BAB 5

1064 Words
BAB 5 “Cinta juga terkadang membuat kamu pandai berbohong, bilang bahagia walau sejujurnya menyakitkan!” RATU bener-bener dijemput? Ratu menatap layar ponselnya, jemarinya bergerak untuk membalas pesan dari Adrian. Iya ini udah di rumah, udah dulu yah. Batrei Ratu lowbet. Ia kembali menatap jalanan. Tak ada taksi yang lewat, Ratu takut kedua laki-laki kemarin akan menggangguinya kembali, Tara kerja lembur dan tidak mungkin ia menjemput Ratu, papanya Reno juga sedang bertugas kerja di luar. Ratu melirik arloji, senja mulai menguning. Sekolah perlahan-lahan benar-benar sepi. “Lo belum pulang?” Ratu tersentak.  Chandra tersenyum menyeringai. “Mana pacar lo yang sok jagoan itu?” sinis Chandra. Ratu menunduk, Chandra langsung meraih tangan Ratu. “Pulang bareng gue aja, pacar lo tadi nganterin selingkuhannya,” tawar Chandra dengan sedikit seringainya. Ratu tertegun mendengar ucapan Chandra, ia masih diam ragu. Bagaimana jika Adrian tahu ia pulang bersama Chandra? Pasti Adrian akan benar-benar marah besar.  Ratu mendongak, menatap mata hitam bersinar milik Chandra, jemarinya menari di tepi bibir Chandra. “Maaf karena Rian tadi, yah?” Ia menghapus bekas darah di sana. Chandra mengangguk. “Udah biasa itu bagi kaum laki-laki, adu otot,” kata Chandra. Ratu hanya berdeham, Chandra memasang helmnya dan men-starter motornya. Ratu tampak gugup dan ragu untuk naik, tapi tidak ada pilihan lain lagi. Akhirnya Ratu memilih untuk pulang bersama Chandra. Chandra tersenyum kecil di balik helmnya. “Lo udah berapa lama jadian sama si sok jagoan?” tanya Chandra heran. Sebab menurut Chandra tugas pacar itu melindungi. Bukan malah lari dari tanggung jawab, apalagi sampai menyakiti. Ratu menatap jalanan yang ia lalui bersama Chandra. Kemudian ia tersenyum kecil dan hambar. “Kurang lebih satu tahun,” jawab Ratu lirih. Sedikit nyelekit rasanya, satu tahun tapi masih seperti orang asing. Chandra menekukkan dahinya.  “Lah? Mayan lama, tapi kelakuannya kek lo sama kayak orang asing.” Ia menyeletuk asal tanpa menyaring terlebih dahulu jika kata-katanya akan begitu menohok hati seseorang. Ratu terdiam, tak menanggapi yang Chandra katakana. Karena hal tersebut benar adanya, Ratu hanya orang asing untuk Adrian. “Lo pergi sama siapa nanti malam?” tanya Chandra. Ratu mengerjap beberapa kali. Ia bahkan tidak tahu ingin pergi atau tidak. Tapi Vania temannya sejak SMP, tidak mungkin Ratu tidak datang. “Naik taksi kayaknya,” jawab Ratu. Chandra mengangguk. “Rumah lo di mana?” Ia menatap Ratu melalui kaca spion, tampak jelas wajah cemas Ratu dari sana, bahkan menurut Chandra saat cemas pun, Ratu masih terlihat sangat manis, sungguh. “Perumahan Indah Permai.” Ia menjawab. Chandra mengangguk lagi. Ia langsung mengendarai motornya masuk ke dalam perumahan Indah Permai. Ratu langsung turun dari motor Chandra ketika mereka sampai di halaman pekarangan rumah Ratu. “Ohh, enggak terlalu jauh.” Chandra bergumam, ia melempar tatapannya ke sekeliling rumah Ratu. Ratu menautkan sebelah alisnya.  “Apa yang nggak terlalu jauh?” tanya Ratu kepada Chandra heran dengan dahinya yang sudah mengernyit. Chandra menyengir kecil. “Kita yang nggak terlalu jauh.” Laki-laki itu terkekeh, berniat untuk menggoda Ratu yang malah jatuhnya garing. Ratu terdiam langsung. “Becanda, aelah.”  “Lo punya handphone enggak?” tanya Chandra, Ratu menatapnya bingung. “Enggak punya?” tanya Chandra kembali. Ratu menggeleng. “Ada,” dengan cepat Ratu langsung mengeluarkan ponselnya. Chandra tersenyum manis, ia langsung mengetik ID LINE dan nomor WhattsApp-nya di-handphone Ratu. “Entar gue jemput pas mau pergi ke tempat Vania.” Chandra langsung meninggalkan Ratu yang belum sempat menjawabnya. “Dah sampe.” Ratu turun dari mobil milik Chandra. Malam ini Chandra membawa mobil, katanya biar Ratu lebih aman. Tangan Chandra membantu Ratu untuk berjalan. Ratu memakai dress selutut, rambutnya ia biarkan tergerai. Ratu tidak mau memakai dress tersebut sebenarnya, tapi kata Tara itu cocok buat Ratu. Malah warnanya putih seperti orang mau nikahan. Dan yang lebih mengejutkan lagi dress yang Ratu kenakan sama warnanya dengan jas Chandra. Ratu melemparkan pandangannya ke sekeliling party. Ia tidak melihat Vania ataupun Adrian. Ia memilih untuk duduk di hamparan halaman di sana, di atas ayunan dekat panggung megah yang sudah Vania persiapkan untuk ulang tahun sweet seventeen-nya. “Ratu, gue nyamperin paman gue dulu,” pamit Chandra. Ratu berdeham. “Iya, nggak papa.” Ratu duduk, memandangi ke sekelilingnya. angin malam mengembus helaian rambutnya yang ia biarkan tergerai. Ia melihat seorang laki-laki dan perempuan melintas di hadapannya. Ratu memandang sendu kepada keduanya. Bahkan Adrian dan Vania couple-an. Senyum Adrian tak luput dari bibirnya. Ia tampak bahagia sekali sepertinya. “Hallo semua!” Iris Ratu beralih pada sumber suara. Begitu juga dengan tamu undangan lainnya. “Gue mau memainkan piano dengan penyanyi istimewa. Dia adalah Ratu.” Ratu mematung. Adrian yang mendengarkan nama Ratu di sebut langsung terdiam. Ratu menggigit bibir bawahnya, sedangkan Adrian langsung mengepalkan kedua tangannya. “Ratu, sini!” ajak Chandra dari atas panggung ia melambai pada Ratu. Ratu menundukkan pandangannya, ia berjalan menuju atas atas panggung. Mata Adrian menatap tajam kedua insan yang sudah berdiri di atas sana. “Chand, gue mohon jangan siksa diri lo sendiri,” lirih Ratu memohon kepada Chandra. Chandra mengernyit, lalu ia tertawa, “Gue enggak takut sama siapa pun! Kuy nyanyi lagu apa?” tanya Chandra. “Gue enggak bisa nyanyi,” celetuk Ratu. “Enggak usah bohong,” tekan Chandra. “Jar of hearts.” Chandra langsung mengangguk, jemarinya mulai memainkan tuts piano. I know i chand't take one more towards you Cause all that's waiting is regret Don't you know i'm not your ghost anymore You lost the love i loved the most Ratu memejamkan matanya, menyesap rasa sakit yang menggerogoti hatinya. I learned to love, half alive And now you want me one more than Ratu mengingat kejadian-kejadian menyakitkan dalam hidupnya bersama Raja. Who do you think you are? Runnin round leaving scars Collecting your jar of hearts And tearing love a part you gonna catch a cold From the ice inside yours soul “Hadirnya lo cuma nyusahin gue!” “Lo itu kesalahan yang pernah gue lakuin!” So don't come back for me Who do you think you are? Chandra tersenyum lebar ketika lagu mulai dilantunkan, semua tamu undangan menatap takjub kepada Ratu. Ratu tak bisa memungkiri kalau tangannya sekarang sudah dingin. Seusai lagu di lantunkan Ratu langsung turun dari panggung dengan air matanya yang sudah jatuh. Ratu menyeka air matanya, baru saja ia turun Adrian langsung mencekal pergelangan tangan Ratu erat. “Beri gue penjelasan!” tekan Adrian penuh amarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD