Bab 9

878 Words
BAB 9 “Jangan pernah memberi mimpi aku dan kamu bisa menjadi kita kalau kamu sudah ada dia.” RATU masuk ke kamar Adrian, tampaklah laki-laki tersebut yang sudah tertidur di tenggelam oleh selimutnya, Ratu berjalan pelan, rantang makanan yang ia bawa ia taruh di atas nakas, lalu ia duduk di sebelah Adrian. Punggung tangan Ratu terulur untuk mengecek suhu tubuh Adrian, yang ternyata panasnya cukup tinggi. Dengan cepat Ratu pergi berlari menuju dapur Adrian, terlihat di sana Andine yang tengah sibuk memasak sup. “Tante, Ratu boleh pinjam baskom sama air?” Pamit Ratu pada Andine. Mendengarkan itu Andine malah tertawa, “Ratu, kamu kayak orang asing aja di sini, ambil di sana baskomnya, air ambil di wastafel sana,” tunjuk Andine, Ratu hanya menggigit bibir bawahnya lalu ia melesat cepat. Setelah berhasil menampung air ia pergi ke kamar Adrian dengan langkah pajangnya, di ambilnya sapu tangan dari ranselnya, lalu ia masukkan ke air dan ia peras. Sesudah itu, barulah ia letakkan di atas dahi Adrian agar suhu badannya turun. Adrian kaget lalu terbangun, di lepasnya sapu tangan yang melekat di dahinya. “Lo ngapain ke sini sih?” Adrian melemparkan sapu tangan tersebut ke lantai. “Gue cuma mau jagain lo doang kok, gue cuma takut lo kenapa-napa.” Adrian menghela napasnya, “Enggak perlu, enggak usah sok care deh!” Caci Adrian pada Ratu. “Ya udah se-enggaknya gue udah jenguk lo dan memastikan kalau lo baik-baik aja.” Sebelum ia pergi ia melirik Adrian sejenak, “gue bawa bubur buat lo, ada di atas nakas,” kata Ratu. Ia beranjak hendak meninggalkan Adrian, namun tangan Adrian langsung saja terpaut pada lengannya. “Stay please,” lirih Adrian serak. Ratu membelalakan matanya, “Lo bilang apa?” Ratu menginterupsi lagi, Adrian malah langsung memasang wajah malasnya. “Tetap di sini, gue butuh lo!” Tegas Adrian lebih jelas. Mendengarkan hal tersebut membuat Ratu langsung tersenyum sendiri, “Lo enggak bercanda kan?” Selidik Ratu pada Adrian. Adrian menggeleng, “Enggak! Sebelum gue berubah pikiran,” katanya, Ratu langsung duduk di tempatnya semula. “Sama siapa?” Adrian menoleh pada gadis itu. Ratu terdiam sejenak, ia berpikir berkali-kali untuk mengatakan bahwa ia pergi bersama Chandra. “Sama Mamang Grab,” jawab Ratu. “Oh.” “Lo udah makan?” Adrian mengangguk. “Berarti masih kenyang yah?” lanjut Ratu. “Lapar kalau lo mau nyuapin,” jawab Adrian yang membuat Ratu harus menahan senyumnya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan rona merah yang kini sudah memenuhi kedua pipinya. Ratu membuka rantang yang ia bawa, “Makan yah,” pinta Ratu lembut. Adrian mengangguk, Ratu menyuapkan laki-laki tersebut makan dan Adrian menerimanya dengan baik . “Gue boleh ngomong sesuatu sama lo?” Ratu menaikkan sebelah alisnya, “Apa?” “Gue minta maaf atas sikap egois gue selama ini, gue tahu kalau move on itu emang susah, dan lo juga tahu kan? Di saat seseorang yang berharga buat kita ninggalin kita gitu aja, itu serasa mati rasa. Gue tahu gue egois. Gue yang selama ini selalu marah sama lo yang bahkan nggak ngerti apa-apa sama masa lalu gue. Gue juga tahu hubungan kita ini cuma sekedar permainan aja, sekedar kesalahan yang pernah gue lakuin setahun yang lalu yang membuat lo terangkap masuk sejauh ini. Lo ngelakuin semua sejauh ini buat gue berpikir. Gue salah buat nyia-nyiain orang yang selalu bejuang buat gue,” kata Adrian panjang lebar. Ia menunduk tapi sedetik kemudian laki-laki itu mendongakkan kepalanya, ia menatap iris Ratu. Tangannya langsung meraih tangan kanan Ratu. “Maafin atas semua luka yang udah nyakitin lo.” Adrian menarik napasnya panjang. “Kata Mama, laki-laki ditakdirin buat berjuang. Gue awalnya beda berpendapat. Tapi sekarang, gue mau lo izinin gue buat berjuang, berjuang kalau gue bisa jatuh cinta lagi.” DEG! Jantung Ratu bergemuruh hebat, ia serasa mati kutu. Ratu kehabisan kata-kata. Kalau saja tidak memikirkan gengsi, pasti Ratu sudah loncat-loncat sambil gigit bantal, ingin rasanya Ratu terbang sekarang juga. “Lo udah sadar, Rian? Udah enggak tidur, kan? Apa jangan-jangan lo masih dalam pengaruh obat ya?” Ratu cemas sendiri. Adrian tertawa, tangannya terulur untuk mengacak rambut Ratu lembut. “Nama gue Adrian, si Raja troublemaker sekolah yang sekarang akan menjadi Raja sang pelindung Ratu!” balas Adrian sok dramatis. Gelak Adrian langsung pecah saat itu juga. Ia tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah lucu milik Ratu ketika baper dan salah tingkah. “Baper, yah?” Adrian menaikkan sebelah alisnya. Dengan cekatan Ratu mencubit lengan Rian. “Rian ih enggak suka!” rengek gadis tersebut kesal pada Adrian. “Kamu panggil apa?” Rian melotot, sikap kejamnya kembali segingga Ratu langsung terdiam. “Panggil gue Raja,” koreksi Rian. Ratu mengangguk merasa bersalah. “Iya, Raja.” Ia menurut. “Enggak, jangan Raja. Panggil sayang juga boleh,” Rian tertawa meledek. “Kamu beda.” Rian terdiam. Ia menatap gadis itu aneh. “Kenapa sedih? Bukannya ini yang lo inginkan ya? Bukannya ini yang semua lo pengen dari kita?” Ratu menganggukkan kepalanya. “Tapi apa iya sebuah keterpaksaan akan mengundang cinta?” Ratu ragu. Rian menaikkan kedua bahunya. “Enggak ada yang tahu soal isi hati kedepannya, lo yang berjuang saat ini bisa jadi lo yang di perjuangin nanti, kayak sekarang,” Adrian meyakini Ratu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD