bc

My Ex Husband

book_age12+
detail_authorizedAUTHORIZED
271
FOLLOW
1.1K
READ
billionaire
like
intro-logo
Blurb

Dulunya mereka adalah sepasang namun mereka berpisah karena sesuatu hal... Mungkinkah keduanya bisa bersatu kembali dan menghancurkannya tembok pemisah itu???

chap-preview
Free preview
1
Aku bangun dari tidurnya dengan mata dan nyawa yang masih setengah alias belum kumpul semuanya. Kalau saja pagi ini tidak ada pertemuan dengan Ayah untuk membahas masalah restoran maka aku malas bangun. Lebih baik tidur, menikmati empuknya bantal dan ranjang besar ini.  Ayahku itu keras, tegas dan baik hati tapi kadang juga ngeselin. Padahal beliau tahu kalau anaknya yang tampan dan disukai banyak wanita ini baru saja pulang dari Paris harusnya dimanja-manja dulu atau diberikan waktu satu minggu lah untuk menikmati dan beradaptasi dengan udara tanah air, ini malah langsung disuruh megurus Restoran milik Bunda.  Jauh-jauh hari aku sudah menolak Ayah yang memintaku untuk memegang salah satu perusahaan keluarga dengan kabur ke Paris untuk bekerja di salah satu Restoran sebagai koki. Ternyata kebebasanku tak berlangsung lama, dua tahun di sana Ayah kembali mencari keberadaanku dan menuntutku untuk segera pulang. Di sinilah akhir pendaratan yang sesungguhnya yaitu di Restoran milik Bundaku tersayang.  Drttt....  Getar hape ku. Aku mendesah pasrah kala melihat nama Bundaku tercinta yang tertera di dalam layar. Semalaman aku sudah mengabaikannya, maka pagi ini aku tak bisa mengabaikan Bunda lagi.  "Iya Bun, kenapa ?" Tanyaku malas.  "Dasara anak durhaka kamu ya! Di mana kamu sekarang Stef, pulang bukannya langsung ke rumah malahan ini nggak tahu dimana!!!" Cecar Bunda. Aku tahu jika Bunda marah karena aku tak langsung pulang ke rumah melainkan mendarat di apartemen. Apartemen yang Bunda belikan saat aku duduk di bangku SMA. Dulu apartemen ini adalah markas untuk aku dan teman-teman ngumpul.  "Apartemen Bundaku sayangggggg...."  "Pulang atau apartemen itu Bunda jual, Stefan Putra William!."  "Oke Bun, nanti Mahkota Bunda yang ganteng dan rupawan ini akan pulang, tapi setelah anak tampan ini bertemu dengan Ayah dulu ya Bun!"        "Oke sayang, Bunda sudah kengen sama kamuu.." Rengek Bunda dengan nada memelasnya. Aku yakin wajah Bunda saat ini sedang dibuat seperti muka orang yang minta belas kasian, itulah Bundaku kalau sudah memiliki keinginan tinggi.  "Love you Bun.."  "Love you sayang..."  Aku tersenyum sambil memandang gambar dalam wallpaper hapeku, di sana ada gambar Bundaku yang paling cantik dan juga menggemaskan karena memang Bunda tipe wanita yang manja luar biasa tapi juga bisa menjadi sosok istri dan Bunda yang luar biasa untuk anak-anaknya.  Aku bangkit dari kemalasanku, masuk ke kemar mandi untuk mengguyur badan supaya segar. Lama rasanya aku tak merasakan udara bahkan air asli Indonesia karena cukup lama aku meninggalkan negara ini. Jika di ingat-ingat aku tak ingin kembali ke sini. Aku tak ingin memori yang sudah aku lupakan kembali terkuak kepermukaan, meski nyatanya seperti itu adanya.  Aku ingin sekali menghancurkan apapun untuk melepas semua kekesalanku, jika dulu aku bebas untuk melakukan semua sekarang tidak. Aku tak mungkin membuka sisi kejamku di depan dia. Dia yang selama ini menemani aku kabur, dia yang selama ini menguatkan aku, dia yang selalu membuat aku kuat dan bertahan hingga sekarang. Jika tak ada dia maka entah bagaimana jadinya aku.  Dia seperti cahaya dalam malam, dia jugalah nafas hidupku. Dia pembangkit semangat di setiap langkah kakiku. Oleh karenanya aku sangat menyayangi dia, aku bahkan rela menukar nyawa ini untuk dia.  Sudah dua hari ini aku tak bertemu dengan dirinya. Selama dua hari ini kami terpisah, membuat aku begitu merindukannya. Biasanya setiap pagi suara rengekannya akan menggema di seluruh ruangan dan membangunkanku yang terlalu malas bangun pagi.  Maka nanti aku harus menjemputnya dan mempertemukan dia dengan orangtuaku. Aku yakin, ayah dan bunda pasti bahagia bisa bertemu dengan cahaya hidupku itu.  Aku segera bersiap karena sudah terlambat lima belas menit. Bisa-bisa aku di cincang sama Ayah nanti.  Aku menaki mobilku tersayang yang baru dikirim oleh sopir dari rumah kemarin malam. Aku sengaja diam-diam meminta pak Beni mengantar mobilku, tapi mungkin bunda menyadarinya pagi tadi sehingga aksi ngumpet yang aku jalankan harus ketahuan.  Mobilku membelah jalanan Yogyakarta, melalui jalan Malioboro, Tugu Jogja kemudian sampailah Aku di depan Restoran milik bunda. "BS" Adalah nama restoran yang bunda bikin. Restoran ini bertingkat tiga. Dua tingkat digunakan untuk memanjakan pengunjung, satu tingkat paling atas sebagai ruangan pemilik dan juga ruang rapat para karyawan.  Aku melirik penampilan santaiku, membenahi rambutku yang sudah lumayan panjang siapa tahu ada cewek cantik di dalam dana, lumayan bisa diajak jalan. Sudah lama aku tak jalan dengan wanita Indonesia selain kakakku tersayang yang kadang nengok adiknya di Paris. Wanita buke bagiku biasa aja nggak ada cantiknya, justru membosankan karena hampir semuanya sama.  Aku memarkirkan mobil di parkiran khusus kemudian keluar menuju pintu utama. Aku menganggukkan kepala saat beberapa karyawan nenyapaku, nereka pasti sudah tahu aku siapa karena di restoran ini tak sepi dari foto-foto keluarga yang sengaja bunda pasang.  "Emm.... Pa.... E tuan-" Panggil salah satu pegawai wanita. Sepertinya dia bingung mau memanggil aku apa. Dan aku tidak gila hormat, jadi tidak usah terlalu formal dalam memanggilku.  "Panggil mas saja, aku belum setua itu."  "Tapi.... " Katanya ragu. Aku lihat nama yang terpampang dari name tagnya. Namanya Karin, anaknya terlihat masih polos. Sepertinya dia baru lulus SMA.  "Tenang saja, nggak akan ada yang marahin."  "Mas Stefan sudah di tunggu bapak sama ibu di ruangan."  "Oke, aku kesana. Layani para pengunjung dengan baik."  ***  "Sakit, bun....!" protesku.  Gila, sumpah ini sakit banget. Jambakan bunda dan pukulan bunda sukses buat kepala aku muter, perut aku mual.  "Makanya kalau di suruh pulang itu langsung pulang. Mana ini sendiri lagi, mana jagoan bunda satunya!."  "Aku tuker sama uang biar bisa pulang ke sini. "  "Stefan....!." Geram bunda padaku.  Salah siapa suruh aku balik ke sini. Paris-Yogja butuh uang banyak apalagi harus kirim barang pula. Aku kan butuh modal buat pulang.  "Awas ya kalau nanti kamu pulang ke rumah sendirian. Bunda cincang kamu, Stefan."  "Udah bun, kapan nih ayah ngomongnya sama anak kita kalau bunda marahin dia terus. Dia udah harua aktif hari ini juga, ayah juga harus ngantor. "  "Tapi yah, " Bundaku merengek seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.  "Tadi bunda janji apa sama ayah? Bunda cuma mau ketemu Stefan kan bukan buat marahin dia atau mukukin dia?." Terang Ayah, ini yang aki suka dari Ayah. Beliau tahu kapan harua tegas, kapan becanda dan kapan saatnya ayah mengabulkan rengekan istri dan anak-anaknya.  "Iya .... Tapi Bunda kesel yah,"  "Ayah udah nggak ada waktu, bun. Ayah harus meeting dulu sama anak kesayangan bunda ini sebentar saja."  "Oke, bunda ngalah. Emang kalian berdua itu nyebelin!."  Bunda mengambil tas hitam di atas meja kerja dengan wajah tertekuk kemudian melangkah menuju pintu.  "Bunda mau kemana?." Tanya ku menggoda, aku tahu bunda pasti ngambek dan akan pulang. Nggak apa-apa kab basa-basi dulu sama bunda.  "Pulang. " Jawab bunda tegas.  Aku dan ayah salaing bertukar pandang.  "Perang dunia...!!" Ucapku dan Ayah berbarengan.  ***  "Ayah mau pulang atau ke kantor?." Tanyaku setelah kita selesai rapat berdua.  "Ke kantor, ayah benar-benar nggak bisa absen kali ini." Ucap ayah lemas. Aku tahu jika bunda adalah sumber ketidak semangatan ayah.  "Biar aku yang baikin bunda. Ayah selesaikan masalah kantor dulu, cukup nanti ayah bawakan aku martabak telor saja semua pasti beres."  "Dasar, nggak pernah berubah kamu. "  "Habisnya aku kangen sama martabak telor depan kantor ayah."  "Oke, nanti ayah belikan. Ingat harus baikin bunda!"  "Siap kapten!. " Seruku tak mau kalah.  "Aku antar ayah ke depan, "  "Nggak usah, lebih baik kamu cek karyawan dan pelanggan. "  "Ya udah, kita turun bersama. "  Aku dan ayah menuruni tangga restoran menuju lantai satu dimana semua kegitan dalam restoran ini terlihat. Beberapa orang yang tak lain adalah karyawan restoran menundukkan kepala saat kami berpapasan dengan mereka.  "Kerja yang rajin Bagus, bekerja seperti biasa meski kali ini ada anak saya yang memimpin. Jangan merasa sungkan dengan dia, bimbing dia dan ingatkan ketika anak saya ini melakukan kesalahan." Pesan ayahku pada seseorang yang baru aku tahu namanya yaitu Bagus dan dia adalah tangan kanan bunda dan ayah selama ini.  "Baik bapak, akan saya usahakan. " Jawabnya dengan senyum. Aku ikut menepuk pundaknya untuk merilekskan tubuh Bagus, aku tahu jika dia sedikit takut saar mebatapku.  "Ayah pergi dulu, terimakasih sudah kembali ke sini Nak. "  "Iya ayah. " 

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Takdirku Menjadi Lelaki Kaya

read
4.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
203.2K
bc

TAKDIR KEDUA

read
26.4K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
188.4K
bc

Siap, Mas Bos!

read
11.1K
bc

My Secret Little Wife

read
92.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook