BAB 4

952 Words
BAB 4 “Cinta terkadang Membuat orang menjadi bodoh!” RATU mengusap wajahnya di wastafel. Sesudahnya ia membersihkan wajahnya dengan tisue yang sudah tersedia di sana. Sampai kapan? Sampai kapan gue jadi pihak yang selalu tersakiti. Sabar itu kadang enak, kadang enggak, apalagi kalau kita sabar menunggu sesuatu yang bukan milik kita. Ratu berjalan keluar toilet, namun cengkraman tangan seseorang membuatnya membelalakkan matanya. Ratu mendongak. “Vania?” lirihnya. Vania tersenyum, lalu Vania mengangguk. “Hallo pacar pelampiasan Rian,” sapa Vania. Ratu hanya diam. Vania adalah temannya ketika SMP yang kini telah berubah menjadi pacar Adrian selama satu bulan ini. Lagian siapa yang bisa menolak pesona ketampanan Adrian yang tak terbantahkan tersebut? Bahkan siapa pun akan terpaku diam dan terpesona saat melihat pahatan tuhan yang hampir sempurna itu. Vania melepaskan cengkramannya. Ia mengeluarkan sepucuk undangan berwarna merah jambu.  Tatapan Ratu jatuh pada undangan tersebut “Gue nggak lupa kok kalau besok lo ultah, kan?” tanya Ratu manis dengan matanya yang sudah berbinar-binar. Vania mengangguk, kemudian ia merobek-robek undangan tersebut hingga menjadi bagian-bagian terkecil, Ratu melotot ia langsung memungut kertas yang sudah menjadi bagian kecil tersebut tepat di bawah kaki Vania. Kemudian Vania langsung menginjak tangan Ratu sehingga Ratu meringis kesakitan. “VANIA SAKIT,” ringis Ratu, namun Vania masih tetap menginjak jarinya sampai lecet. Lalu Vania membantu Ratu untuk berdiri, menatap tangan Ratu yang terluka. “Gue mau lo putus sama Rian.” Vania menatap tajam ke arah Ratu. Ratu menengak salivanya kasar, tidak mungkin Ratu membiarkan penantian panjangnya selama setahun hilang lenyap begitu saja. Vania menatap sinis kepada Ratu. “Lo harus datang ke acara ulang tahun gue, enggak perlu undangan karena lo tamu istimewa gue,” ucap Vania. “Vania!” Vania langsung menoleh ke arah laki-laki yang baru saja masuk ke dalam toilet. Vania memutar bola matanya malas. “Apaan sih!” Ia langsung pergi meninggalkan Ratu dan laki-laki tersebut. Laki-laki itu langsung merangkul Ratu untuk keluar dari toilet, Ratu hanya diam saja. Ia menatap jemarinya yang sudah berdarah. Lalu laki-laki tersebut membawa Ratu untuk duduk. Ia mengeluarkan plester dari sakunya. Sebelumnya ia meniup-niup luka Ratu terlebih dahulu. “Lo nggak papa?” tanya laki-laki tersebut merasa bersalah. Ratu mengangguk. “Lo siapanya Vania?” tanya Ratu tanpa basa-basi. Laki-laki tersebut langsung tersenyum, ia memberikan plester pada jemari Ratu. “Nama gue Chandra Pradipta. Gue saudara tiri Vania, baru pindah kemarin ke sini,” jelasnya. Ratu mengangguk, “Lo nggak papa, kan? Gue bakal marahin Vania entar pas pulang sekolah,” lanjutnya lagi. Ratu menggeleng. “Nggak papa udah, lagian luka kecil aja kok,” balas Ratu. Chandra mengulas senyumnya, baru kali ini ia menemukan wanita sebaik dan setegar Ratu. “Eh? Nama lo siapa?” “Ratu Syakilla Prawidiwijaya, biasanya dipanggil Ratu,” jawab Ratu. Chandra terkekeh kecil. “Kalau ada Ratu berarti ada Raja dong?” Ratu langsung terdiam. BUG! Ratu membesarkan pupil matanya, saat Chandra sudah jatuh tersungkur di lantai. Adrian menatap Chandra kalap, kemudian matanya menatap Ratu penuh amarah. “Woi!! Apaan lo asal main jotos!” Chandra berdiri menghadap Rian yang sama tingginya dengannya. Adrian menatap tajam ke arah Chandra, “Dia cewek gue! Jadi lo enggak usah gangguin dia lagi!” perintah Adrian. Chandra berdecih. Ia menoleh ke arah Ratu yang sudah menundukkan kepalanya takut, Ratu memejamkan matanya, kepalanya terasa pusing sekarang. “MANA ADA SEORANG PACAR YANG TEGA NGELIHAT PACARNYA SENDIRI DI-BULLY SELINGKUHAN DIA!” teriak Chandra. Mata Adrian makin kalap seperti hendak memangsa Chandra. Namun ia urungkan niatnya. Tanpa basa-basi ia langsung membopong Ratu, Ratu merasakan jantungnya sudah berdetak lebih kencang sekarang. Adrian sekarang sudah menatap Ratu untuk meminta penjelasan dari Ratu. “Dia siapa?” tanya Adrian dingin dan menusuk. Ratu duduk di matras UKS. Semua orang yang berada di UKS telah lari berhamburan keluar karena tahu pasti Adrian akan marah lagi sekarang. Ratu menunduk.  “Dia Chandra saudara tiri Vania, saudara tiri pacar lo,” jawab Ratu lirih dan sedikit serak. Adrian mengusap wajahnya kasar. Ia memijit pelipisnya lelah.  “Ratu gue udah berapa kali bilang sama lo? Kalau gue enggak suka lo berinteraksi sama orang asing,” tegas Adrian. Ratu mengangguk. “Iya, gue tahu.” Adrian mengembuskan napasnya kasar. Lalu ia memegang jemari Ratu yang terluka. Ia menatap Ratu sendu. “Maaf, gue nggak bisa datang ketika lo lagi butuh gue.” Tangannya mengusap pelan jemari Ratu yang sudah dibaluti plester. Ratu tersenyum manis setelah mendengarkan kalimat tersebut. “Nggak papa, ini cuma luka kecil kok.” Adrian mengangguk, tangannya mengacak rambut Ratu lembut. “Lo tetap punya gue. Sejauh apa pun gue melangkah, ke mana pun gue berlabuh, yang gue punya cuma lo,” lirih Adrian. Ratu hanya tersenyum kecut, sampai kapan Ratu itu benar adanya? Bukan cuma bayangan pengisi kekosongan? “Vania ulang tahun Rian, lo enggak mau kasih kado?” tanya Ratu. Adrian diam, lalu ia mengangguk. “Udah kok, tadi malem.” Sedikit sakit karena Ratu tahu Adrian telat menjemputnya karena sibuk mencari kado untuk Vania. “Adrian pergi ke acara Vania? Ratu sama Adrian, kan?” tanya Ratu. Adrian mengangguk, sedetik kemudian Adrian menggeleng.  “Astaga gue lupa mau nemenin Vania ke salon pulang sekolah nanti,” katanya kaget seraya menepuk jidatnya. Leher Ratu serasa tercekat. “Temenin aja, Rian. Ratu dijemput sama Mama nanti sore.” Rian langsung menyipitkan kedua matanya ragu. “Bener?” selidik Adrian. Ratu mengangguk cepat. “Iya, nggak papa, Rian. Nanti malem Rian jemput Ratu kan buat ke tempat Vania?” “Enggak bisa Ratu. Rian bakalan nemenin Vania seharian ini,” jelas Adrian tegas. Ratu mengangguk. Vania begitu berharga buat Rian sampai segitunya. Bahkan Ratu tidak pernah diperlakukan seistimewa tersebut dengan Adrian. “Ya udah, Ratu bisa naik taksi kok,” lirih Ratu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD