Sebuah undangan sudah tergeletak di meja sore itu. Mawar menatapnya. Masih mengenakan baju handuk karena baru selesai mandi. Lalu, ia mengembuskan napas. Jujur saja, hari ini, ia sangat malas untuk pergi keluar. Apalagi kalau harus menemani Dimas menemui semua circle dokternya itu. Mawar semakin malas jika membayangkan ia harus berdiri sendiri di pojokan ruangan sembari memegangi gelas minumannya. Sedang semua orang, mulai mengobrol ria, mengabaikan keberadaan ia yang bukan siapa-siapa. Ck. Tapi Mawar harus mengikuti kemana Dimas pergi dan merasa, dirinya tidak boleh sekedar tampil apa adanya. Jadi, dengan berat hati, Mawar pun membawa alat makeup dan mulai merias diri dengan sebaik mungkin. Agar wajahnya tidak terlalu pucat dan seperti orang sakit kelaparan saat makan prasmanan nanti.

