BAB 8

968 Words
BAB 8 “Jangan pernah Menganggap diri kamu adalah satu- satunya orang yang paling terluka, karena masih ada aku yang hancur patah dan retak tiada sisa.” ADRIAN kini telah berbaring di atas kasur dengan selimut tebal yang sudah menutupi hampir seluruh tubuhnya. Matanya memerah, tapi demamnya sudah lumayan menurun. “Rian, Mama boleh tanya kamu sesuatu?” Andine duduk di sebelah anak bungsunya tersebut, Adrian hanya berdeham seraya mengangguk lemah. Sebelumnya Andine membantu Adrian untuk duduk bersandarkan di kepala kingsize, lalu menyodorkan segelas air putih agar Adrian terlihat lebih lega dan segar. Adrian menatap Andine dengan matanya yang sayu. “Apa, Ma?” tanya Adrian, Andine ragu sebenarnya tapi ia juga ingin tahu. Andine mengigit bibir bawahnya sejenak. “Hmm, gimana?” Tatapan Adrian menuju pada Andine yang malah menautkan sebelas alisnya. “Apa yang gimana?” Ia mengkerutkan dahinya heran. Andine terkekeh. “Itu loh hubungan kamu sama Ratu, lancarkan? Kamu udah jatuh cinta belum? Pasti udah kan! Mama yakin deh kalian itu cocok, soalnya ya Ratu itu cantik, kamu itu ganteng.” Andine berucap Antusias dan matanya tampak berbinar-binar. Mendengarkan serentetan kata-kata tersebut membuat Adrian mengembuskan napasnya lelah, laki-laki tersebut mengarahkan tangan kanannya untuk memijit pelipisnya sejenak, seusai melakukan itu Adrian membentuk seringai pada bibirnya. “Pasangan yang cocok bukan dinilai dari mereka yang sederajat atau sama. Kecantikan atau ketampanan bukan jaminan buat bahagia. Bisa aja sesuatu yang sederhana lebih berharga daripada yang istimewa.” Adrian tersenyum manis, memberitahu Andine dengan kata-kata bijaknya yang tanpa sengaja terlontar begitu saja. Tangan Adrian menggenggam tangan mamanya lalu Adrian tersenyum selebar mungkin. “Tapi, tidak ada yang lebih berharga daripada pesan dan amanah dari seorang Mama.” Mendengarkan itu membuat Andine menjadi terharu. Ia berdiri lalu memeluk anak bungsunya tersebut . “Mama bisa minta Rian untuk jaga Ratu, pacar Rian. Gadis polos yang nggak salah apa-apa, gadis yang jadi korban pertaruhan Rian sama rombongan Deno satu tahun silam. Mama bisa minta Rian untuk jaga Ratu dari laki-laki siapa pun yang mendekatinya. Tapi, untuk jatuh cinta itu di luar kendali Rian, Ma.” Andine mengangguk, ia mengacak rambut putranya. “Istirahat yang banyak,” Andine memaparkan senyumnya, sebelum ia bangkit lalu pergi menghilang di balik pintu. Rian menghela napasnya berat, laki-laki itu hanya memejamkan matanya untuk mengendalikan perasaannya yang sudah berkecamuk. Ratu langsung cepat-cepat memasukki buku-bukunya saat jam pulang telah menggema, ia berjalan cepat menyusuri koridor menuju parkiran untuk menunggui angkutan umum, Ratu memilih untuk menjenguk Adrian, bahkan pesannya tidak di balas ataupun teleponnya tidak diangkat oleh Adrian, Ratu menatap kesal pada angkutan yang melintas tapi selalu saja penuh. Sesekali gadis itu melirik arlojinya yang sudah melingkar manis di pergelangan tangannya, irisnya kembali menatap jalanan setelahnya, ia ada jadwal les sebenarnya tapi harus ia tunda sebentar, kalau ia benar-benar tidak mendapatkan angkutan umum maka ia terpaksa membolos hari ini. “Mau jenguk Raja lo itu ya?” Mata Ratu terbelalak pada laki-laki yang sudah berada di sebelahnya dengan motor ninjanya. Ratu mengangguk pelan, lalu irisnya kembali fokus ke antara jalanan. “Gue anter ya?” Ratu menggeleng sebagai penolakan keras untuk Chandra. “Kenapa?” “Karena aku bisa sendiri kok Chand, aku lagi nunggu angkot nih!” Ratu tetap bersikeras menolak tawaran Chandra. “Maksud gue cuma nganterin sumpah! nganterin batas depan rumah, enggak sampe masuk. Yakali gue masuk ke rumah Raja yang katanya punya Ratu.” Chandra memeletkan lidahnya, ia meledek Ratu, Ratu berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk. Memilih untuk pergi diantar oleh Chandra. Chandra sudah mengukir senyuman di balik helm-nya saat Ratu sudah duduk mantap di belakangnya.  Laki-laki tersebut langsung mengendarai motornya cepat yang membuat Ratu kaget dan spontan melingkarkan tangannya di pinggang Chandra, itulah yang Chandra mau. “Chandra ih apasih,” gerutu gadis itu kesal. Chandra hanya tertawa melihat aksinya yang sukses. “Sengaja, biar dipelukin hahaha!” Ia tertawa puas sampai jemari Ratu sudah bertengger cantik di antara pinggangnya. “Ratu! Cubitan lo lebih sakit daripada patah hati,” ringis Chandra lebay. Mendengarkan hal tersebut membuat Ratu mencibir, “Chandra kenapasih lo ngeselin!” “Biasanya ya Ra, orang yang kita paling anggap ngeselin itu adalah orang yang paling kita sayang,” kata Chandra dengan pedenya. Senyum Chandra tak pernah luput, sesekali ia melirik pada kaca spion yang menampilkan wajah cantik milik Ratu, bahkan Chandra tidak habis pikir bagaimana Adrian bisa menyia-nyiakan Ratu, bahkan kaum adam saja pasti terpikat dan jatuh pada pesonanya. “Gue mau nanya,” Chandra berucap sok misterius. Ratu menaikkan sebelah alisnya, dengan tubuh yang ia condongkan ke depan agar lebih dekat dengan Chandra. “Apa?” “Kenapa tuhan harus mempertemukan cinta yang sudah menjadi milik orang lain?” Ekspresi Ratu langsung saja berubah cemas. Bukan ia merasa sedang dikode lalu tersanjung, tapi ini tentang Adrian yang bahkan sangat membenci orang ketiga. “Berarti orang itu bukan orang yang pas.” Chandra menganggukkan kepalanya, tapi Chandra tahu wajah Ratu sudah berubah pucat pasi saat itu juga. “Jadi, menurut lo cinta yang pantas adalah cinta dengan seseorang yang bahkan menolak untuk dicintai?” Ada bagian yang tertohok saat itu juga, Ratu langsung terdiam. Chandra merasakannya, merasakan bahwa di sini ada ketidak adilan. “Wanita seharusnya diperjuangkan bukan yang berjuang, kalau ada cowok yang biarin wanita berjuang sendirian, pake aja rok! Nggak gentle amat!” Mendengarkan kata-kata itu, tangan Ratu spontan melambung ke udara lalu menjitak kepala Chandra yang untungnya memakai helm, jika tidak Ratu pasti akan dengan senang hati menjitaknya sampai puas. “Tujuan lo cuma nganter doang Chandra, bukan interogasi.” Ratu mencelos kesal. “Kenapa?” Chandra tertawa geli. “Merasa jadi wanita paling bodoh?” Ia menimpali di sela tawanya. “Mending lepasin daripada bertahan cuma buat nambahin luka,” saran dari Chandra mendapatkan tolakkan keras dari Ratu. Ia menggeleng. “Terkadang ada sesuatu yang kalian anggap bagus dan itu belum tentu bagus.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD