Alegria cukup terkejut karena Ziel tiba-tiba mengunjunginya. Alegria segera bersiap. Ketika beberapa pelayannya menyiapkan pakaian yang mewah, Alegria menolaknya. Ia meminta untuk dibawakan baju yang lebih sederhana.
Setelah mengenakan pakaian yang lebih sederhana, Alegria keluar menemui Ziel. Ziel memiliki rambut bewarna merah dan mata bewarna coklat. Mata itu menatap Alegria menyelidik dari atas ke bawah.
“Alegria... Kamu terlihat berbeda.” kata Ziel.
“Mungkin itu karena kita sudah lama tidak bertemu.” balas Alegria yang kemudian mempersilahkan Ziel duduk.
“Aku penasaran kenapa kamu tidak datang ke pesta ulangtahunku?” tanyanya.
“Tidak ada yang datang ke acara pertunjukan Dary, aku sedikit kasihan jadi aku datang untuk mendukungnya.” jawab Alegria.
Ziel sedikit terkejut mendengarnya. Yang ia tau Alegria sangat menyukainya sehingga dia tidak akan memperdulikan hal lain. Tapi, Alegria berubah.
“Itu bagus.” katanya dengan tersenyum lembut.
Tak lama pelayan datang membawakan minum. Alegria mempersihlakan Ziel minum lalu meminum kopinya. Tak lama, suara panggilan dari Dary datang. Dary memeluk Alegria dan langsung menceritakan apa yang terjadi hari ini. Hari ini dia mendapat pujian yang bagus untuk pementasannya dan dia akan mementaskan ulang untu pekan depan. Ia meminta Alegria untuk datang lagi.
“Tentu aku akan datang. Bagaimana kalau Dary masuk sekarang dan makan siang?” tanya Alegria dengan tersenyum.
“Ria mau makan bersamaku?”
“Tentu.”
“Terimakasih Ria. Aku mencintaimu.” katanya.
“Ehm..” dehem Ziel.
Ziel cukup terkejut melihat interaksi anatara Alegria dan Dary. Dary yang melihat Ziel seketika tersadar. Ia baru tau kalau Alegria bertemu dengan laki-laki itu. Dary masih memeluk Alegria dan menatap Ziel tak suka. Seluruh orang di rumah ini lebih menyukai Ziel dibanding dirinya. Oleh karena itu, ia sangat membenci Ziel. Saat ini, hanya Alegria yang mulai peduli padanya. Apa Ziel berniat merebut Alegria darinya?
“Mendengar tuan muda Dominique mengundang Alegria untuk melihat pertunjukan saya juga menntikannya. Apa tuan muda berkenan mengundang saya juga?”
“Tidak.” jawabnya cepat. Pelukannya kepada Alegria semakin erat. “Ria aku lapar. Ayo kita makan.” ajaknya.
“Kalau begitu Dary bisa berganti baju dulu lalu meminta pelayan menyiapkan makan. Aku akan menyusul segera.”
Dary memajukan bibirnya. Seolah tak suka dengan perkataan Alegria. Alegria menyentuh pipi Dary lalu tersenyum. “Berikutnya aku yang akan menyiapkan makanan untuk Dary.”
Mata biru itu langsung membulat besar menatapnya. “Sungguh?”
“Kamu dapat menantikannya.”
“Aku akan menantikannya. Sampai jumpa Ria.” pamitnya yang kemudian langsung masuk kedalam.
Alegria meminta maaf atas sikap Dary yang kekanakan kepada Ziel. Ziel mengatakan tidak apa-apa. Tapi dia melihat Alegria aneh. Alegria terlihat berbeda. Dia sangat anggun saat ini. Tak hanya itu, sifat manja yang selalu memeluknya ketika bertemu kini sudah tidak ada lagi.
“Apa kau tidak mengundangku untuk makan?” tanya Ziel.
Alegria langsung menatapnya. Dalam hatinya ia sudah sangat ingin mengusir Ziel. Menatap orang yang selama ini mengabaikannya lalu menaruhnya didalam penjara hingga ia tewas. Alegria tidak tahan. Ia tidak suka duduk disini lagi. Ia berharap Deon segera datang lalu mengajaknya pergi dari sini.
“Maaf tuan, bukannya tidak ingin mengundang anda. Tapi nona sedang tidak enak badan. Oleh karena itu, mohon maaf jika nona harus segera masuk kedalam untuk istirahat.”
“Tidak enak badan?”
“Benar. Nona sempat mengalami kecelakaan hingga dirawat seminggu lamanya. Jadi tolong. Biarkan nona istirahat.” kata Deon lagi.
Ziel menatap Alegria khawatir. “Kenapa tidak bilang kalau kau sakit?” tanya Ziel.
“Tidak akan ada yang berubah meski aku bilang sakit Ziel. Kamu tidak akan pernah datang hanya untuk menjengekku. Kalau begitu, aku permisi.” Kata Alegria yang kemudian bangkit.
“Ah aku lupa. Selamat ulangtahun Ziel. Semoga Dewa selalu melindungimu. Aku akan mengirimkan hadiahku nanti.” katanya yang kemudian menunduk hormat. Alegria lalu berjalan pergi meninggalkan Ziel sendiri.
Ziel menatap punggung itu. Apa Alegria marah padanya karena tidak menjenguknya hingga perempuan itu bersikap dingin seperti ini padanya?? Ziel menggelengka kepalanya. Alegria pasti hanya akan ngambek sebentar setelah itu perempuan itu akan kembali lagi padanya.
Sementara itu, Alegria menatap Deon dengan tersenyum dan berterimakasih. Ia menghargai usaha Deon yang segera mengeluarkannya dari situasi yang sangat ia benci. “Untuk kedepannya tolong lakukan seperti itu.” bisik Alegria.
Deon menganguk. Alegria menuju meja makan. Sudah ada Dary yang menunggunya. Setelah itu, mereka pun makan bersama sembari bercerita.
****❤****
“Nona, hari ini anda harus bertemu dengan designer tersebut.” kata Deon.
Alegria menganguk. Ia lalu memakai gaun hitam mewahnya. Rambutnya ia biarkan tergerai dan hanya memakai jepit rambut dengan hiasan permata lapis lazuli.
Alegria menaiki mobil. Sampai ditempat tujuan. Mobil Alegria dilihat oleh seluruh orang. Mobil itu sangat mewah dan memiliki simbol Dominique. Mereka semua penasaran. Keluarga Dominique yang mana yang keluar mengunjungi toko baju. Karena seluruh keluarga besar seperti Dominique selalu datang memanggil Desainer tersebut ke rumah.
Alegria keluar dari mobil. Semua mata langsung menatap Alegria tanpa kedip. Alegria terlihat sangat cantik seperti rumor yang berebar. Kulitnya seputih salju dan selembut sutra. Matanya seindah permata Lapis lazuli dan rambutnya seindah langit malam. Bibirnya pink alami. Wajah Alegria tidak sedingin yang dibicarakan orang-orang. Dibanding dingin wajah itu terlihat sangat anggun. Alegria benar-benar wanita yang sangat memikat. Kecantikannya benar-benar seperti racun.
Masuk kedalam toko, seluruh orang disana menghormati Alegria. Alegria diam ia tetap berjalan masuk kedalam. Ia lalu duduk dan seorang Disigner mendatangi Alegria dengan menunjukan koleksi terbaiknya. Alegria memilih beberapa dan mulai melakukan pengukuran. Designer iti menatap Alegria tanpa kedip. Alegria benar-benar cantik seperti rumor yang beredar.
“Alegria..” panggil seseorang.
Alegria menoleh menatap orang yang menatapnya. “Ziel.”
“Kamu disini?” tanya Ziel yang kemudian mendekati Alegria.
“Iya.”
“Mau makan siang bersamaku?” tanya Ziel.
“Aku sangat ingin, tapi sayang sekali, aku harus menjemput Dary.”
“Kamu mirip pengasuh Dary.”
Alegria hanya tersenyum.
“Aku ikut.” kata Ziel kemudian.
Alegria menganguk. Ia tidak bisa melarang Ziel untuk tidak ikut. Bisa-bisa Ziel curiga terhadapnya nanti.