"Makasih ya Dim? Kamu udah banyak banget ngebantu aku." "Sama-sama, Uni. Kamu beneran enggak mau bareng aja ke rumah sakit? Nanti kamu pulang ke sini lagi." Sembari membenahi tas yang ada di pundaknya, Uni pun menggelengkan kepala. Menolak tawaran baik Dimas. Kalau saja ia sedang tidak bawa barang yang sangat amat penting, mungkin Uni akan dengan senang mengiyakan ajakan tersebut. Hanya saja hari ini, lebih baik ia menyingkir terlebih dahulu dari Dimas. "Enggak deh, makasih. Aku takut ngerepotin kamu Dim aku bisa bawa sendiri. Makasih ya Dim? Bye." "Sama-sama, Uni. Bye." Dimas menganggukan kepala, membiarkan Uni pergi terlebih dahulu. Sebelum kemudian, mengalihkan atensi pada Mawar yang nampak diam bagaikan batu sejak tadi. Matanya benar-benar tak bisa berbohong bahwa kini Mawar tengah

