Permainan Darren

1303 Words
"Gio, aku ingin kau membeli beberapa pakaian dan makanan untuk wanita itu. Dia akan tinggal di apartemenku selama tiga hari. Aku lupa, bahan makanan di kulkas hanya tersedia untuk satu hari," ucap Darren sambil menikmati acara makannya. Dia menyantap makanan di depannya dengan anggun. Sementara tatapannya tertuju pada beberapa berkas yang tergeletak di atas meja. Tentu saja, karena perkataannya itu, Gio yang sejak tadi membantunya dalam bekerja dan duduk tak jauh darinya, menoleh seketika. Dia menatap Darren dengan alis berkerut dalam. "Tuan, apa Anda sadar apa yang telah Anda lakukan? Semalam, Anda membuang-buang uang dan waktu yang berharga Anda untuk wanita itu. Sekarang Anda meminta saya untuk menyiapkan keperluannya?" Kepala Darren terangkat. Matanya menelisik lekat bawahannya itu. "Maksudmu, Gio, kau menolak perintahku?" "Tidak, Tuan, tapi—" "Kalau begitu, lakukan apa yang kukatakan. Jangan membantah." Gio menghembuskan napas kasar dan mengusap wajahnya. Dia mengkhawatirkan tuannya. "Tuan, wanita itu tidak terlihat baik. Dia pelacur." "Lalu apa masalahnya? Tiga hari ini, dia dalam pengawasanku." "Jangan katakan, Anda menyukainya? Bukankah wanita itu sudah bersuami? Saya juga merasa, wanita itu terlihat seperti seseorang." Darren yang mendengar perkataan Gio seketika membanting cukup keras sendok dan garpu yang dia gunakan untuk makan. Dia melipat tangannya dan menatap serius ke arah bawahannya itu. "Menurutmu begitu?" Gio tersentak kaget dan memasang ekspresi kaku. Jelas sekali jika Darren terlihat marah. Meski ekspresi yang ditampilkan selalu sama setiap detiknya. "Maafkan saya. Saya hanya khawatir kalau semua ini adalah rencana wanita itu dan suaminya untuk menipu Tuan." "Terima kasih atas kekhawatiranmu, tapi wanita itu berbeda dari yang kaupikirkan." "Baiklah, saya mengerti. Saya akan melaksanakan perintah Anda sekarang." Gio yang tidak mau membuat Darren marah kembali karena dia terus membantah, akhirnya memilih beranjak dari duduknya untuk pamit menjalankan tugas. Namun sebelum Gio benar-benar pergi, Darren menghentikannya sebentar. "Satu lagi, Gio, kau tidak perlu mencari wanita yang mau menikah denganku." Gio yang mendengar perkataan Darren, seketika berbalik dan menatap syok. "Tuan? Jangan bilang Anda ingin menyerah? Bagaimana dengan tujuan Anda menyingkirkan mereka?" "Tidak, aku akan mencari pengantinku sendiri. Pergilah," usir Darren ketika melihat Gio yang tampak membuka mulutnya dan ingin kembali bertanya. Tangan kanan sekaligus orang yang paling dekat dan sangat mengkhawatirkannya. Namun kadang membuat Darren kesal karena sering membantah. "Baik, Tuan. Saya pergi dulu." Pintu tertutup bersamaan dengan Gio yang menghilang. Membiarkan Darren sendiri di ruang kerjanya. Dia melirik makanan di depannya yang masih terdapat sisa, lalu menyingkirkannya dan melangkah menuju meja lain. Tepatnya meja yang tadi digunakan Gio untuk bekerja. Hasil pekerjaan lelaki itu memang memuaskan, dia yang tidak bisa menunjukkan diri hanya bisa meminta bantuan Gio untuk menangani dan memimpin perusahaan. Sementara dirinya akan bekerja di balik layar. Tak sekali pun dia pernah meragukan integritas dan loyalitas penuh Gio. Lelaki itu adalah satu-satunya orang yang dia sangat percaya. Darren baru saja akan melanjutkan pekerjaan yang belum sempat diselesaikan Gio, tapi tiba-tiba sebuah panggilan masuk berbunyi di ponselnya. Darren langsung mengangkatnya setelah tahu siapa yang menghubunginya. "Bagaimana? Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik?" Tanya Darren begitu panggilan tersebut tersambung. "Sesuai keinginan Anda, Tuan. Dia mulai masuk ke dalam perangkap." "Bagus, berikan dia sebanyak mungkin, lalu ambil lagi semuanya. Aku ingin semua uangku kembali," ujar Darren sambil menutup telepon tanpa basa-basi. Senyum tipis lagi-lagi tersungging di bibirnya. Gio terlalu mengkhawatirkannya. Dia juga tahu apa yang dia lakukan. Darren tidak akan membiarkan uangnya lenyap begitu saja. Apalagi untuk lelaki tamak yang menjual istrinya sendiri. *** Di apartemen milik Darren, Moza baru saja terbangun dari tidurnya setelah mendengar suara ribut-ribut dari luar kamar. Dia yang masih setengah sadar dan tidak terlalu ingat di mana dia berada, hanya bisa mengernyitkan dahi seraya menatap sekeliling. Sampai kelebat ingatan semalam bermunculan di kepalanya. Seorang lelaki yang mengenakan topeng, suami serta aksi kejar-kejaran yang dilakukannya, semua mulai tersusun membentuk suatu memori yang utuh. Setelah berhasil mengingat semuanya, Moza sontak menatap ke arah tubuhnya. Di mana terlihat pakaian yang semalam dia kenakan telah berganti menjadi dress hitam polos selutut, yang cukup menutupi tubuhnya. Lain dari yang kemarin. Dia ingat, dress yang dia kenakan adalah pemberian dari lelaki asing yang membawanya ke sini. Tok-tok-tok. "Wanita! Kau yang ada di dalam kamar, keluarlah sekarang!" Suara dan ketukan pintu yang cukup kencang itu, berhasil mengagetkan Moza yang saat ini melamun. Suara lelaki yang cukup kasar di telinganya. Siapa? Moza yakin itu bukan lelaki yang menyelamatkannya kemarin. Suaranya terdengar beda. Bukan suara dingin dan tanpa emosi. "Mau sampai kapan kau tidur di sana? Keluarlah, ada perintah dari Tuan Darren. Kau harus keluar." Moza masih bergeming. Mengedarkan matanya pada jendela yang memperlihatkan keadaan luar sudah siang. Melalui tirai tipis itu, Moza bisa melihat sinar matahari yang menerobos masuk. Sampai matanya kemudian beralih pada jam dinding yang menunjuk di angka sepuluh. Seketika, Moza melotot. "Hei! Kau, keluarlah." Gedoran di pintu terdengar semakin keras dan tidak sabaran. Sampai mau tak mau, Moza akhirnya buru-buru mendekat dan membukanya sebelum orang tersebut marah-marah. Hingga sosok yang muncul di depan tidak lain adalah lelaki yang kemarin bersama Darren. "Maaf." Ekspresi tidak senang terlihat di mata Gio saat Moza baru membuka pintu setelah dia menunggu cukup lama. Namun tidak ada kata bentakan atau semacamnya yang terlontar. Gio menghembuskan napas kasar dan melangkah pergi. Sementara Moza hanya mengikuti dari belakang. Dia melangkah dengan gugup dan cemas. "Duduklah." Moza melirik ke arah meja dan sofa yang kini duduki oleh Gio. Dia melihat bahan makanan dan beberapa paper bag di atas meja. Moza tidak tahu isinya dan tidak bisa bertanya. Yang bisa dilakukannya hanya menurut dan duduk tepat di depan lelaki itu. "Dengar, ini pakaianmu dari Tuan dan ini bahan makanan untukmu. Tuan Darren menyuruhku untuk jangan membiarkanmu ke mana-mana. Jadi, diamlah di sini." Gio menjelaskannya cukup rinci. Dia menjelaskan apa yang boleh dan tidak boleh disentuh oleh Moza. "Aku juga sudah menyiapkan makanan untukmu. Katakan sekarang jika ada yang ingin kautanyakan. Aku tidak memiliki banyak waktu." "Aku tidak boleh ke mana-mana? Kenapa? Aku harus bekerja sekarang." Moza menatap Gio dengan gelisah. Dia tidak mungkin tidak masuk tanpa memberi kabar apa pun. Meski kini, dia juga sudah terlambat seandainya pergi bekerja. "Apa kau tidak mendengarkan perkataanku dengan baik? Jika aku katakan tidak ke mana-mana, itu artinya kau harus diam di sini," decak Gio kesal. Dia harus menarik napas kasar karena wanita di depannya membuat dia emosi. Darren memang tidak memerintahkannya untuk menahan Moza, tapi itu inisiatifnya agar wanita yang ada di depannya ini tidak kabur. Gio tidak percaya tuannya memberikan uang sebesar itu dengan cuma-cuma hanya untuk wanita ini. "Kenapa kau marah-marah padaku? Kaubilang aku boleh bertanya." "Aku kira kau hanya wanita lemah dan tidak banyak bicara seperti kemarin. Ternyata, kau pandai bicara juga. Gara-gara kau, Tuan Darren harus menghamburkan uang dengan percuma." Moza tertunduk. Dia mengeratkan tangannya dan menggenggam roknya cukup kuat. "Kalau kau berpikir aku berusaha menipu Tuanmu, itu sama sekali tidak benar. Aku hanya ingin melarikan diri dari suamiku yang ingin menjualku. Tolong sampaikan maafku pada Tuanmu yang harus mengeluarkan uang sebanyak itu untukku. Aku akan berusaha untuk mencicilnya." "Kaupikir kau mampu?" "Aku akan berusaha melakukannya. Aku sama sekali tidak berniat buruk atau memanfaatkan kebaikan Tuan Darren. Sungguh. Aku tidak bohong." Perkataan Moza yang penuh ketulusan dan kesungguhan, membuat Gio justru dilanda rasa bersalah. Laki-laki itu menjadi tidak enak karena memarahi dan sempat bersikap buruk, tapi tanpa mau mengendurkan sikap waspadanya, dia akan terus mengawasi Moza dan lelaki yang mengaku sebagai suaminya. "Namamu, apa namamu Moza Chika Clarissa?" Kepala Moza kembali terangkat saat mendengar pertanyaan Gio. Matanya sedikit membulat. "Bagaimana ... kau tahu bisa nama lengkapku?" Gio mendesah kasar dan mengusap wajahnya. Pantas saja terasa familier, ternyata wanita ini adalah wanita yang sama dengan wanita yang diminta tuannya. Harusnya dia juga ingat wajah wanita yang menabrak Darren di klub untuk pertama kalinya. Hanya karena makeup dan pakaian yang berbeda, dia sulit membedakannya. Pada akhirnya, kini dia merasa, dia tahu apa tujuan Darren sebenarnya. "Sepertinya sebentar lagi, kau akan lepas dari suami berengsekmu itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD