sudah selesai, kalian bisa menemui kami kembali di ruang tamu," ujar Brent dan kemudian mereka semua keluar hingga tinggal Flo dan Ry berdua di sana.
Flo bangun dari duduknya dan berjalan mondar mandir di sana.
"Bisakah kamu tidak seperti setrikaan yang terus mondar mandir?"
Flo seketika berhenti dan menatap pada Ry kembali dan dirinya menyesal melakukannya sebab hal itu kembali membuatnya takut pada laki-laki itu.
"Kenapa, Kakak tidak menolaknya saja?" tanya Flo memberanikan diri.
"Semuanya sudah jelas dan kamu sudah mendengarnya sendiri tadi jika aku tak bisa menolak untuk menikah atau aku harus terus tinggal di sini."
"Apa sesungguhnya Kakak ingin menikah?"
"Tentu saja tidak jika aku punya pilihan dan yang harus kamu lakukan hanyalah menjawab ya atau tidak. Apa susahnya sih?"
"Kalau begitu aku akan mengatakan tidak."
"Apa kamu sudah gila?! Dasar gadis tak tahu terima kasih!"
"Maksud Kakak apa?" tanya Flo meski takut tapi ia merasa sedikit kesal dengan apa yang Ry katakan.
"Apa kamu lupa hutang budimu pada keluargaku?!"
"Lalu apa hubungannya rasa terima kasihku dengan pernikahan di antara kita berdua?" tanya Flo gusar.
"Hubungannya adalah ini saatnya kamu untuk membalasnya!"
"Aku memang berhutang budi pada Mama dan Pak Brent tapi aku tak berhutang pada Kak Ry dan sepertinya di sini yang paling berkepentingan adalah Kakak," ujar Flo mengangkat dagunya menantang laki-laki di hadapannya yang ia tahu sangat gusar saat ini terlihat dari rona gelap di pipinya.
Dirinya kembali ketakutan saat wajah marah laki-laki itu berubah menjadi dingin kembali. Dia menatap Flo tajam yang semakin membuatnya begitu takut saat ini. Ingin Flo menundukkan tatapannya tapi entah kenapa ia merasa tak sanggup melakukannya.
Flo berjalan mundur saat Ry melangkah menghampirinya.
"Kak Ry, mau apa?" cicit Flo begitu gugup.
Habislah kamu Flo, manusia kutub kamu lawan, gerutu suara hatinya.
Hingga dirinya terjebak di antara rak buku dan tubuh Ry yang berada beberapa langkah dari hadapannya.
"Apa kamu tahu jika Mama sangat menyayangimu?" tanyanya pelan berbisik di hadapan Flo.
"Ya," jawabnya juga pelan tak mampu memalingkan wajahnya dari Ry yang begitu dekat padanya.
"Jadi jika kamu menolak perjodohan ini maka kamu akan menyakiti hati orang tua kita terutama Mama karena ia begitu ingin kamu menjadi putrinya," ucap Ry kembali.
Ry kemudian menjauh dari Flo agar ia bisa memikirkan ucapannya dan Flo merasa akhirnya ia bisa bernapas kembali.
"Kamu tentu juga memiliki keuntungan jika pindah ke sana karena kamu bisa melanjutkan kuliah di sana dan apa pun yang kamu impikan akan lebih mudah tercapai. Seperti yang kamu tahu aku sama tak inginnya sepertimu dengan pernikahan ini. Jadi bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"
"Apa?" tanya Flo.
"Aku tak ingin terikat pada seorang istri hingga kebebasanku akan hilang dan bahkan mungkin kehadiranmu hanya akan menjadi gangguan saja jadi pernikahan kita hanya sekedar status saja dan tidak lebih. Kamu bebas melakukan apapun di sana dan begitu juga dengan aku. Jadi apa kamu sepakat?"
"Sepertinya di sini Kakak yang sudah gila! Membicarakan sebuah pernikahan seolah hanya transaksi bisnis saja."
Ry mengeretakan mulutnya geram akan kelancangan gadis itu. "Jika kamu menolak pernikahan itu maka aku pastikan kamu akan menerima akibatnya. Jadi sebaiknya kamu pikirkan dengan serius sebelum memberikan jawaban keputusan apa yang akan kamu ambil," ujar Ry dan melangkah pergi dari sana meninggalkan Flo memikirkan semuanya.
Flo hanya bisa melangkah dengan gontai menuju kursi saat ditinggalkan sendirian. Ia mencoba memikirkan apa keputusan yang akan diambilnya tapi ia terlalu shock untuk memikirkannya sekarang juga. Apalagi saat mengingat ancaman Ry padanya.
Ia kemudian pergi ke ruang tamu dan seketika semua orang menatap padanya menantikan jawabannya. Bahkan ia bisa merasakan jika Ry juga menatapnya dengan tajam saat ini tapi dirinya memilih tak mau menatapnya sebab mungkin kali ini dia akan pingsan di sana jika mendapatkan tatapan lagi dari laki-laki itu.
"Bolehkah aku menjawabnya tiga hari lagi?" tanyanya pelan.
"Baiklah," jawab Brent.
Setelah itu mereka pamit pulang dan sepanjang perjalanan Flo hanya bungkam tak bicara karena masih begitu terkejut dengan apa yang sudah terjadi.
***
Jangan lupa klik love & komentya jika suka dan kalian juga akan mendapatkan notifikasi saat saya update new part. Thx ^^