Eps 7. Impian yang Terwujud

1630 Words
"Wushh... " Suara hembusan angin ombak terdengar sangat menenangkan aku melihat ke depan bagaimana indahnya pemandangan sunset ini ditemani dengan seseorang yang dapat kusebut pacar, dia merangkulku dan memberikan dekapan hangat. Dia berkata."Apapun yang kamu inginkan aku bisa menjadi seseorang yang kamu butuhkan." Dengan tersenyum kearahku dan otomatis aku ikut tersenyum saat melihatnya. Betapa bahagianya aku memiliki seseorang yang dapat aku andalkan dan aku sayangi, Ken adalah sosok yang sangat sempurna bagiku dia orang yang sangat perhatian, aku tidak ingin melepaskan orang-orang yang ada di dunia ini. Di tengah lamunanku sembari menatap indahnya matahari terbenam. Dengan hati-hati Ken bertanya."Kita akan bersama selamanya kan?" ucapanya sambil menatap penuh harap. Pertanyaan itu membuat aku sangat terkejut karena pertanyaan yang mungkin mudah untuk dijawab tapi tidak bagiku, bagaimana aku bisa bersama selamanya di sini? sedangkan aku masih tidak mengetahui bagaimana caranya aku bisa terhubung antara kedua dunia ini. "I-i-iya sepertinya, semoga saja kita akan terus bersama." jawabku ragu dan penuh harap agar itu bisa menjadi kenyataan. "Baguslah kalau begitu, hari ini tadi bagaimana? Apakah di Studio Dance kamu melakukan pekerjaanmu dengan baik?" ucapnya. "Hmm... Sepertinya aku melakukannya dengan baik, aku masuk ke dalam kelas A, yang mana hanya orang-orang yang berbakat saja bisa masuk ke dalam kelas itu, sepertinya aku berbakat, Ken." ucapku dengan penuh kebanggaan.  Ken tiba-tiba mengusap kepalaku. "OH ya, wow kamu memang hebat Rachel, aku tau kamu pasti akan selalu berhasil." dengan tersenyum senang dia menatap ke arahku.  "Terimakasih Ken sudah mempercayaiku." Sahutku dengan berat hati. "Ken sepertinya aku kurang tahu tentang dirimu, kamu tidak pernah bercerita apapun, apakah tak apa aku ingin tahu sesuatu tentangmu?" ucapku penuh harap, dan berharap dia tidak curiga terhadapku. "Hmm... Iya aku memang tidak banyak menceritakan tentang diriku, aku hanya ingin kamu merasa nyaman di dekatku, maka dari itu, aku tidak pernah ingin menceritakan sesuatu tentang diriku, agar kamu merasa nyaman." Jelasnya seolah meminta pengertian kenapa dia tidak pernah menceritakan dirinya. Tetapi rasa penasaranku lebih besar, karena tidak ada seorang pun di sini yang aku tau cerita hidup mereka, kalau di pikir-pikir aku juga tidak tahu seperti apa kehidupan Sana dan Carla. "Tak apa Ken aku memang ingin mendengar ceritamu, aku hanya merasa tidak pernah mendengarkan cerita orang lain dan aku merasa kamu sangat mengenalku, sedangkan aku tidak mengenalmu dengan baik." bujukku dengan rasa penasaran. "Baiklah kalau kamu ingin tahu, tapi ceritaku ini jangan pernah kamu kasih tahu siapapun ya, karena aku tidak ingin dikasihani oleh orang lain." ucapnya sambil menatap penuh harap kearahku. "Iya Ken, kamu tidak perlu khawatir." sambil tersenyum aku menatap ke arah Ken. "Aku besar di sebuah panti asuhan, dari masih bayi aku sudah ada di sana kata kepala panti, aku tidak pernah tahu bagaimana wajah orang tuaku, tetapi baru-baru ini aku ingin mencari tahu kenapa aku bisa sampai berada di panti asuhan itu, makanya aku meminta kita untuk tidak bertemu selama 3 hari, aku berterimakasih kepada kamu Rachel karena sudah mau memberiku waktu itu untuk menyelesaikan permasalahanku." Sambil tersenyum kearahku seolah aku memang orang yang baik menurutnya. "Oh iya, tak apa, bagaimana hasilnya, apakah kamu sudah tahu seperti apa wajah orang tuamu." ucapku sedikit terkejut, aku tidak tahu alasan kami berpisah karena Ken yang meminta, untung saja alasan yang kuberikan tidak membuat siapapun curiga. "Hemm... Sepertinya aku tidak ingin mengetahui mereka seperti apa, aku sangat sedih ketika mengetahui orang tuaku membuangku di depan panti asuhan dan tanpa ada sedikitpun penyesalan, aku di perlihatkan oleh kepala panti rekaman cctv yang sudah lama disimpanya. Apakah mereka pantas untuk disebut orang tua, mereka hanya manusia yang lebih rendah dari binatang, karena mereka membuangku aku selalu diejek oleh teman-temanku, sampai aku besar tidak pernah satu orangpun yang tidak mengejek aku, kalau mereka tidak mengejek, mereka akan menatapku sinis, dunia memang tidak adil saat itu kepadaku, tetapi setelah bertemu kalian kehidupanku menjadi lebih baik, aku merasa aku diterima sebagai teman dengan semua kekuranganku." ucapnya sambil menahan emosi yang sangat dalam. "Hah, kenapa bisa seperti itu? Kenapa mereka jahat sekali kepadamu? Ken kamu pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik." ucapku sambil memeluknya, dan kutepuk punggungnya dengan lembut seolah meyakinkan kalo dia akan bahagia, aku tidak tahu kalau dia memiliki cerita yang sangat menyedihkan, aku pikir hanya aku yang hidup di dunia yang sangat menyedihkan. "Terimakasih Rachel aku senang kamu mendengarkan ceritaku, aku pikir aku akan memendam ini selamanya." Memelukku dengan erat seolah tidak ingin kehilanganku Sambil melepaskan pelukan dan kugenggam erat tanganya, "Yang penting kamu sudah bahagia sekarang, kamu punya aku di sini yang akan berbagi segalanya bersamaku." Kuyakinkan dia agar tidak perlu khawatir. "Aku memang tidak salah memilih jalan ini, karena aku sangat bahagia di sini, apakah kamu ingin pulang Rachel?" Dia bertanya kepadaku. "Hari ini aku ingin terus bersamamu, menghabiskan malam bersamamu, aku hanya takut kalau aku tertidur kita tidak akan bertemu besok." ungkapku tanpa sadar. "Kenapa kita tidak bisa bertemu besok?" kagetnya sambil mengangkat alis penuh dengan kebingungan. "Oh, e-e-e... Maksud aku, aku hanya ingin bersamamu malam ini, apakah kita akan menginap di hotel?" tangkisku berusaha mengalihkan perhatiannya. “Hotel?” jawabnya sambil bingung dan menatap tajam kearahku. "Baiklah kalau itu mau mu, kita akan menginap di hotel, hari sudah mulai gelap juga, ayo kita pergi dari sini." jawabnya sambil berdiri. Hah! Apa yang baru saja aku ucapkan. “A...anu bukan itu masudku, kita....” “Ayo masuk mobil, di sini sangat dingin.” Potong Ken dan memanggilku dengan cepat menuju mobil sambil menarik tanganku. Aku tak sempat berkata lagi karena Ken langsung menarik tanganku, tapi untung saja dia tidak curiga ucapanku sebelumnya. Dan kapan lagi aku bisa bersama dengan Ken, aku saja tidak tahu kapan aku akan kembali ke dunia nyata. Tapi... Hotel! ... Untuk mengatasi kecanggungan ini di dalam mobil aku sambil melihat ke arah jalan dari kaca mobil dan berpikir tentang kehidupan dunia barbie yang ada disini setelahnya mendengar cerita dari Ken. Apakah mereka punya kisah sedih masing-masing? apakah aku saja yang merasa selama ini kisah hidupkulah yang paling menyedihkan sehingga tidak tahu apapun dengan cerita mereka? betapa egoisnya aku tidak pernah berpikir akan hal itu, aku hanya mengharapkan teman tapi tidak ingin mengetahui kisah mereka. Ternyata tidak hanya di dunia nyata yang memiliki kisah hidup yang menyedihkan, di sini juga memiliki kisah mereka masing-masing. Di tengah pikiranku tidak lama kami sampai di sebuah hotel yang cukup mewah, kami turun dan berjalan ke arah lobi, hotel mewah ini tidak terlalu banyak memiliki pengunjung, di lobinya sangat sepi, pikirku. "Selamat datang di hotel Sunshine, ada yang bisa saya bantu?" sapa pegawai hotel itu "Kami ingin memesan satu kamar yang menghadap ke arah pantai." jawab Ken sambil menatap seolah menggodaku. Aku langsung memalingkan kepalaku seolah-olah tidak mendengar. “Untuk berapa malam?” “Satu malam saja” "Baiklah, tunggu sebentar saya periksa terlebih dahulu. Iya ini ada satu kamar kosong yang menghadap ke arah pantai, no kamarnya 88, berada di lantai 3, silahkan." ucap pegawai hotel dengan ramah. "Iya terimakasih" ucap kami bersamaan. "Terimakasih kembali, selamat beristirahat." Kamipun berjalan menuju kamar dengan canggung dan berjauhan, tanpa suara, bahkan saat menatap pun terasa canggung, tapi sepertinya hanya aku yang merasakan itu. Kemudian Ken memegang tanganku selama perjalanan sampai ke depan kamar hotel kami. Saat dia melepaskan tangannya untuk menggesek kartu kamar. Secara spontan aku langsung bilang padanya, “Kamu harus memikirkan ini lebih baik lagi!, karena aku tidak akan tidur nanti.” ungkapku dengan cepat dan tanpa pikir, karena sakin takut dan gugupnya aku saat berjalan dengannya menuju kamar itu. “Kamu tidak akan tidur?” ucapnya dengan terkejut. “Baiklah! aku juga tidak akan tidur, mari kita bergadang sepanjang malam berdua.” Lanjutnya dengan langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan serius dan tajam kemudian tertawa kecil sambil menahan tawanya sambil masuk kekamar. “Hah! Bukan itu maksudku..., iiich dasar mulut ini.” sambil memukul mulutku sendiri, “Tuh kan dia jadi salah paham.” sambil menyesali tindakan aneh dan pikiran anehku ini. Apa yang aku pikirkan? Bukan saatnya untuk memikirkan hal aneh Rachel. Aku perlahan masuk ke dalam kamar itu dan tekagum-kagum dengan interior kamar hotel itu yang sangat indah mehadap ke arah pantai, dengan nuansa biru laut dan dipenuhi dengan ornamen-ornamen pantai. "Kamar ini sangat bagus." ungkapku penuh dengan kekaguman. Berharap suasana canggung ini segera berakhir. "Iya bagus, apa lebih baik kita langsung beristirahat saja, kamu kan sudah lelah dari pagi ikut latihan menari." ucap Ken dengan perhatian. "Baiklah" aku menggangguk setuju. "Aku membersihkan badanku dulu ya, baru aku akan istirahat." sahutku sambil menuju kamar mandi. "Baiklah, aku mau berbaring di kasur ya." ucapnya. Setelah beberapa saat aku selesai membersihkan badan dan langsung berjalan ke arah kasur agar dapat segera berbaring, aku baru ingat, kalo aku tertidur aku takut untuk kembali ke dunia nyata, ini waktu yang paling indah bersama Ken tidak mungkin aku kembali, baiklah aku tidak boleh tertidur, aku harus mendengarkan cerita Ken lagi. "Ken apa kesukaanmu? Hal apa yang paling kamu benci? Dan kenapa kamu suka padaku?" tanyaku agar aku tidak tertidur. "Kesukaanku adalah besantai dengan orang-oramg yang peduli denganku, dan aku juga menyukai olahraga, dan aku menyukai kamu Rachel," sambil tersenyum kepadaku."Hal paling aku benci adalah ketika orang-orang merasa kasihan dengan hidupku, seolah-olah aku tidak memiliki harapan lagi, aku sangat benci melihat pandangan orang terhadapku." dengan penuh perasaan dendam dia mengungkapkan ketidaksukaannya itu. "Dan kenapa aku suka kamu, karena kamu adalah seseorang yang tidak pernah menjadi orang yang kubenci, kamu selalu perhatian dan mengerti aku, tidak peduli seperti apa aku, dan yang paling membuat aku terkejut adalah setelah aku menceritakan semua kisahku tatapanmu tidak mengasihani aku tapi kamu malah berusaha menemaniku dan ingin mengerti kenapa itu terjadi kepadaku" Ken berbicara panjang lebar dan membuat aku sangat mengantuk. Tapi aku berusaha untuk terjaga dan lama-kelamaan mataku mulai menutup dan aku sudah masuk ke dalam tidurku. Pikiranku hanya berharap untuk tidak kembali saat ini. Apakah aku akan ada di sini pagi nanti? Aku harap aku masih berada di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD