BAB 6
“Apa cemburu juga berhak
atas orang yang malah
tidak menganggapmu ada?”
ADRIAN langsung menarik lengan Ratu untuk mengikuti langkahnya, Ratu merasakan sakit pada pergelangan tangannya yang Adrian cekal. Adrian menatap Ratu tajam melalui sudut mata elang-nya, mata Ratu sudah berkaca-kaca, akan ada hujan yang siap turun membasahi pipinya. Ratu menggigit bibir bawahnya takut, Adrian menggertak giginya geram.
“GUE UDAH BERAPA KALI BILANG SAMA LO, KALAU LO ITU MILIK GUE! CUMA MILIK GUE!” tekan Adrian, emosinya memuncak dan suaranya mulai meninggi.
Semua tamu undangan tersebut memperhatikan keduanya, Vania berjalan dengan langkah cepat untuk melerai keduanya.
“Ratu! Ini party gue, tolong jangan buat kekacauan,” sinis Vania dengan gaya sombongnya. Ratu menunduk, ia menatap kebawah tak berani mendongak menatap mata elang milik Adrian sedetikpun, Ratu tidak suka dibentak, kekerasan dan keramaian.
“Vania diam,” perintah Adrian dingin.
Vania menyipitkan matanya pada Adrian, “Tapi kan gue pacar lo,” bantah Vania yang tidak setuju.
Adrian berdecak kesal, “Sekarang enggak.” Alhasil Ratu langsung membulatkan matanya, atas kata-kata yang baru saja Adrian lontarkan.
Vania menggeleng, “Enggak! Lo jangan terpengaruh sama cewek aneh ini dong! Dia taruhan lo doang kan?”
Ratu merasakan sesak begitu mendalam di dadanya, semua tamu undangan langsung kaget ketika Vania mengatakan kalimat tersebut.
“VANIA! TETAP DALAM BATASAN!” teriak Adrian dengan nada yang semakin meninggi, keadaan hening, Vania meneguk salivanya kasar.
“Lo jahat Rian!” Pekik Vania, ia memukul d**a Adrian kuat sebelum berlari meninggalkan mereka. Adrian menyengir kecil, Chandra datang membelah keramaian yang sudah memadati Adrian dan juga Ratu.
“Ratu pulang sama gue,” ajak Chandra, ia hendak meraih tangan Ratu, tapi Adrian langsung menepisnya cepat. Adrian langsung membawa Ratu untuk berdiri di belakang punggungnya.
Adrian menatap Chandra kalap.
BUG!
Satu pukulan keras mendarat tepat pada pipi kiri Chandra, Chandra tidak terima ia langsung membalas pukulan Adrian. Terjadilah perkelahian hebat dan tidak ada satupun yang menengahi, semua hanya menjadi penonton gratisan saja. Ratu memegang dahinya, penglihatannya mulai kabur dan kelam, sehingga ia tak sadarkan diri.
Semuanya hanya menyaksikan saja, Adrian dan Chandra langsung memusatkan pandangan mereka pada Ratu.
“Ratu!” teriak keduanya.
Adrian berlari terlebih dahulu, ia langsung menggendong Ratu, seharusnya ia tidak melupakan bahwa Ratu tengah sakit.
Dengan rasa cemasnya ia langsung membuka sepatu yang Ratu kenakan, lalu mengusap minyak angin tersebut pada telapak kaki dan telapak tangan Ratu.
“Please, maafin gue,” pinta Adrian. Tangannya masih mengusap-usap tangan Ratu untuk menyalurkan kehangatan di sana.
Tak butuh waktu cukup lama, Ratu mengerang kecil, ia memegang dahinya yang terasa pusing, perlahan ia membuka matanya, yang pertama kali Ratu lihat di saat pertama kali ia tersadar adalah senyum lega milik Adrian untuknya, senyum yang tak pernah terbit selama satu tahun ini.
“Ri ... Rian gue minta maー”
Belum sempat Ratu menyelesaikan kalimatnya, Adrian langsung merengkuh tubuh Ratu dalam pelukkannya. Ratu merasakan jantungnya sudah berdetak lebih kencang daripada biasanya.
Chandra baru saja hendak menghampiri Ratu dengan segelas air putih di tangannya. Namun ia menghentikan langkahnya pada saat Ratu sudah baik-baik saja dengan Adrian sekarang.
“Se-enggaknya dia tahu rasanya dicintai,” gumam Chandra. Ia tersenyum manis. Ratu membulatkan matanya, ia langsung mengambil tisue di tas kecil yang ia bawa lalu membersihkan darah yang keluar dari hidung mancung milik Adrian.
“Rian, lo baik-baik aja, kan?” selidik Ratu.
Adrian mengangguk. Ia menggenggam tangan dingin milik Ratu. “Gue pernah bilang sama lo, jangan pake baju lengan pendek kalau malam, angin malam enggak bagus.” Adrian langsung melepaskan jasnya lalu menyampirkannya pada bahu Ratu. Ratu tersenyum manis dengan perasaannya yang sangat bahagia di malam itu.
“Ratu harap malam ini enggak bakal ada ujungnya,” kata Ratu tak luput dari kebahagiaan kala itu. Adrian itu arogan, tapi terkadang juga ia posesif atau bahkan bisa bersikap sangat manis sewaktu-waktu.
Setelahnya Adrian membantu Ratu untuk berdiri. “Pulang?” tanya Adrian. Ratu mengangguk, Adrian membantu Ratu untuk menuntun jalannya. Sedangkan Chandra hanya menatap kepergian keduanya.
Adrian memarkirkan motornya di area pekarangan rumah keluarga Arizkiandra, lalu ia masuk melewati ruang tamu yang sudah kosong karena tampaknya semua telah tidur, hanya Adrian sang Raja the troublemaker yang selalu menjadi laki-laki kalong.
Kini Adrian tengah duduk di pinggir jendela, menatap bintang terang yang menghias langit.
Ia hanya termangu, tak banyak yang bisa ia kisahkan pada alam. Ia tidak bisa bercerita kepada manusia bahkan ia tidak tahu siapa yang bisa ia percaya, ia tidak bisa menyimpan masalahnya sendiri, setiap Adrian ingin belajar mencintainya wajah gadis itu selalu menari di pikirannya sampai rasa benci itu timbul bersamaan rasa yang mulai mencuat.
Adrian mengusap wajahnya kasar. Ia meminum minuman soda sejenak lalu mengacak rambutnya asal. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya atas perempuan yang telah membuatnya jatuh sekaligus menoreh luka padanya. Ia butuh sandaran. Tapi apakah Adrian pantas bersandar pada Ratu yang selalu baik dengannya?
Sedangkan Adrian selalu menjadi peran yang menyakiti.
Adrian memejamkan matanya, menetralisir hatinya yang tak tenang. Ia mendengarkan angin malam berbisik padanya.