Moza melenguh lirih dan semakin menyusupkan kepalanya saat dia merasakan sebuah kehangatan. Tangannya melingkar pada sesuatu yang dia sendiri tidak tahu apa itu. Moza terlalu nyaman dan enggan membuka mata, meski fajar kini mulai menyingsing. Hingga sebuah tangan asing berusaha menjauhkan Moza. Namun bukannya lepas, pelukan itu malah semakin erat. "Kau tidak bangun? Apa kau sangat nyaman memelukku?" Pertanyaan itu tak digubris sama sekali oleh Moza. Dia tentu saja masih tertidur pulas. Meski kini terlihat senyum yang membingkai wajahnya. Sampai seseorang yang tadi bersuara, mulai mencubit gemas hidung kecil Moza dan membuat wanita itu harus membuka mulutnya karena sulit bernapas. Moza mau tak mau melepaskan pelukannya dan membuka matanya. Hingga akhirnya dia mendapati keberadaan Darren

