Moza menatap kamar tidur yang luas itu dengan pandangan takjub. Meski di sisi lain dia ketakutan setengah mati. Apa yang akan dilakukan oleh lelaki yang menolongnya itu? Dia ditinggalkan begitu saja di ruangannya selama hampir satu jam. Pakaian yang dikenakannya juga membuat Moza tidak nyaman dan kedinginan karena AC yang terpasang cukup rendah suhunya. Ditambah dia tidak berani menyentuh barang di sekitarnya.
Hingga sepuluh menit kemudian, barulah terdengar suara pintu yang dibuka dari luar. Tak lama setelahnya, dua orang lelaki masuk. Orang yang mengenakan topeng dan seorang lagi adalah orang yang dipanggil 'Gio'. Moza hanya menatap keduanya sambil menyilangkan kedua tangannya di d**a. Dia menatap waspada, sampai keduanya terlihat berbicara sebentar dan orang yang bernama Gio itu pergi seraya memberikan sebuah paper bag pada lelaki yang menyelamatkannya.
"Moza, itu namamu 'kan?"
Lelaki yang tidak diketahui namanya itu, membuat Moza sedikit bingung dan tersentak, tapi setelah mengingat suaminya sempat memanggil namanya, Moza mengira lelaki itu tahu dari apa yang terjadi sebelumnya. "Y-ya, Tuan ...."
"Darren, panggil aku Darren."
Paper bag itu dijatuhkan ke lantai begitu saja, dan Darren segera duduk di samping Moza. Dari balik topeng yang dia kenakan, matanya memindai setiap jengkal tubuh Moza dari atas hingga bawah. Lingerie merah dan makeup yang mencolok serta rambut hitam yang tergerai panjang, membuat Moza terlihat berbeda dari sebelumnya. Darren tidak bisa mengedipkan matanya atau mengalihkan pandangan. Dia seorang lelaki normal yang tentu saja tertarik melihat wanita di depannya memiliki tubuh indah.
"Aku mengeluarkan uang seratus juta untuk menolongmu. Sekarang, apa yang bisa kaulakukan untukku?"
Moza dibuat kebingungan oleh pertanyaan itu. Dia sedikit kaget karena lelaki yang menolongnya itu menagihnya. Sayangnya, dia tidak punya apa pun untuk ditawarkan. Apa yang bisa dia berikan atas kebaikan hatinya? "A-aku, aku ...."
"Tidak punya uang?"
Moza menganggukkan kepalanya dengan cepat. Lalu tertunduk dan memilin jemari tangannya karena gugup. "A-aku tidak punya apa pun."
Darren mengernyit melihat sikap Moza yang penakut. Wanita itu, benar-benar polos atau hanya pura-pura? "Kalau begitu, kau harus menggunakan tubuhmu untuk melayaniku."
"Apa? A-aku harus melayani Tuan?"
"Darren."
"Tuan Darren, aku tidak—"
"Kenapa? Ada masalah? Itu tugasmu 'kan?" Darren bangkit dari duduknya dan mendorong Moza cukup kuat hingga jatuh terlentang. Matanya menatap tubuh di bawahnya tanpa ekspresi. Tangannya terulur hendak menyentuh paha mulus yang terbuka karena lingerie itu tersingkap. Namun Moza memekik dan berusaha menahannya.
"Aku tidak mau melakukannya. Jika Tuan izinkan, biarkan aku jadi pelayan Tuan saja."
"Pelayan? Bukankah ini termasuk melayaniku?" Darren menyingkirkan tangan Moza dan menyentuh paha wanita itu. Membuat Moza memberontak, tapi dia dengan cepat mengurungnya. Tentu saja, jerit histeris harus terdengar dan masuk ke dalam gendang telinganya. Sayangnya, reaksi Moza tidak membuatnya berhenti untuk melakukan apa yang dia inginkan. Tangannya kini dengan sengaja menyentuh permukaan wajah wanita itu dengan lembut dan perlahan. Turun hingga mencapai bibir.
Darren berhenti lama di sana. Dia tiba-tiba teringat dengan kejadian kemarin malam ketika wanita itu berlari, lalu jatuh dan mencium bibirnya. Meski itu tidak bisa dikatakan ciuman, tapi kejadian tersebut masih membekas dalam kepalanya. "Kau memiliki tubuh yang indah."
Moza tidak membalas perkataan Darren. Dia justru menangis dan menggeleng. Moza memegang tangan lelaki itu yang menyentuh dagunya. Sampai tanpa aba-aba, Darren mendekat dan mencium bibirnya. Posisinya sulit menolak. Moza tidak bisa mendorong tubuh Darren agar menjauh darinya. Apalagi saat lelaki itu mulai menaikkan roknya dan meraba pahanya. Hanya air mata yang terus mengalir tiada henti sejak tadi dan karena panik serta gugup, Moza tidak sengaja mengigit bibir Darren hingga berdarah.
Sontak saja tindakannya membuat lelaki itu menjauhkan diri dan mendesah kasar seraya mengusap bibirnya. Moza yang takut Darren marah, beringsut menjauh sembari memeluk erat tubuhnya. Namun di luar dugaan, tidak terlihat sama sekali Darren marah, lelaki itu justru menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum tipis. Kembali duduk di pinggir ranjang tanpa melepaskan topengnya.
"Kenapa kau menggigit bibirku?"
"Aku tidak sengaja. Maafkan aku." Kali ini, Moza tidak berani menatap Darren. Dia takut lelaki itu kembali menyerangnya.
"Apa kau benar sudah menikah? Kenapa kau juga menolakku?"
Moza pelan-pelan memberanikan diri menatap mata abu-abu itu dengan sisa air mata yang mengalir. "Aku bukan p*****r. Aku hanya seorang istri. Aku mencintai suamiku. Aku tidak bisa melayani lelaki lain selain dia."
"Kau mencintai suami seperti itu?" Mata Darren bergerak menelisik. Dia tertarik dengan perkataan Moza. Hingga tatapannya jatuh pada pergelangan tangan wanita itu yang memar. Suami yang bersikap kasar pada istrinya, bisa dicintai oleh wanita bodoh ini?
"Dia lelaki yang baik."
"Tidak ada lelaki yang baik, yang menjual istrinya sendiri. Dia menjualmu padaku tanpa ragu."
Moza bergeming. Kata-kata Darren sangat menohoknya. Dia sendiri masih tidak mau percaya kalau Vano bisa melakukan hal kejam seperti itu padanya, tapi bagaimana pun lelaki itu adalah suaminya. Moza tidak bisa menyangkalnya, meski hatinya teramat sakit. "Bagaimana pun, dia suamiku. Aku tidak bisa mengkhianatinya."
Darren terdiam dan memerhatikan Moza dengan lekat. "Kau tidak ingin mengkhianati suamimu, meski dia mengkhianatimu?"
Moza mengangguk tanpa ragu. Dia sudah berjanji untuk setia saat janji suci itu dilakukan. Ketika Vano mempersuntingnya dan menjadikan dia istri lelaki itu. Detik itu juga, Moza berjanji untuk tetap menjaga harga diri dan kehormatan suaminya. "Ya, aku tidak akan mengkhianatinya."
"Bagaimana jika kau bercerai dan menikah lagi. Apa kau akan setia pada suami barumu?"
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Darren membuat Moza kebingungan. Dia tidak memahami ke arah mana lelaki itu berkata. Moza sekali pun tidak pernah berpikir untuk bercerai dari Vano. Dia tidak bisa melakukannya, tapi jika itu terjadi, tentu Moza akan berusaha setia. "Itu tidak mungkin terjadi, aku tidak akan bercerai dengan Vano. Kenapa Tuan Darren bertanya seperti itu?"
"Aku tidak akan menjawab sebelum kau menjawab pertanyaanku."
"Aku akan berusaha setia dan patuh pada suamiku," jawab Moza sambil menelan ludah. Matanya terpaku pada iris mata abu-abu yang memikatnya. Lelaki bernama Darren itu membuatnya penasaran. Orang seperti apa yang ada di balik topeng yang menutupi wajah itu?
"Aku senang mendengarnya." Darren bangkit dari duduknya dan berjalan mengambil paper bag yang tadi dia jatuhkan. Diambilnya kembali benda itu dan diserahkannya pada Moza. "Ganti pakaianmu. Benda murahan itu tidak pantas ada di tubuhmu. Tinggallah di sini selama tiga hari. Aku tidak akan mengganggumu. Semua makanan ada di kulkas."
Darren segera berbalik dan hendak beranjak pergi. Meninggalkan Moza yang lagi-lagi kebingungan karena tingkahnya. Beberapa saat lalu, Darren seperti berniat melakukan hal kurang ajar, tapi kemudian lelaki itu meninggalkannya.
"Tuan Darren," panggil Moza, menghentikan gerakan tangan Darren yang berniat menyentuh daun pintu. Lelaki itu mau tak mau dibuat menoleh. Menatap penuh tanya. Hingga Moza tersenyum canggung dan kembali melanjutkan perkataannya, "Terima kasih."
"Sudah kukatakan, simpan rasa terima kasihmu. Kali ini, aku tidak akan menyentuhmu, tapi lain kali, meski kau menjerit, aku tidak akan melepaskanmu," ucap Darren sembari membuka pintu dan menghilang dengan cepat. Meninggalkan sejuta pertanyaan di kepala Moza.
Moza tidak yakin mereka akan bertemu lagi setelah ini. Lelaki baik hati yang tidak dia ketahui asal-usulnya, mungkin ini akan menjadi awal sekaligus akhir pertemuan mereka, dan di lain kesempatan, Moza harus memiliki cara untuk kabur ketika Vano akan melakukan hal yang sama seperti ini.