95~ Si Paling Tidak Sabar

1206 Words

"Putri tolong jaga Dion, saya mau ke depan dulu," ujar Mita ketika berhasil membaringkan Dion yang tertidur setelah lelah menangis. "Baik, Mbak," jawab Putri, mengangguk. "Tolong pinjam gunting dong, Put." "Gunting?" "Iya." "Buat apa, Mbak?" tanya Putri, menatap khawatir. Mita terkekeh. "Kamu tenang aja. Aku masih waras. Aku cuma butuh buat potong rambut itu perempuan sedikit buat tes DNA sekali lagi. Aku curiga hasil kemarin itu rekayasa. Apalagi dia yang nentuin sendiri rumah sakitnya. Bukan Suudzon, cuma ya kita harus jaga-jaga aja." "Jangan bawa gunting, Mbak. Takutnya dia refleks dan malah bahaya buat Mbaknya lho." "Hem ... iya juga sih. Ya udah lah, lihat nanti aja. Aku ke depan dulu. Tolong kamu jagain Dion." "Iya, Mbak." "Ibu mana?" "Di depan." Mita hanya mengangguk kem

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD