Bab 7

1068 Words
BAB 7 “Sakit dan cinta, keduanya memaksa untuk pergi atau bertahan.” TERIK mentari menyilaukan yayasan. Semuanya tampak ramai di lapangan karena sedang ada pertandingan basket. Ratu menggenggam sebotol air mineral. Tatapannya terus-terus mengikuti alur gerak Adrian yang tengah bermain basket di tengah lapangan. Adrian pasti bisa! Rian, aku padamu! Jangan kecewakan aku! Go Rian go! Itulah teriakan penonton yang heboh karena Adrian. Adrian merebut bola besar tersebut, lalu memasukkanya ke ranjang basket, dan masuk! Point dari tim Adrian otomatis bertambah. Semua timnya memeluk dan mengacungkan jempol pada Adrian. Adrian memandang Ratu yang tengah duduk di tribun sendirian, Chandra sebagai dokumentasi saat itu, sibuk memotret-motret pemain dan penonton. Tapi, ia lebih fokus pada Ratu. Adrian menatap Ratu, lalu ia menyinggungkan bibirnya menjadi senyuman kecil, sangat kecil. Semuanya mengalihkan pandangannya pada gadis dengan pipinya yang sudah bersemu merah, Ratu langsung menggigit bibir bawahnya gugup. “Semangat!” teriak Ratu mendominasi lapangan, sekeras apa pun Adrian membuat Ratu membencinya, Ratu malah bertambah yakin pada hatinya yang telah jatuh pada sosok Adrian. Senyum Adrian semakin melebar, Ratu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya ketika pertandingan dimulai kembali. Ratu merasakan jantungnya sudah berdetak kencang saat ini. Adrian mulai men-drible bola kembali. Ratu fokus kembali pada Adrian sebentar lagi waktu permainan akan habis, tim Adrian sudah banyak mengumpulkan point sehingga meninggalkan jauh point lawan. Waktu permainan habis. Semua murid sontak berteriak heboh karena sekolah mereka menang. Di saat semuanya saling berpelukkan dan berteriak, Adrian memutuskan tetap berdiri di tengah lapangan lalu melakukan sujud syukur. Ratu tersenyum lebar, Adrian itu baik cuma sering digalakin saja. Adrian itu perhatian, cuma terkadang sok tidak peduli saja. Adrian berdiri. Ia hendak berjalan mendekati Ratu, sedetik kemudian Adrian terjatuh, ia berusaha keras menggunakan lututnya untuk bertumpu agar ia bisa berdiri, tapi percuma ia tetap tumbang juga. Ratu langsung melesat dengan cepat menuju lapangan. PMR tidak tinggal diam, mereka berlari pontang-panting membawa tandu untuk Adrian. Ratu memangku kepala Adrian di pahanya, sambil menunggu petugas PMR untuk datang membawa Raja ke UKS. Irisnya memandang Adrian dengan rasa khawatir yang berkecamuk. Ia merasakan badan Adrian benar-benar panas bahkan laki-laki itu sampai menggigil. “Adrian! Adrian kenapa?” Ratu memegang kedua pipi laki-laki yang sudah memejamkan kedua matanya tersebut, buliran air mata Ratu jatuh begitu saja. Adrian menggeleng, ia berusaha untuk tersenyum, “Gue nggak papa.” Bibir Adrian bergetar. Tandu datang kemudian membawa Adrian ke UKS. Semua penonton dan tim basket lainnya memperhatikan Adrian tak kalah cemas. Adrian sekarang sudah berbaring di UKS. Ratu menggenggam erat tangan Adrian yang terasa begitu panas. Adrian bahkan tidak mengatakan pada Ratu kalau ia demam. Kalau saja Ratu tahu, ia tidak akan mengizinkan dan mendukung Adrian mengikuti lomba. Walau ia tahu semuanya akan percuma, tapi setidaknya ada cara lain nantinya yang akan menggagalkan pertandingan itu berlangsung. Adrian masih memejamkan matanya, “Rian kita ke rumah sakit aja ya,” ajak Ratu. Adrian langsung menggeleng, “Enggak! Gue cuma demam Ratu, enggak usah lebay,” celetuk Raja ketus. Ratu langsung terdiam, padahal ia hanya khawatir dengan laki-laki tersebut. Raja masih saja menggigil sedari tadi, panasnya juga tidak turun-turun. “Ada baskom nggak?” tanya Ratu pada salah satu anggota PMR. Beberapa dari petugas PMR tersebut mengangguk. Ia langsung memberikan Ratu baskom kecil dengan sapu tangan di dalamnya yang sudah terisi dengan air. Ratu memeras kain yang berada di sana, lalu ia meletakkan kain lembab tersebut di dahi Adrian. Ia melakukannya terus sampai berulang-ulang kali sampai panas Adrian turun. Adrian hanya memejamkan matanya. Kepala Adrian terasa benar-benar pusing. Setelah panas Adrian turun Ratu akhirnya bisa bernapas lega. “Ratu pergi bentar ya Rian,” bisik Ratu lembut pada Adrian yang sudah terlelap. Ratu berjalan menuju kantin, memesan makanan untuk Adrian. Ia tidak biasa sendiri pergi ke kantin. Biasanya ia bersama Adrian. Ia menautkan kedua jarinya kepinggir rok seragamnya. Saat semua tatapan sudah menghunusnya tajam. “Bu, pesan nasinya satu, bungkus yah,” pinta Ratu kepada pemilik stand penjual nasi tersebut. Ratu berdiri di dekat stand menunggui pesanannya. Beberapa gerombolan laki-laki berlarian menghampiri Ratu. “Ratu! Rian nggak papa, kan?” tanya Deno. Ratu mengerutkan dahinya. “I-iya, kalian kenapa kayak habis dikejar setan gitu?” Ratu mengernyit. Revan mengatur napasnya yang tersenggal-senggal.  “Gilak! Gue tadi habis dikejar cabe-cabean. Maklumlah yah, orang ganteng,” kata Revan, ia memegang lututnya penat. Kevan dan Deno langsung menjitak kepala Revan, sehingga laki-laki tersebut meringis kesakitan, Ratu hanya menggeleng atas tingkah ketiga sahabat Adrian itu. “Pede amat, mereka itu mau nanyain Adrian sama kita woy,” pekik Kevan. Revan hanya terkekeh. “Lah, gue kira mau minta tanda tangan gue.” “Ini pesanannya.” Pemilik stand kantin tersebut memberikan sekotak nasi kepada Ratu, Ratu langsung meraihnya dan memberi selembar uang lima ribu kepadanya. “Ratu mau ketempat Rian? Kami ikut yah!” sungut Kevan dan Deno bersamaan. Ratu mengangguk. “Iya,” jawab Ratu memperbolehkan mereka untuk ikut. Ratu langsung melenggang meninggalkan kantin, di ikuti Kevan dan Deno di belakangnya. “Woii! Gue juga mau ikut!” susul Revan seraya berlari. Ratu mengambil langkah panjangnya. Sesampainya di UKS ia langsung menyeret kursi untuk duduk tepat di sebelah Adrian. “Adrian, makan dulu yuk,” ajak Ratu. Adrian membukakan matanya, ia menatap Ratu dengan mata elangnya. Kemudian Ratu mencoba membantu Rian untuk duduk, Rian menyandarkan punggungnya pada sisi kepala ranjang. Ratu memberikan segelas air putih pada Adrian, kemudian menyuapkan laki-laki tersebut untuk makan.    “WOII ANJIR ENGGAK USAH TARIK-TARIKKAN GITU!” Kevan baru hendak masuk ke UKS tapi Revan malah menarik kerah seragamnya. Deno akhirnya berhasil lolos dan berjalan santai, “HAHA MAMPUS!” ledek Deno. “Karena gue yang menang, lo berdua yang traktir gue nanti,” titah Deno tersenyum penuh kemenangan. Adrian berdeham. “Maaf, terong-terongan dilarang masuk,” celetuk Adrian. Deno dan yang lainnya memanyunkan bibir mereka serentak. “Ganteng kek gini juga,” protes Reno. Adrian hanya tersenyum kecil, sangat kecil hingga hampir tak terlihat. “Rian lo nggak papa, kan?” tanya Deno. Adrian memutar bola matanya. “Enggak!” Dengan suaranya yang sedikit serak. Ratu hanya menahan tawanya. “Adrian kalau lo sakit, siapa dong yang gantiin lo di tim kita?” gerutu Kevan kesal sekaligus bingung. Revan mengangguk setuju. “Masa Ratu,” celetuk Deno ngasal. Jawaban dari Deno membuatnya di hadiahi toyoran oleh Kevan dan Revan. “Ihh bego mending diam, lo ngomong nambahin dosa,” perintah Revan. Sehingga Deno langsung mengatup mulutnya. “BERISIK,” tegur Adrian, semuanya langsung terdiam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD