bc

Past Future

book_age18+
511
FOLLOW
1.5K
READ
revenge
independent
sporty
heir/heiress
twisted
sweet
bxg
humorous
bold
campus
like
intro-logo
Blurb

Bagi Daniella kehidupannya yang sekarang sudah sangat memuaskan. Dikelilingi keluarga dan sahabatnya yang menyayanginya, bisa berkuliah di jurusan yang dia inginkan, kehidupan perkualiahan yang normal dan damai. Keinginannya dirusak karena masa lalu ibunya menghampiri dan hampir membuat mereka hancur berantakan. Beruntung ibunya dan tantenya dapat menyelesaikan seluruh masalah tersebut dengan baik sehingga kehidupan mereka kembali tentram.

Apa yang terjadi pada mereka saat kebenaran terungkap?

Apa Daniella akan membenci Jason?

Apa Jason akan terpuruk karena tau cintanya tidak akan pernah terwujud?

Apa Daniel akan memaafkan ayah kandungnya saat tau ayah kandungnya adalah sumber dari segala masalah?

Apa yang akan dilakukan Michael saat tau kejadian yang sebenarnya?

Cover : CANVA.

chap-preview
Free preview
AWAL KISAH
Daniella menghela nafas panjang untuk yang kesekian kalinya. Apalagi kalau bukan karena Jason Evans. Pemuda itu kerap kali menganggu Daniella dengan gombalan-gombalan norak yang bisa di dengar seluruh penghuni kampus. Sekarang ini pun Jason sedang bertanya hal-hal norak seputar kencan yang didengar oleh beberapa orang adik tingkat dan kakak tingkat Daniella dengan seksama dan antusias di lobi lantai tiga-tempat anak-anak jurusan hukum biasa duduk bersantai diwaktu kosong disela pergantian mata kuliah-padahal Daniella yang mendengarnya dari dekat saja muak mendengar gombalan norak dari Jason. Seharusnya Daniella tau kalau pertemuannya dengan Jason di perpustakaan saat itu adalah awal dari segala malapetaka berbentuk pemuda yang pikirannya penuh dengan gombalan norak. “Udah selesai, Kak Jason?” sindir Daniella dengan wajah juteknya yang biasa ditunjukkan untuk Jason. Jason tertawa kecil, “Yang ada dalam kamus gombalan aku hari ini belum aku keluarkan semua loh, Daniella.” Daniella memutar matanya jengah, “Please banget enggak usah diterusin, Kak Jason.” “Sama-sama, Daniella,” Jason tertawa lagi, “aku lapar nih, makan siang bareng yuk?” “No, thanks. Aku udah makan sama Erland tadi.” “Oh, begitu. Ya udah, aku enggak jadi laper deh.” Daniella hanya mendengus kesal menanggapi perkataan Jason. Dalam hatinya Daniella mengomel karena merasa seniornya yang satu ini selalu saja bisa membuat Daniella tidak bisa berkata-kata lagi. “Pulang bareng aku ya hari ini? Kamu tinggal satu mata kuliah lagi kan?” “Aku bisa pulang sendiri, Kak Jason!” “Aku antar saja, enggak apa-apa kok. Lagian rumah kita searah loh.” “Sok tau!” gumam Daniella kesal. Daniella berpikir kakak seniornya satu ini memang tidak peka kalau Daniella tidak suka berada bersamanya lama-lama atau memang sengaja? Jason yang mendengar gumaman Daniella menjawab dengan percaya diri seraya melirik juniornya yang lain, yang duduk di sebelah Daniella, “Tau dong, aku kan tanya sama Erland.” Daniella langsung memoloti Erland ganas. Sementara itu, Erland yang merasa mendadak masuk dalam pembicaraan kedua orang di sampingnya itu hanya bisa nyengir lebar dan berbisik meminta maaf kepada Daniella. “Jangan salahin Erland, aku kok yang maksa dia kasih tau tempat tinggal kamu.” “Itu memang sudah aku duga, sih. Kak Jason pasti maksa Erland.” “Kamu tau banget sih tentang aku.” Jason terkekeh senang. Daniella mencibir, “Itu sama sekali bukan pujian tau.” “Ayolah pulang sama—“ Perkataan Jason terpotong oleh dering ponsel Daniella. Nada dering khusus itu membuat Daniella tau bahwa mamanya lah yang menelpon. "Halo?" "Kamu masih lama, sayang?" "Masih ada satu mata kuliah lagi nanti jam satu siang, selesainya jam tiga. Kenapa memangnya?" "Enggak apa-apa, cuma nanya aja. Ada Aunty Lila di rumah." "Oh iya? Kapan aunty datang?" "Katanya Aunty Lila tiba kemarin malam. Sehabis selesai kuliah langsung pulang ya? Aunty Lila bilang dia kangen sama kamu." "Oke, Mama!" Daniella menutup telepon dengan hati senang. Aunty-nya yang sangat lama tidak Daniella jumpai, akhirnya datang juga ke Jakarta. Kalau tidak salah terakhir bertemu adalah saat hari kelulusan sekolah menengah pertamanya. Selama ini Daniella dan keluarganya hanya berhubungan melalui video call dengan Lilia. “Siapa tuh yang datang? Kamu seneng banget.” Daniella kembali cemberut, dia melupakan mahluk bernama Jason yang sedang berada di dekatnya saat bertelepon dengan mamanya tadi. “Mau tau saja!” ujar Daniella ketus. “Huh, aku sedih loh kamu bilang begitu,” ucap Jason dengan memasang raut wajah memelas ke arah Daniella. “Enggak usah pura-pura sedih deh, kak. Enggak mempan sama aku.” Jason mendesah sedih, “Kalau kamu enggak mau pulang sama aku, aku pulang aja deh. Lagian ada yang nungguin aku juga. Mau tau enggak siapa?” “Aku enggak mau tau, Kak Jason!” “Duh, cemburu ya?” “No way!” “Awas nanti jadi yes way," Jason mengambil tas ranselnya dan memasangnya di sebelah pundaknya, “sampai ketemu lagi besok, Daniella sayang.” “Mudah-mudah enggak ketemu lagi besok!” gumam Daniella pelan, mengabaikan Jason yang berjalan menjauh dari pandangannya. Begitu Jason pergi menjauh, kini giliran Erland yang mendekat ke arah Daniella. Erland bertanya pada Daniella, apa yang dikatakan ibu sahabatnya itu sampai dia begitu gembira. “Aunty aku datang ke rumah. Udah lama aunty gak pulang ke Indonesia, jadinya aku harus segera pulang setelah selesai kuliah.” “Oh, begitu. Jadi, kamu langsung pulang hari ini begitu selesai kuliah dong?" "Iya dong, tentu saja aku akan langsung pulang ke rumah begitu kuliah selesai hari ini." "Kamu bawa mobil?” “Enggak, jadi nanti aku akan pulang naik taxi online.” “Hm, bagaimana kalau kamu nanti pulang bareng aku?” “Enggak usah, Lan. Kamu kan juga ditunggu sama Cindy di rumah. Belakangan ini kita sibuk mengerjakan tugas kuliah, adik kamu pasti sebel dianggurin melulu.” “Kalau sama Cindy aku yang digangguin terus sama dia tau. Anak kecil tapi tenaganya enggak habis-habis, heran aku,” kata Erland lalu tertawa. Daniella pun jadi ikut tertawa, “Namanya juga anak-anak. Staminanya jelas beda sama kita yang udah hampir jadi orang dewasa.” “Hampir?” “Iyalah hampir. Umur segini aku masih pantes disebut anak gadis tau.” “Iya deh,” Erland terkekeh, “kalau gitu aku masuk kelas duluan ya, pak Imam enggak noleransi mahasiswa yang telat walau cuma beberapa detik aja.” “Ya udah sana duluan saja, aku mau tunggu Maria datang baru masuk sama dia. Dia lagi naik lift katanya.” “Lantai 3 aja naik lift si tuan puteri.” “Kalau Maria tau kamu bicara begitu, nanti kamu dimarahin loh!” “Ih, takut sama si galak,” ucap Erland berpura-pura takut lalu ia tertawa. “Ya udah, sana kamu duluan aja masuk kelasnya,” Daniella bangkit berdiri, lalu memasang tali tas ke pundaknya, dan berjalan sedikit menuju arah lift. Di kejauhan Daniella mendengar suara Erland berkata, “Jangan lupa sebentar lagi masuk kelas, kalau Maria lama, tinggalin aja!” Tidak lama kemudian pintu lift terbuka, Maria muncul dari balik pintu lift dengan senyuman yang lebar. “Lega deh enggak telat.” Kalimat itulah yang menjadi sapaan Maria pada Daniella. Maria lalu mengajak Daniella untuk cepat masuk ke kelas mereka sambil mendengarkan laporan Daniella mengenai yang terjadi tadi sebelum kedatangannya. *** “Kenapa lagi? Digangguin lagi sama senior yang kata kamu tukang gombal itu?” Daniella manyun dan mengangguk saja menjawab pertanyaan Karina. “Bukannya kamu sudah menolak dia, Nak?" “Iya, aku memang sudah menolaknya, tapi ya lihat saja tuh tingkah lakunya. Setiap hari masih aja aku dipepet, digombalin.” “Ternyata ada juga ya yang naksir kamu,” ujar Daniel santai sambil memakan snack kacang kulit kesukaannya. Mendengar komentar kakak laki-lakinya, Daniella melempar bantal yang dipeluknya tadi ke Daniel. “Daniel! Sama adik sendiri kok gitu sih ngomongnya,” tegur Karina seraya memukul pelan lengan anak laki-lakinya itu. “Bercanda kali, Mama.” “Ngomong-ngomong, Daniella sayang,” Karina menatap Daniella dengan pandangan ingin tau, “nama senior yang naksir kamu itu siapa sih?” “Jason.” “Jason siapa?” “Jason—“ deringan pesan di ponselnya menginterupsi mereka. Daniella membaca pesan itu dan buru-buru berkata pada Karina. “Ah, ini Erland. Aku mau mengerjakan tugas kuliah dulu ya sama Erland dan Maria. Pakai video call messenger kok, Mama tenang aja, Daniella bakal duduk anteng di rumah. Nah, sekarang Daniella ke kamar dulu ya.” “Eh tunggu, kasih tau dulu dong namanya!” teriak Karina. Sayangnya Daniella tidak mendengar teriakan sang mama. “Kenapa sama namanya sih, Mama?” tanya Daniel. “Rasanya pernah dengar,” gumam Karina pelan. “Apa?” “Oh, enggak apa-apa. Mama cuma pingin tau aja.” “Tumben Mama kepo.” Karina tersenyum lalu menepuk pelan lengan puteranya, “Mama masuk kamar juga ya. Nanti kalau Papa pulang kasih tau aja kalau Mama di kamar.” “Oke, Mama. Good night.” “Good night, Daniel.” *** Karina mengambil ponselnya dan mencari kontak nama Lilia Handoko di messenger-nya. Walau baru tadi mereka semua bertemu, tetapi Karina tetap merasa harus mengkonfirmasi kecurigaan tidak bersadarnya pada Lilia. Entah mengapa nama Jason terdengar sangat familiar di telinga Karina. Karina yakin dia pernah mendengar nama itu dari kakak sepupunya, Lilia. Pesan Karina dibalas satu menit kemudian. "Ada apa, Karina?" "Ada yang mau aku tanyain sama Kak Lila." "Oke, tanya saja." "Aku merasa aku pernah mendengar nama Jason dari Kak Lila. Siapa dia, Kak?" Diujung telepon sana, Lilia merasa jantungnya berhenti berdetak sebentar. Benarkah aku pernah tidak sengaja menyebut nama Jason di hadapan Karina? Oh, astaga! "Hah? Kapan?" "Pernah! Waktu terakhir kali aku sama keluargaku bertemu kak Lila. Makan malam di hari kelulusan SMP Daniella. Aku ingat waktu itu kak Lila bergumam, “seandainya Jason bisa merasakan acara kelulusan dihadiri kedua orangtua” , kurang lebih begitu yang aku ingat." "Oh, benarkah? Kak Lila enggak sangka kalau kamu dengar." "Jadi?" Lilia memejamkan matanya membaca pesan Karina. Adik sepupunya itu memang selalu kekeuh kalau dia sudah yakin. Lilia juga lupa kalau Karina itu ingatannya sangat bagus. Sebenarnya aku bergumam sendiri seperti itu waktu itu karena memang aku sedikit kasihan karena mendengar perkataan Mikha, kalau saat acara kelulusan sekolah menengah pertamanya Jason terlihat agak sedih. Dan Mikha menganggap Jason pasti merasa sedih karena anak lain didampingin ayah dan ibunya sedangkan dia hanya didampingi ibunya. "Anak temannya Kak Lila. Kenapa tiba-tiba nanyain itu?" "Entah kenapa aku tiba-tiba kepikiran kalau..." "Kalau apa?" "Kalau mereka sekarang satu kampus?" "Memangnya ada kebetulan seperti itu? Kamu kebanyakan nonton drama, Dek." "Ya kali aja sih, kak Lila. Jason yang kak Lila bilang itu sekarang kuliah di mana?" "Kuliah di universitas swasta di Jakarta." "Jangan bilang dia kuliah di universitas T?" "Iya." "Jurusan hukum?" "Iya. Kenapa memangnya, Dek?" "Kalau-kalau Kak Lila lupa nih ya, Daniella kan juga kuliah di jurusan hukum di universitas T." Mata Lilia melebar sempurna. Ada kebetulan semacam ini? Astaga! "Terus Daniella sering cerita sama aku tentang seniornya yang namanya Jason." "Cerita apa Daniella tentang Jason? Nama lengkap senior Daniella itu siapa? Kan mungkin aja bukan orang yang sama." "Aku enggak tau. Tadi baru nanya, eh Daniella udah keburu masuk kamar, ada tugas kuliah. Dan tentang Jason itu, Daniella sering cerita sama aku kalau senior dia yang bernama Jason itu sering gangguin dia." "Apa?!" "Eh, tenang, Kak Lila. Bukan gangguin yang itu kok. Mirip gangguin yang ke arah kalau naksir lawan jenis gitu." "Daniella yang bilang sendiri? Yakin?" "Iya, Kak Lila. Barusan banget tuh kami bicarain itu. Karena namanya Jason, entah kenapa tiba-tiba aku kepikiran sama nama Jason yang pernah Kak Lila sebut. Tapi seperti yang Kak Lila bilang, mungkin aja bukan orang yang sama." "Benar sih itu. Ya sudah, coba saja kamu tanyakan dulu nama lengkap senior Daniella itu siapa. Kak Lila juga akan coba menanyakan ke teman kakak apa anaknya kenal dengan Daniella. Kalau memang benar itu anak teman kakak, Kak Lila akan minta teman kakak untuk menasehati anaknya agar tidak menganggu Daniella lagi." "Iya, Kak Lila. Makasih. Mudah-mudahan sih bukan orang yang sama ya. Agak enggak enak aku sebenarnya, tapi kasihan aja lihat Daniella marah-marah terus tiap abis digangguin. Bukan ganggu yang gimana sih, tapi tetap aja kasihan lihat Daniella begitu." "Iya, Kak Lila tau. Tenang aja dek. Ya sudah, sampai besok ya!" "Iya, Kak Lila. Selamat malam." Lilia mendesah berat. Kalau benar ternyata Jason yang Daniella maksud adalah anak Mikha dan ternyata Jason Evans yang itu menyukai Daniella, saudara tirinya sendiri? Ini benar-benar masalah besar! Lilia harus berbicara dengan Mikha secepatnya. "Mikha, ada yang ingin aku tanyakan. Bisa kita bertemu?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

My Secret Little Wife

read
100.0K
bc

Siap, Mas Bos!

read
14.1K
bc

Tentang Cinta Kita

read
191.4K
bc

Single Man vs Single Mom

read
97.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
207.1K
bc

Iblis penjajah Wanita

read
3.8K
bc

Suami Cacatku Ternyata Sultan

read
15.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook