Aku kembali menyuap siomay yang sejak 15 menit tadi ada di mejaku. Sedangkan mataku fokus memerhatikan Fathan yang sejak setengah jam yang lalu tidak membuka mulutnya. Suatu keajaiban yang sangat jarang terjadi. Entah ada apa dengan setan satu itu. "Lo lagi sariawan?" tanyaku kalem kemudian menyeruput jus jerukku. Fathan masih bergeming sembari menatap dalam ponselnya. "Woy!" teriakku sembari menggebrak meja. Lama-lama aku kesal juga menatapnya yang sok diam seperti itu. "Lo kenapa sih? Sariawan? Atau nahan BAB?" Fathan masih diam. Masa bodoh! Aku lapar. Lebih baik menghabiskan siomay lezat ini kemudian baru mengurusi setan yang mendadak tenang itu. Padahal kemarin dia masih baik-baik saja bahkan masih bertingkah menyebalkan dengan menertawakanku yang sedang jerawatan. Omong-omong je

