Eps 15. Kebenaran yang Terungkap

1588 Words
Melihat indahnya tawa mereka membuat hatiku terasa begitu bahagia, hanya kebahagiaan yang ada, semuanya terasa bagaikan mimpi bisa berada di sini, aku tersenyum dan ikut bercanda gurau bersama, ditengah perbincangan kami aku memikirkan Ken, aku rasa apabila Ken ada di sini dia akan berteman baik dengan Hans. Aku mencoba menghubungi Ken untuk mengajaknya berkumpul bersama, "Hello Ken" "Iya Rachel ada apa?" sambungnya "Apa kamu sibuk hari ini?" "Tidak, kenapa?" "Apakah kamu bisa ke tempat tariku sekarang?" ucapku penuh harap. "Tentu saja, sebentar lagi aku ke sana" "Baiklah, aku tunggu byee" "Iyaa"  Aku memberitahukan kepada mereka kalau aku mengajak Ken untuk bermain bersama kami, "Teman-teman, aku mengajak Ken ke sini" "Oh ya, that's great" ucap carla. "Tapi dia tidak marah denganku kan?" balas Hans dengan Khawatir. "Itu salah satu alasanku mengundang Ken, agar kalian bisa berteman hehe" ucapku memohon pengertian "Ya sudah kalau begitu, aku tak masalah" ucap Hans Aku hanya membalas senyuman ke arah Hans seolah aku berterima kasih kepadanya telah menerima Ken dengan baik, aku sangat berharap mereka berteman. Tak lama kemudian Ken datang dengan membawa pizza untuk kami, dia tersenyum ke arahku seolah bahagia melihat aku, tapi ku lihat ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah setelah menatap Hans, dia seperti sedang menatap musuh dengan ekspresi datar dan tatapan mata yang tajam, memang aku tak mengatakan apapun tentang Hans ada di sini, karena aku takut Ken menolak untuk datang, Ken duduk di sebelahku sambil mengusap kepalaku dan aku tersenyum ke arahnya, tiba-tiba suasana menjadi hening, udara dingin diantara mereka sangat terasa, aku berusaha mencairkan suasana dengan memperkenalkan mereka. "Ken, ini Hans dan Hans ini Ken" ucapku sambil tersenyum tipis. Tapi tak ada komentar apapun dari mereka, mereka tak bergeming dan hanya menatap satu sama lain. Aku melihat itu berusaha bertungkar pandang dengan Carla dan Sana, Sana yang tidak peduli hanya mengangkat bahunya seolah mengatakan dia juga tidak tahu harus bagaimana, kemudian aku menatap Carla berharap dia dapat memberikan solusi untuk suasana ini, Carla yang melihatku menatapnya berusaha mencairkan suasana. "Oh my god, suasananya dingin sekali, aku rasa kalian terlalu kaku, santai saja darling, relax" ucap Carla "Nih makan Pizza ini sebelum dingin" sambil menyodorkan pizza ke mulut mereka. Mulut mereka penuh dengan pizza, sehingga hanya terdengar suara kunyahan dari mulut Hans dan Ken, Ditengah kejadian itu semua Hans berbicara kepada Ken "Aku tahu kamu salah paham akan pertemanan kami, aku minta maaf ikut terbawa emosi." ucap Hans berusaha mengalah. Ken yang sedikit terkejut dengan permintaan maaf Hans mulai merasa terbuka "Aku juga minta maaf, salah mengira hubungan kalian lebih dari teman, tapi bukan berarti aku tidak cemburu lagi kalian berduaan." Mereka berdua mulai membuka obrolan satu sama lain, melihat itu aku mulai tersenyum dan mengharapkan mereka menjadi seorang teman, Carla yang melihat itu juga ikut menimpali pembicaraan mereka.  "Oh god, so beautiful, kalau kalian akur, kita semua bisa menjadi teman, so guys lebih baik kami para perempuan akan meninggalkan kalian berdua untuk berbicara." Ucap Carla sambil menarik tanganku dan Sana. Aku dan Sana saling tukar pandang karena terkejut dengan perkataan Carla tapi kami hanya mengikuti arahan Carla tanpa bertindak banyak. Setelah cukup jauh dari mereka berdua aku menepuk punggung Carla, karena idenya yang datang tiba-tiba tanpa pemberitahuan. "Carla, kenapa kita harus pergi" ucapku "Apakah akan baik-baik saja meninggalkan mereka berdua?" tambahku. "Iya, Rachel apakah mereka akan baik-baik saja?" Sana menimpali. "Calm down guys, i know perasaan kalian sekarang, tapi aku lihat sepertinya Hans bukan orang yang ingin memusuhi siapapun, dan dia sepertinya tidak tertarik dengan Rachel" ucap Carla sambil memandang ke arahku. "Baiklah aku akan mempercayaimu" ucapku penuh sabar. Disisi lain Ken dan Hans sedang berbicara lebih dalam satu sama lain, Ken dengan rasa penasarannya ingin mengetahui kenapa Rachel bisa dekat dengan Hans. "Kenapa kamu bisa dekat dengan Rachel ?" tanya Ken "Untuk dibilang dekat sepertinya belum, aku dan Rachel hanya berteman, tapi kami tidak sedekat itu" Ucap Hans santai. "Benarkah ?" Ken tidak percaya, "Bagaimana kalian mulai mengenal?" Ken mulai penasaran. "Itu dimana hari kamu berteriak dengan Rachel" ucap Hans sinis, "Hari itu aku latihan menari seperti biasa dan tiba-tiba ada seorang gadis bertepuk tangan dengan penampilanku, itu pertama kalinya bagiku mendengar orang lain bertepuk tangan akan penampilanku, aku masih terjebak di sini untuk mengatasi rasa takut, jadi aku ingin berteman dengannya dan aku ingin bertanya lebih dalam tentang tarianku menurut pandangannya, dan kebetulan yang lucu kami adalah tetangga," dengan santai dia memandangi Ken. Sambil mengangkat alis Ken bertanya"Apa kamu yakin tidak ada perasaan apapun kepada Rachel?"  "Bagaimana bisa kita menyukai seseorang hanya dalam satu kali pertemuan" sambil tertawa kecil, "Aku bukan orang yang percaya akan hal itu" ucap Hans memastikan. "Kalau begitu baguslah, aku harap kamu tidak menyukai Rachel" ucap Ken penuh harap. Hans tertawa sambil berkata "Tapi tidak tau kedepannya, bersikap baiklah kepada Rachel"  Mereka berdua saling memandang satu sama lain, tertawa dengan tingkah konyol mereka seperti anak-anak, perasaan benci yang dirasakan Ken mulai hilang, dan tujuan Ken sekarang hanya untuk bersama dengan Rachel tanpa menimbulkan kesalahpahaman lagi. ... Rachel memutuskan untuk pulang bersama Ken dan meninggalkan Carla, Sana dan Hans, sebenarnya untuk saat ini mereka bukan prioritasnya Rachel, yang diprioritaskan sekarang adalah Ken, Rachel percaya mereka bertiga akan baik-baik saja sedangkan Ken perlu seseorang untuk menemaninya. Aku tersenyum ke arah Ken sambil memegang tangannya dan bertanya mengenai dia dan Hans "Bagaimana tadi perbincangan kalian?" ucapku sambil menatap ke arah Ken. "Ya seperti itulah, aku rasa cemburuku terlalu kekanakan hehe" ucap Ken malu. "Artinya kalian sudah berbaikan" "Mungkin bisa dibilang begitu, tapi kalau kalian jalan berdua lagi harus kabarin aku ya" dengan wajah memelas. Sambil kupegang kepalanya dan kuusap dengan lembut "Iya Ken, kami hanya bertemu sekali, tidak mungkin dia suka sama aku, dan aku tak akan melepaskanmu" ucapku. "Terimakasih, aku hanya tidak ingin ditelantarkan oleh orang lain lagi, seperti saat itu" ucap Ken. Sambil memandang ke arah Ken dan rasa penasaranku mulai memuncak mendengar kalimat itu lagi, kalimat yang membuatku bertanya-tanya "Orang tuamu menelantarkan kamu sejak kecil kan? Tapi pasti kamu dikelilingi oleh orang-orang baik , kenapa kamu masih ada trauma?" "Aku tidak dikelilingi orang-orang baik Rachel" sambil menatap ke arahku, "Hanya sekarang orang baik selalu ada didekatku, seperti kamu" ucapnya. Rasa penasaranku semakin dalam dan ingin menggali lebih jauh mengenai Ken, entah kenapa hati kecilku merasa Ken bukan dari dunia ini, "Aku tahu kamu bukan dari dunia ini" ucapku dengan hati hati. Mendengar pernyataanku Ken terkejut dan memandangiku cukup lama "Apakah semua barbie di sini tahu, aku bukan berasal dari sini." Mataku membuka lebar, aku sangat terkejut mendengar ucapan Ken, hati kecilku berkata yang sebenarnya. Apakah aku juga harus jujur kepada Ken, atau aku hanya akan terus berpura-pura, pikiranku sekarang dipenuhi dengan pertanyaan yang harus aku pilih, dengan tekad yang kuat aku menarik nafas dalam dan berkata "Aku juga bukan dari dunia ini" ucapku tegas. Mendengar ucapanku Ken hanya terdiam, matanya seolah tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan, semua keadaan menjadi hening hanya terdengar suara angin dan daun pohon yang bergesekan satu sama lain, ditengah keheningan itu Ken mulai berbicara "Apakah kamu manusia?" ucapnya. "Iya" ucapku pelan. "Sejak kapan?" "Mungkin sejak kita tidak bertemu selama 3 hari itu"  "Saat itu aku memastikan kenapa aku di tinggal di panti asuhan, dan karena itu aku memutuskan untuk tinggal di sini selamanya dan karena ada Rachel di sini" "Apakah kamu di sini karena aku?" "Sebenarnya bukan hanya kamu di sini tapi karena memang kehidupan di sini lebih baik daripada di luar sana." "Apakah sebelumnya aku sudah ada?" aku bertanya-tanya. "Iya, itu juga yang membuat aku bingung, kenapa kamu tiba-tiba seorang manusia? Dan aku rasa kamu memang berubah setelah aku pergi." "Aku bingung dengan keadaan ini, berarti aku selama ini memang sudah ada di sini atau aku yang mengambil alih barbie ini" "Aku juga tidak tahu, yang pasti aku sudah tidak bisa kembali ke dunia nyata, aku sudah memilih untuk berada di sini" ucap Ken pasrah. "Sebenarnya aku punya seseorang di dunia nyata yang tahu sistem kerja dunia ini tapi untuk saat ini sepertinya aku belum bisa kembali ke dunia nyata" ucapku dengan kecewa. "Kenapa? Apakah ini waktu terakhir kamu? Seandainya aku tahu kamu manusia mungkin aku lebih memilih tinggal di dunia nyata dan bertemu kamu" ucap Ken sambil memeluk aku. Aku melepaskan pelukannya "Tenang saja, aku akan terus berada di sini bersamamu, dan apabila aku ke dunia nyata aku akan mencari tahu bagaimana mengeluarkan kamu dari sini dan kita akan bertemu di dunia nyata." ucapku dengan ragu. "Baiklah, aku rasa kita tidak perlu khawatir dan seandainya aku tidak bisa kembali dan kamu memilih tinggal di sana kamu harus memberitahu agar aku siap" ucap Ken. Kami berdua pulang sambil berpegangan tangan, kami hanya terdiam setelah mengetahui identitas kami masing-masing, kami sekarang merasa lebih terikat dan mengandalkan satu sama lain. ... Dadaku seperti dihantam batu yang keras, kepalaku pusing sekali seperti ingin meledak, aku tidak percaya dengan apa yang terjadi, ternyata bukan aku saja manusia di sini, seandainya aku dari dulu mengetahui Ken adalah manusia mungkin aku akan berada di dunia nyata, aku akan bertemu dengan Ken dengan wajah manusia kami, sebenarnya aku sendiri tidak yakin dengan ucapanku mengenai Ales, sekarang pikiranku sangat kacau dan berusaha menenangkan diri. Aku harus mencari tahu bagaimana caraku kembali dengan sisa waktuku yang tidak banyak, aku sebenarnya tidak menyesali keputusanku untuk berada di sini selamanya tetapi saat mengetahui Ken adalah manusia aku memiliki penyesalan, mungkin aku bisa saja bertemu Ken di dunia nyata dan memiliki kehidupan yang lebih baik tapi semua itu terlambat, sekarang aku harus mengetahui bagaimana caranya untuk membuat Ken menjadi manusia kembali agar kami dapat lebih bahagia di dunia nyata. Sepertinya Ales adalah jawaban dari semua teka-teki ini, batinku.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD