Selesai menjemput Dary di akedeminya, Ziel mengajakku dan Dary untuk makan bersama. Tapi, Dary dengan cepat menolaknya tegas. Sepertinya Dary sangat tidak menyukainya. Dary hanya ingin makan berdua denganku dan tidak ingin mengundang Ziel.
Aku pun meminta maaf kepada Ziel lalu pulang bersama dengan Dary dan Deon. Sepanjang jalan Dary bercerita tentang akademinya. Ia juga bertanya kepadaku kapan aku akan kembali ke Akademi untuk melanjutkan pendidikanku.
Aku ingat, dalam Novel Villaines and Cinderella Alegria sekolah di Akademi terbaik di negaraku. Disana juga tempat bertemunya aku dengan Reiner Ludwig. Orang yang membunuhku dengan Deon. Aku mengepalkan tanganku kuat. Hanya dengan ingat itu saja aku ingin marah. Deby Sialan. Padahal sudah mendapatkan Ziel tapi sampai akhir wanita rubah itu tetap mengejarku.
Tapi, jika aku pikir lagi, hal tersebut wajar saja ingat kelakuan bodoh yang pernah Alegria lakukan di novel tersebut.
Aku menutup mataku mengingat kejadian yang akan menimpaku di novel. Sebisa mungkin aku harus mengubah alurnya. Aku berhasil mengubah beberapa kejadian di novel ini.
Pertama, adegan mengamukku dengan Axel kakak keduaku. Aku berhasil tidak bertengkar dengannya. Di Novel aslinya aku bertengkar lalu mendapatkan hukuman yang berat dari Axel dan Ervin. Karena aku tidak bertengkar dengannya, Axel pasti akan berusaha seperti di novel untuk mengajakku berkelahi. Jadi, sebisa mungkin aku harus sabar. Karena kejadian itu juga, Alegria lebih memilih masuk akademi bersama Ziel.
Kejadian kedua yang bisa aku hindari adalah datang ke pesta ulangtahun Ziel dan menghindari Deby. Aku terhindar dari kejadian memalukan.
Kejadian berikutnya adalah, Pesta ulangtahun putri tunggal keluarga Delphi. Setelah itu, aku masuk kembali ke Akademi bersama Ziel dan Deby lalu bertemu si Reiner sialan itu.
“Kakak..,” panggil Dary.
“Ah ya,”
“Kakak kenapa melamun?”
“Aku tidak melamun. Aku hanya kepikiran, kapan pesta ulangtahun putri Delphi itu.”
“Besok nona.” jawab Deon.
“Apa?? Besok?” kagetku.
“Iya.”
“Sayang sekali, aku tidak bisa datang. Aku tidak punya gaun yang cantik.”
“Kalau gaun, anda telah mempersiapkannya. Kalau pun anda tidak suka, gaun yang harusnya anda kenakan di pesta tuan Ziel. Anda dapat mengenakannya.” saran Deon.
Aku terdiam mendengar saran Deon. Aku harus mencari akal agar tidak datang ke pesta tersebut. Tapi, sepertinya itu tidak mungkin. Ayahku pasti tidak akan mengizinkannya. Aku mendesah kasar.
***❤***
Aku tak asing dengan tempat ini. Ini dikamarku. Ah salah, kamar Alegria. Aku melihat Alegria yang tertidur menahan sakit, tak lama Deon datang dengan badan penuh luka lalu meminumkan sesuatu dimulut Alegria.
Tak lama, Ervin kakak pertama Alegria datang lalu menyeret Deon. Deon yang sudah dipenuhi luka mengambil pedang ditangannya.
“Beraninya seorang pelayan mengacukan pedang ke Majikannya!!” teriak Ervin marah.
“Anda bukan majikan saya! Majikan saya hanya Nona seorang. Meskipun anda putra tertua, Jika anda berani menyentuh tubuh nona meskipun sekali saya akan menebas tangan anda!” katanya penuh tekad.
Aku yang melihatnya bertariak. Aku melarangnya berkelahi. Tapi suaraku seolah tertahan. Deon tetap maju membunuh seluruh orang yang ada disana. Aku terkejut melihatnya. Aku tidak tahu kalau Deon mahir menggunakan senjata. Tak lama Axel datang dengan membawa pedangnya. Aku berteriak kepada Deon agar tidak melanjutkan pertarungannya. Axel adalah ksatria terbaik setelah Ziel di Barat. Deon tidak akan bisa mengimbanginya.
Aku berlari ke arah Deon membentangkan tanganku melarangnya untuk maju. Tapi, aku melihat cahaya hijau mengelilingi pedang dan tubuhnya. Dia langsung berlari menembusku. Aku menoleh kebelakang, Axel juga memiliki cahaya yang serupa tapi bewarna Biru.
Aku tidak ingat kejadian ini ada di novel. Ini kejadian apa?? Aku berusaha memikirkannya. Tapi tak ada petunjuk sama sekali.
Dor
Aku terlonjak. Aku melihat, Deon yang jatuh dengan memegangi perutnya. Ervin sialan itu menempak Deon. Aku langsung berlari ke arahnya dan memanggil namanya. Tapi Axel langsung memukulnya hingga dia tak sadarkan diri. Airmataku jatuh melihatnya, terlebih ketika aku mendengar kata yang diucapkan oleh Deon sebelum tak sadarkan diri.
“Nona, maafkan saya.”
Aku menatap kedepannku benci. Axel dan Ervin sialan. Aku langsung berlari ke arah mereka memukuli mereka.
“Dasar b******n!! Dasar pengecut curang!!” makiku.
Seorang pelayan masuk, dia langsung mengangkat tubuh Alegria dan memasukannya kedalam mobil. Aku mengikutinya. Aku penasaran kemana orang itu hendak membawa Alegria. Setelah 5 jam perjalanan, alangkah terkejutnya aku melihat Ervin menjualku ke seorang tua bangka. Aku ingat sekarang. Ini adalah kejadian sebelum aku mati.
Aku mengikuti mereka kembali ke rumah dan mencari Deon. Aku berlari ke penjara bawah tananh. Deon pasti di kurung disana. Melihatnya mendapat perawatan, aku langsung duduk disampingnya. Aku menunghuinya hingga dia selesai di obati dan sadar karena kedatangan Axel.
“Ervin menjual p*****r itu ke kakek-kakek m***m!” Kata Axel dengan senyum mengejek.
Dengan tatapan marah Deon langsung menggebrek sel tersebut. “Apa kau fikir tuan besar akan melepaskanmu??” teriak Deon emosi.
“Tentu saja, untuk apa dia peduli dengan si Jalang itu!!”
“Axel kembali!” perintah Ervin yang tiba-tiba ada dibelakang Alegria. Deon tertawa bak orang bodoh. “Kasian sekali.” ejek Deon.
“Kalian merasa iri karena nonaku memiliki mata biru dan rambut hitam dibanding kalian? Kenapa? Kalian takut tidak akan mendapat harta tuan besar? Begitu? Menyedihkan!”
Ervin marah. Ia langsung membuka penjara dan menghajar Deon ganas. Ervin lalu memberitahu Deon bahwa dia menjualku ke seorang kakek-kakek m***m. Deon menatap Ervin penuh kebencian. Ketika dia hendak menyerang Ervin, Axel langsung memukulnya dengan keras hingga Deon pingsan kembali.
Kedua saudara iblis ini... Aku benar-benar membencinya. Aku mengikuti mereka yang keluar, disana sudah ada keluarga besar Dominique berkumpul untuk makan bersama. Dari yang ku ingat, Novel memberitahuku bahwa, Alegria mengalami siksaan berbulan-bulan.
“Dimana Alegria?” tanya Erick dengan wajah dinginnya.
“Dia sedang pergi liburan bersama dengan Deon.” jawab Axel.
Erick diam. Ia lalu makan diikuti keluarga yang lainnya.
Aku tiba-tiba terlempar ke lorong waktu. Disana aku melihat Erick dengan wajah dinginnya seperti biasanya pergi ke penjara bawah. Melihat Deon ia langsung membuka penjara itu. Deon sujud di kaki Erick.
“Maaf tuan, saya gagal melindungi nona.” katanya.
“Iya, kamu gagal.” kata Erick.
“Maafkan saya.”
“Bawa Alegria pergi.” kata Erick.
“Ya?” Kagetnya.
“Aku akan menyuruh Ziel untuk memenjarakan Alegria. Setelah itu, bebaskan dia. Dan bawa dia pergi ke Utara.” perintah Erick.
“Baik.”
Setelah mengatakan itu Erick pergi meninggalkan Deon terkurung kembali. Deon tersenyum. Wajahnya penuh dengan ketenangan.
Aku menatapnya bingung, Di Novel hanya menjelaskan bahwa Deon adalah pelayan setia Alegria.
Aku lalu mengikuti Erick ayah Alegria. Erick bertemu dengan Ziel. Tanpa basa-basi Erick menyuruh Ziel untuk mencari keberadaan Alegria dan memenjarakannya. Tentu saja Ziel menolak.
“Sebenci-bencinya anda terhadap Alegria, Alegria adalah putri anda. Anda tidak seharusnya menyuruh saya untuk memenjarakan Alegria.” Kata Ziel.
“Apa aku terlihat begitu membenci putriku?” Tanya Erick. “Dia satu-satunya putri dari Dominique. Jika dia berambisi ingin memiliki Dominique, aku pasti akan memberikanya.” ujarnya pelan.
“Disaat aku masih hidup seperti ini, Ervin dengan berani menjual saudaranya sendiri. Selama aku masih hidup, aku harus melindunginya.”
Ziel lalu berdiri, ia akan melakukan permintaan Erick.
“Apa maksud anda dengan melindungi Alegria, anda akan memasukannya ke Penjara?”
“Aku akan menebusnya melalui Deon dan mengirimnya bersama Deon ke Utara.”
“Utara? Bukan ke Wilayah Tengah?” tanya Ziel terkejut.
“Wilayah Tengah hanya wilayah yang bebas pencurian. Tapi jika di Utara dia akan aman dibawah lindungan Raja Aldenbrug.”
“Anda memiliki koneksi dengan Raja Aldenbrug?”
“Ya.” Jawabnya.
Aku menatap Ziel setelah kepergian Erick Dominique. Tiba-tiba Deby datang dan bertanya apa yang mau dilakukan Erick disini. Ziel menjawabnya. Deby tersenyum senang lalu memeluk Ziel. Ia bersyukur karena Ziel mau menolong Alegria.
Dalam pelukannya aku dapat melihat dia tersenyum licik. “Dasar Ular!” makiku.
Ini menjelaskan kenapa waktu itu Deby bersama dengan Reiner.
Ziel lalu datang bersama dengan beberapa petugas keamanan menyerbu rumah dari orang kaya di Kota itu. Tapi sayangnya Ziel tidak dapat menemukannya. Aku ingat waktu itu aku berhasil kabur.
Ziel dan pasukannya mengejarnya Alegria. Setelah 2 jam pencarian Ziel menemukan Alegria dengan keadaan penuh luka.
Alegria memohon kepada Ziel untuk menyelamatkannya tapi Ziel membalas dengan sinis bahwa dia akan memenjarakan Alegria sampai Alegria mati.
Alegria ditahan, lalu dia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Aku menatap Alegria. Tatapannya sangat putus asa. Sepertinya dia juga sudah tidak peduli dengan hidupnya. Alegria hanya duduk diam dipenjara dengan menutup matanya. Sampai ia mendengar sel terbuka lalu menampilkan Axel.
Aku berniat mengejar Axel tapi tiba-tiba muncul putaran lorong membawaku ke Deon dan Erick.
Erick memberikan surat yang bersegel kerajaan utara. Sepertinya surat itu adalah izin untuk Deon dan Alegria memasuki wilayah Utara.
“Jaga Alegria.”
“Bahkan jika harus mengorbankan nyawa. Saya akan menjaganya.”
“Baik. Aku akan menyusul segera.” setelah mengatakan itu Erick pergi.
Lorong itu muncul kembali dan membawaku ke Penjara lagi. Deon tak menemukan Alegria disana. Tapi tiba-tiba ada perempuan ular itu lagi.
“Tuan Deon, a- Anda pasti bertanya kemana nona Alegria.”
Dengan sinis Deon bertanya kepada Deby.
“Nona... Tuan Ziel membawanya. Dia ingin menyiksa Nona Alegria dengan alasan memenjarakannya. Sa... Saya sudah menganggap nona Alegria sebagai sahabat saya. Saya tidak bisa melihat laki-laki yang saya cintai menyakiti nona-”
Tidak selesai Deby bicara Deon langsung berlari pergi.
“Tidak Deon. Jangan percaya terhadapnya!! Deon jangan pergi!” teriakku dengan menangis.
Aku menatap benci Deby. Lalu muncul sesosok orang kembali. Aku menatapnya terkejut orang itu. Ervin.
“Benar kan apa yang saya katakan. Tuan Erick berniat memberikan warisannya tersebut ke nona Alegria.”
Aku gemetar melihatnya. Ini semua ulah Deby.
Deby memeluk Ervin.
“Sejak awal aku tau kalau kursi keluargaku akan jatuh ke tangan Alegria atau Dary. Aku tidak peduli warisan itu akan jatuh ke Dary atau Alegria. Tapi, sekarang aku tau. Sejak awal ternyata ayahku hanya ingin menjadikan Alegria sebagai pewarisnya. Melihat sifat Alegria yang tidak peduli dengan keluarga, Dominique pasti akan hancur.”
“Menurutku tradisi keluarga Dominique yang aneh. Kenapa pewarisnya ditentukan dari warna rambut dan mata. Seharusnya warisan itu jatuh tangan ditangan orang kompeten seperti Ervin. Menurutku Ervin harus menghentikan Alegria agar tidak menghancurkan keluarga.”
“Itu benar... Aku harus menghentikan Alegria. Cara satu-satunya, adalah membunuh Alegria.” Ucapnya.
“Tidak. Ervin... Kau tidak boleh termakan omongan Deby!!” teriakku sembari meraih Ervin. Tapi tiba-tiba lorong itu kembali dan membawaku ke tempat Deon dan Ziel yang sedang bertarung.
“Kembalikan Nonaku!” kata Deon.
Ziel yang tidak mengerti langsung menjawab bahwa Alegria ada di penjara. Deon tidak percaya. Ia menyerang Ziel kembali. Ziel menangkis setangannya. Deon tanpa segan-segan mengeluarkan cahaya hijau itu kembali dan langsung menusuk Ziel tepat dijantungnya. Ziel kaget. Ia tak percaya bahwa Deon akan menusuknya.
“Aku tidak tau kau bisa menggunakan aura seperti itu, uhk ... Sepertinya aku meremehkanmu!”
“Saya seorang Pembunuh Bayaran. Jadi, katakan dimana nona berada?”
“Aku tidak tau dimana Alegria.”
“Kau- Kekasihmu sendiri yang bilang bahwa kau membawa Nona Alegria!”
“Kekasihku?? Ah, Deby??”
“Iya.”
“Uhk, Jangan bercanda!! Mana mungkin Deby berbohong padamu!”
Deon tersentak mendengarnya. Sepertinya ia tau, bahwa ia ditipu oleh perempuan itu. Deon mencari Alegria. Tapi ia tidak menemukannya. Deon lalu mengirim sebuah pesan ke Erick bahwa dia tidak menemukan Alegria. Dia mulai mencari kembali Alegri tapi sampai 5 hari, Deon tidak menemukannya.
Erick lalu mengatakan bahwa ia curiga dengan Axel dan menyuruh Deon mengikuti Axel. Deon sendiri lebih memilih mengambil anting milik Alegria. Dengan Anting itu ia menuju sebuah guild, disana ia meminta dicarikan Alegria. Guild itu mulai memainkan sihirnya menggunkan Anting Alegria. Deon melihat bahwa Alegria disiksa oleh Axel.
Deon langsung pergi dan mencari Axel. Dugaan Erick benar. Ia lalu mengikuti Axel.
Deon bertarung mati-matian hingga ia bisa menyelamatkan Alegria.
Aku hendak mengikuti Deon tapi putaran itu membawaku ke rumah yang asing. Disana aku melihat Deby menangis memeluk Reiner. Aku menatapnya marah. Lagi-lagi perempuan itu menggoda Reiner dan berkata bahwa Ziel mencampakannya dan lebih memilih Alegria.
Reiner memeluk Deby dan berkata bahwa ia akan segera membunuh Alegria untuknya. Keluarga Reiner terkenal dengan sihirnya. Ia membuka portal teleportasi. Portal itu langsung membawa Reiner didepan gubuk. Reiner mampu mendengar sebuah suara. Dia langsung membukanya dan menembaki Deon berkali-kali.
Aku berteriak dan menangis, tapi tiba-tiba lorong membawaku kembali ke kediaman yang tak asing. Ini rumah Alegria. Aku melihat Erick menampar Ervin dan Axel.
“Membunuh saudara kalian sendiri... Itu perbuatan tercela!”
Tiba-tiba seluruh gambar hilang. Dan berganti ke sebuah tebing. Aku melihat laki-laki itu lagi bersama iblis wanita itu. Aku mencoba mendekatinya tapi tidak bisa. Seperti ada dinding besar yang menghalangi.
“Selanjutnya kau pasti tau kan kehancuran Dominique.” katanya. “Erick Miller Dominique sangat mencintai Alegria Millian Dominique. Dia dirundung kesedihan putrinya meninggal dengan tragis. Selain itu, kau pasti tau...,”
“Yah, Jasadnya tidak ditemukan.” lanjut laki-laki itu.
“Jiwanya sudah bereingkarnasi. Aku tidak bisa memutar waktu untuknya.”
“Bukannya kau berkata kalau kau akan memutar waktu untukku?”
“Jika jiwanya belum bereingkanasi. Alegria sudah melakukan reingkarnasi. Itu susah.”
“Apa tidak ada cara?”
“Ada. Bawakan jasad Alegria dan batu sihir Noir milik keluarga Dominique.”
“Itu...”
“Kalau kau bisa membawanya kesini. Aku bisa mengulang waktu untuk Alegria.” jawab Iblis itu.