BAB 3
“Move on itu enggak
gampang untuk orang
yang jatuh cinta, kalau
move on cepat ya
berarti enggak cinta!”
“RIAN enggak jemput kamu, lagi?” Ratu mendongak menatap Tara lalu Ratu tersenyum kecil. Hari ini ia harus mencari alasan lagi agar Tara tidak melepas kepercayannya kepada Adrian.
“Rian lagi pecah ban, Ma,” Alasan Ratu.
Tara mengangguk. “Oh gitu, jadi kamu naik angkot lagi?” tanya Tara kembali.
Ratu mengangguk sedikit ragu. “Iya, kayaknya.”
Ratu beranjak berdiri untuk menyalami punggung tangan Tara. “Ratu pergi dulu yah Ma,” pamit Ratu.
Baru saja Ratu hendak keluar dari gerbang rumahnya, Adrian sampai dengan motor ninja hitamnya, namun kaca helm Adrian masih tertutup.
“Ri ... Rian?”
“Naik!” perintah Adrian tegas.
Ratu akhirnya naik ke atas motor Adrian dengan perasaan cemasnya. Adrian langsung menancap gasnya kencang melewati perempatan jalan dengan kecepatan tinggi karena sebentar lagi ia akan telat. Sesampainya di parkiran, Ratu langsung turun dari motor Adrian. Adrian langsung melepaskan helmnya.
“Wa-wajah lo kenapa?” tanya Ratu kepada Adrian ketika melihat wajah lebam milik Adrian.
Adrian menggeleng dan berdecak pelan. “Nggak papa,” jawabnya.
Ratu menatap nanar pada mata elang milik Adrian. “Kalau sakit, lo nggak usah jemput gue nggak papa kok. Gue bisa naik angkot kayak biasanya.”
“UDAH GUE BILANG GUE NGGAK APA-APA!” bentak Adrian.
Ratu terdiam, lehernya serasa tercekat. Buliran air hangat siap jatuh kapan saja dari pelupuk mata Ratu.
Adrian menghela napasnya. Dengan sigap ia langsung memeluk tubuh mungil milik Ratu. Ratu hanya diam menerima perlakuan dari Adrian. “Maaf,” lirih Rian.
Ratu hanya diam. Sudah biasa baginya mengalami hal-hal seperti ini. Tangan Ratu mengusap wajah lebam milik Adrian. “Kenapa bisa gitu?” tanyanya kepada Adrian.
Adrian mengulum bibirnya. “Biasa, gue tadi malem berantem lagi,” jawabnya enteng tanpa beban sedikit pun.
Ratu menghela napasnya. Ia langsung mengeluarkan satu botol alkohol dan kapas untuk membersihkan luka milik Adrian dari ranselnya.
Ratu selalu membawa kedua barang tersebut ke manapun ia berada, apalagi ketika ia sedang bersama dengan Adrian.
Dengan telaten Ratu membersihkan luka Adrian, Adrian tersenyum kecil dan samar, Ratu tidak tahu itu. Sekeras apa pun Raja the troublemaker membuat Ratu-nya sakit, Ratu bahkan selalu baik kepadanya.
“Rian nggak suka kalau Ratu-nya berinteraksi dengan orang lain,” celetuk Adrian, dan itu berhasil membuat jantung Ratu seketika berdebar.