"Gimana kalau kita bikin perjanjian." Dimas yang tengah sibuk dengan urusannya di iPad pun mendongak kala menemui Mawar datang sembari membawa-bawa sebuah kertas dan bolpoin. Dengan gerik santai, wanita itu duduk jauh di sofa yang ada di depan sana, terhalang meja di tengah-tengah bahkan. Apa lagi sekarang? Dimas kan sudah memberikan ijin bagi mereka untuk tidur terpisah. Pun itu karena, Dimas merasa kasihan kepada sang istri yang ... entah kenapa, nampak ketakutan setiap mereka mulai dekat dan mengikis jarak, atau saat disentuh oleh Dimas sendiri. Dimas sangat tahu itu, terlihat dari bagaimana ekspresi Mawar. Namun entah apa yang pada akhirnya sang istri mau sampai masih tetap berani untuk tinggal di sini? "Perjanjian apa, Mawar?" "Perjanjian lima puluh hari kita, Mas. Batasan-bata

