Malaikat Penyelamat

1141 Words
"AKHHH ...." Kejadian itu terulang lagi. Moza jatuh tepat di atas tubuh lelaki bertopeng. Namun kali ini, tidak ada ciuman yang terjadi. Tidak pula Moza lantas berdiri dari tubuh itu. Dia yang ketakutan, malah dengan sengaja memeluk tubuh tersebut dan menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Orang-orang yang bersama lelaki itu tampak kaget. Mereka mendekat dan kebingungan sambil berusaha mengangkat tubuh Moza dari atas lelaki yang justru malah diam saja. Apa yang terjadi barusan dan wanita yang tiba-tiba menabraknya, tidak membuat si lelaki marah, tapi justru malah terdiam dan mendengar tangisan lirih yang keluar dari bibir Moza. "To-tolong aku, Tuan. Tolong aku ...." "MOZA!" Suara teriakan itu terdengar mendekat. Moza tahu siapa pemiliknya. Itu suaminya. Dia juga mendengar suara langkah lain. Mereka masih mengejarnya dan itu membuat Moza semakin ketakutan. Hingga dia semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di jas milik lelaki itu. "T-tuan, selamatkan aku. Aku mohon." Lelaki di bawahnya masih bergeming. Itu membuat Moza semakin panik. Apalagi saat dia berusaha diangkat oleh beberapa orang di sekitarnya. Moza terus menggeleng dan menangis. Hingga akhirnya, dia merasakan pinggangnya disentuh oleh lelaki di bawahnya. Moza tersentak. Dia mengangkat kepala dan bertatapan dengan mata abu-abu dari balik topeng. Mata yang terasa familier baginya. Namun belum sempat dia mengetahui jawabannya, tubuhnya sudah ditarik kuat dari belakang, dan tarikan tersebut berhasil membuat dia terlepas dari lelaki itu. "Moza, apa yang kamu lakukan! Berhenti membuatku malu! Kamu harus ikut denganku," bentak Vano, sembari mencengkeram pergelangan tangan istrinya. "AKU TIDAK MAU! AKU TIDAK MAU, VAN!" Moza memberontak sekuat tenaga saat Vano mengikat kedua tangannya ke belakang. Membuatnya sulit untuk melarikan diri lagi. Hanya jerit serta tangis histeris yang terdengar dan apa yang dilakukannya juga membuat beberapa lelaki di depannya menatap bingung. Termasuk lelaki yang memakai topeng tersebut. Lelaki itu berdiri dan menatap lekat ke arahnya. Moza sudah seperti orang gila yang hanya berteriak dan terus memberontak meminta dilepaskan. Hingga akhirnya, Moza nekat menginjak kaki suaminya dengan kaki dan membuat Vano melepaskan satu tangannya. Sementara tangannya yang lain, masih ditahan oleh lelaki itu. Sialnya, apa yang dia lakukan justru berhasil membuat Vano naik pitam. "MOZA!" Vano yang sudah mulai kehilangan kesabarannya, hampir saja melayangkan tamparan pada Moza. Namun sebelum tangan kasarnya mendarat, seseorang sudah lebih dulu menghalanginya. "Lepaskan wanita ini." Vano mengetatkan rahangnya. Dia menoleh saat melihat lelaki yang jatuh bersama istrinya, kini menghalanginya. Secara kasar, dia menyentak tangannya. "Dia istriku! Kau tidak berhak mengatur apa yang harus kulakukan padanya." "Kau bertindak kasar pada seorang wanita di depan mataku, aku tidak bisa membiarkannya," balasnya tidak mau kalah. "Tuan, lebih baik kita pergi. Ada pertemuan—" Lelaki yang mengenakan topeng itu mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan dari salah seorang yang ada di belakangnya. Lalu pandangannya beralih pada wanita yang kini sudah tidak lagi menjerit histeris dan hanya terisak kecil, sembari memandangnya, meminta pertolongan. "Kau ... kaumau pergi dengan suamimu atau denganku?" "Tuan!" Lelaki bertopeng itu tidak mengindahkan teguran dari bawahannya. Dia tetap menatap wanita yang kini gemetar takut dan memohon pertolongannya tadi. Hingga tangan kecil serta gemetar itu berusaha meraih pergelangan tangannya dan berjalan mendekatinya. Sayangnya, Vano yang berang karena istrinya meminta pertolongan pada lelaki asing, segera menarik tangan Moza. Meski akhirnya, salah satu tangan Moza yang bebas, berhasil menggenggam erat lelaki yang mengenakan topeng dan bermata abu-abu itu. "Kau tidak bisa mengambil istriku begitu saja. Dia punya tugas yang harus diselesaikan malam ini," desis Vano tidak mau kalah. "Ya, wanita itu milikku! Aku sudah membayar mahal," sahut seorang pria tua dari arah belakang Vano. Pria yang semenjak kemarin mengincar dan menginginkan Moza ketika Vano memperlihatkan foto istrinya. Hal tersebut, membuat pria bertopeng itu terdiam sejenak. Dia kini memahami situasi yang terjadi. Juga kenapa wanita itu melarikan diri dengan pakaian nyaris memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya. Ucapan minta tolong dan tatapan memohon agar diselamatkan, membuatnya mengerti jika semua ini dilakukan atas dasar pemaksaan. "Berapa harganya? Berapa uang yang kaukeluarkan untuknya?" tanyanya pada pria tua yang kini tampak terkejut oleh pertanyaannya. "Apa maksudmu? Kaumau apa?" Vano mendekat. Dia menatap lelaki bertopeng itu dengan berani dan mengalihkan perhatian lelaki itu padanya. "Aku mau menyewa istrimu selama tiga hari. Berapa yang harus kuberikan?" tanyanya dengan tenang. Ucapannya berhasil membuat beberapa orang di belakangnya bereaksi ingin menghentikan. Begitu juga dengan Moza yang terkejut karena perkataan lelaki di sampingnya itu. Sementara Vano yang mendengarnya tertawa keras. Dia menatap istrinya dan lelaki asing itu bergantian. Lalu memerhatikan gaya berpakaiannya dengan teliti. Bukan hal sulit baginya untuk mengetahui harga dari setiap pakaian yang dikenakan oleh orang lain, tapi lelaki di depannya ini, terlalu sederhana. Pakaiannya pun tidak begitu mencolok. Itu membuatnya tidak bisa berhenti tertawa. Meski begitu, Vano tertarik untuk mempermalukannya. "Dia istriku yang kucintai, jadi harganya sangat mahal. Aku tidak yakin kaumampu menyewanya hanya untuk satu hari saja." "Katakan saja, berapa yang kubayar untuk tiga hari?" Vano dengan sombong mengangkat kepalanya. Dia yakin lelaki itu tidak akan sanggup membayarnya. "Seratus juta." "Gio, berikan aku cek." Lelaki itu menoleh ke arah belakang. Tepatnya pada lelaki yang sedari tadi terus menginterupsinya. Gio terlihat sama sekali tidak tenang dan enggan memberikannya. Bahkan tidak bisa berhenti bergerak sejak tadi karena khawatir. "Tuan, cukup, sebaiknya kita pergi. Anda ikut campur terlalu jauh." "Gio, kautahu aku tidak suka mengulang perkataanku?" Akhirnya, Gio mau tak mau memberikan apa yang diminta oleh tuannya. Beserta bolpoin yang digunakan tuannya untuk menulis dan menandatangani cek tersebut. Hingga setelah selesai, dia memberikannya pada Vano dan membuat lelaki itu harus terkejut bukan main. Tak hanya itu, dia juga memberikan kartu nama sebagai jaminan. "Aku yakin kau tidak bodoh untuk membedakan itu asli atau tidak." Vano yang terlampau senang tidak terlalu memedulikan perkataan lelaki di depannya. Dia sibuk memegang cek tersebut dan melepaskan Moza. Tentu saja, Vano tahu mana cek asli atau palsu. Lelaki yang dia kira tidak memiliki apa-apa, ternyata adalah seorang milyarder. "Jika ada masalah dengan penarikan, Anda bisa menghubungi nomor saya di sana." Gio menambahkan. Meski wajahnya terlihat jengkel karena Vano yang mata duitan dan tuannya yang bertindak di luar dugaan. "Kita sudah tidak ada urusan lagi, aku akan membawa istrimu sekarang." Moza menoleh saat lelaki yang tidak dia ketahui namanya itu menariknya menjauh. Meninggalkan Vano yang tak acuh bersama para p****************g itu. Suaminya seolah tidak peduli dia yang dibawa pergi. Hanya uang yang membuat lelaki itu senang. Moza kembali merasakan sesak di dadanya. Perlakuan Vano lama kelamaan bisa membuat hubungan mereka menjadi retak. Lelaki itu menyakitinya lagi. Meski akhirnya, sekarang dia bisa terbebas. Setidaknya Moza mungkin akan aman bersama lelaki ini. Punggung kokoh itu dan genggaman tangannya yang kuat, tapi tidak menyakiti. Tatapan tajam, tapi juga melindungi. Itu membuat Moza merasa sedikit aman. Entah mengapa, hatinya menilai jika orang ini adalah orang baik. Malaikat penyelamatnya. "T-tuan, terima kasih sudah menolongku." Suara lirih yang keluar dari bibirnya, menarik perhatian lelaki yang kini berjalan santai sambil menyesuaikan langkahnya. Dia menoleh sebentar, sebelum kembali fokus menatap lurus. "Simpan rasa terima kasihmu, kau tidak tahu apa yang akan kulakukan padamu nanti."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD