Bab 11

1601 Words
Chloe menendang batu-batu kecil yang ada di pinggir jalan sambil mengayun-ayunkan tas tangan miliknya. Ia benar-benar tak tahu lagi harus melakukan apa untuk membuat Chris mau bertanggung jawab. Sudah tiga hari ini ia terus merengek bahkan memohon kepada Chris, tetapi pria itu hanya bersikap tak acuh. Ia sadar kalau kehamilannya terjadi karena dirinya dan kehamilannya juga merupakan konsekuensi yang harus ditanggungnya atas penawaran yang telah dibuatnya. Ia tak mungkin bisa seperti ini kalau tidak menawarkan dirinya untuk menjadi pengganti Lori. Namun, malam di mana Chris tidak memakai pengaman saat b********h dengannya, apa itu juga termasuk salahnya? Entahlah, ia benar-benar bingung. Kalau saja ia hanya sendirian di dunia ini, ia pasti akan langsung pergi begitu Chris menolak untuk bertanggung jawab. Tetapi sayangnya ia punya Jordan yang pasti sangat kecewa dengan kehamilannya itu. Ia benar-benar tidak ingin Jordan kecewa dengannya. Jika tidak ada pria yang mau mengakui anak yang tengah dikandungnya saat ini, kakaknya itu pasti akan menganggapnya sebagai p*****r. Dan ia tahu kalau Jordan sangat benci dengan p*****r. Dan soal Lori, sebenarnya istri dari kakaknya itu sudah mengetahui tentang dirinya yang sekarang tengah menggantikan posisinya sebagai pemuas nafsu Chris karena beberapa waktu yang lalu, ia sempat pulang ke London karena ada masalah yang tengah menimpa Jordan dan Lori. Namun, Lori belum mengetahui tentang kehamilannya. Dan ia tak mau Lori merasa bersalah ketika wanita itu tahu kalau dirinya tengah hamil anak Chris. Ia yakin jika kakak iparnya itu pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Ia benar-benar tak ingin hal itu terjadi. Chloe yang dulunya menganggap Chris sebagai pria terbaik di dunia ini, langsung mengubah haluannya dengan menganggap pria itu sebagai pria terbrengsek dan terpengecut di dunia ini. Bagaimana tidak, ia bahkan rela harga dirinya diinjak-injak oleh pria itu hanya karena ingin meminta pertanggung jawabannya saja, tetapi pria itu terus saja mengabaikannya. Jika ia harus memilih, ia juga tidak akan mau hamil dalam keadaan seperti ini. Namun, ia tidak mungkin membunuh bayi yang tengah dikandungnya saat ini. Demi Tuhan, ia masih cukup waras untuk tidak melakukan hal segila itu. Dan jujur saja, ia mencintai bayi yang tengah dikandungnya karena di dalam darah bayi itu, mengalir darah seorang pria yang dicintainya. Terdengar sangat konyol memang. Brak! Chloe merasakan tubuhnya yang tertabrak sesuatu yang sangat keras yang membuatnya terjatuh di atas aspal. Ia lalu meringis pelan ketika merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia melihat ke sekelilingnya untuk mencari seseorang yang sudah membuatnya seperti ini. Namun, ia tak menemukan siapa pun. Seseorang yang tadi menabraknya sepertinya sudah melarikan diri. Ia sedikit menyesal karena memilih berjalan di jalanan yang cukup sepi seperti ini. Sialnya, tak ada satu pun orang yang berniat untuk membantunya saat ini. Chloe berusaha untuk bangkit sambil menahan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya. Namun, belum sempat ia menegakkan tubuhnya, ia kembali terjatuh. Namun, kali ini disebabkan oleh seseorang yang tiba-tiba saja mendorongnya. Setelah itu, ia mendengar suara decitan yang cukup memekakkan telinga. Ia tak tahu dari mana suara itu berasal karena tubuhnya berada dalam pelukan orang yang tadi mendorongnya. Beberapa menit setelahnya, Chloe merasakan kalau orang yang tadi memeluknya, kini sudah melepas pelukannya di tubuhnya. Dan ia bisa melihat dengan jelas seseorang yang tadi membantunya adalah seorang pria muda dengan seragam polisi yang melekat di tubuhnya. "Apa kau baik-baik saja, Nona?" tanya pria tersebut setelah Chloe berhasil bangkit berdiri. "Ah, iya. Aku tidak apa-apa. Terima kasih." "Ikutlah denganku. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit." "Tidak perlu. Sungguh, aku baik-baik saja." "Orang yang tadi menabrakmu, sepertinya dia memang berniat untuk mencelakaimu. Dia memang sudah pergi, tetapi dia bisa saja kembali setelah aku pergi. Setidaknya, kau akan aman jika ikut denganku menggunakan mobil polisi." Chloe tampak berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya untuk ikut dengan polisi tersebut. Namun, ia tertegun sejenak ketika ia ingat kalau dirinya sedang hamil. Dengan panik, ia langsung mengeceknya yang berakhir dengan helaan napas lega yang keluar dari mulutnya karena ia yakin jika kandungannya aman walaupun ia sempat tertabrak.   ••••   Chloe menatap langit-langit kamar rawatnya dengan tatapan kosong. Tangannya tampak mengelus perutnya terus menerus. Ia memang dibawa ke rumah sakit oleh polisi yang tadi menyelamatkannya. Dan dokter yang menanganinya menyarankannya untuk dirawat inap karena ada sedikit masalah dengan kandungannya. Jujur saja, setelah ia tahu kalau dirinya mungkin sedang dalam bahaya karena seseorang yang menabraknya tadi memang berniat untuk mencelakainya, ia tak terlalu memikirkan hal tersebut karena pikirannya sudah penuh dengan Chris dan bayinya. Ia bahkan tak sempat untuk menebak siapa orang yang berniat untuk mencelakainya. Lamunan Chloe buyar ketika telinganya menangkap suara pintu kamar rawatnya yang terbuka. Matanya segera beralih ke arah pintu tersebut. Dan detik itupula matanya tampak membelalak lebar karena tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat melihat Chris lah orang yang tadi membuka pintu kamar rawatnya. Dan saat ini, pria itu tengah berjalan ke arahnya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Chris dengan ekspresi datarnya setelah ia berdiri di sisi ranjang Chloe. Chloe menelan ludahnya kelu. "Ke-kenapa kau bisa ada di sini?" "Seseorang meneleponku dan memintaku untuk ke sini." Chloe tersenyum miris. Ia pikir Chris datang ke sini karena mencemaskan dirinya. Padahal, hatinya sudah berbunga-bunga melihat kedatangan pria itu. Namun, perkataannya barusan membuatnya sadar kalau Chris yang sekarang adalah seorang b******n. Chloe bangkit dari posisi tidurnya diiringi dengan ringisan kecil yang keluar dari mulutnya. Chris hanya diam saja saat melihat Chloe yang kesusahan seperti itu hanya untuk duduk saja. Pria itu bahkan tak memiliki niatan sedikit pun untuk membantu Chloe. Benar-benar kejam. Setelah berhasil duduk dengan sempurna, Chloe melayangkan tatapannya ke arah Chris yang masih dalam posisi yang sama dengan ekspresi yang masih sama pula. "Chris, aku mohon," ucap Chloe dengan pandangan memohonnya. Tanpa berkata lebih lanjut, ia tahu jika Chris mengerti dengan permohonannya itu. "Sepertinya kau baik-baik saja. Aku pulang dulu kalau begitu," sahut Chris yang lantas langsung bersiap untuk meninggalkan Chloe. Chloe menahan lengan Chris yang membuat pria itu menghentikan langkahnya. "Aku mohon. Setidaknya akui dia sebagai anakmu. Aku mohon, Chris." Chris menghentakkan lengannya yang langsung membuat pegangan Chloe di lengannya terlepas. Ia lalu menatap Chloe dengan dingin dan datar. "Sudah kukatakan berapa kali kalau dia bukan anakku," ia menegaskan setiap kata yang dilontarkannya. Chloe menggeleng-gelengkan kepalanya. Bibirnya tampak bergetar karena ia berusaha untuk menahan tangis yang sudah siap untuk keluar dari matanya. "Aku mohon. Aku tidak ingin membuat Jordan kecewa denganku. Aku hanya ingin kau mengakuinya sebagai anakmu. Hanya itu. Aku tidak ingin membuat Jordan kecewa karena tidak ada pria yang mau mengakui bayi ini sebagai anaknya," ia kembali memohon, kali ini suaranya terdengar parau. "Kau hanya ingin pengakuan?" Chloe mengangguk dengan cepat. Ada secercah harapan yang muncul di dalam hatinya ketika Chris melontarkan pertanyaan seperti itu. Entah kenapa ia merasa kalau Chris akan mengabulkan permohonannya. "Aku akan menyuruh Mark untuk menjadi Ayah dari anak yang kau kandung." Harapan yang tadinya sudah memenuhi hatinya, kini hancur setelah Chris mengatakan kalimat yang terdengar tidak waras seperti itu. "Apa kau gila?" tanya Chloe dengan tatapan tak percayanya. "Kau bisa menyebutku gila kalau kau mau," sahut Chris yang setelahnya langsung pergi meninggalkan Chloe dengan angkuhnya. Chloe mendengus sinis setelah Chris keluar dari kamar rawatnya. "Dia benar-benar gila," ucapnya seraya menekan kuat rasa sakit dihatinya yang sepertinya akan membuat hatinya meledak sebentar lagi karena terlalu banyak dilukai oleh pria itu.   ••••   Chloe tampak mondar-mandir di depan pintu apartemen Chris. Kemarin, ia baru saja pulang dari rumah sakit setelah empat hari ia dirawat di sana. Ia sempat tinggal di apartemennya sendiri setelah keluar dari rumah sakit. Ia benar-benar sakit hati dengan perkataan Chris saat di rumah sakit waktu itu. Dan sekarang, ia kembali ke sini bukan untuk membuat pria itu bertanggung jawab atas kehamilannya. Rasanya sudah cukup ia merelakan harga dirinya diinjak-injak oleh pria itu. Namun, ia ke sini karena ingin meminta bantuan pria itu karena ada satu hal yang harus diselesaikannya yang tak bisa ia kerjakan seorang diri. "Kenapa kau berdiri di situ?" Chloe langsung menoleh ke belakang begitu ia mendengar suara Chris. Ia lalu mendapati pria itu yang sepertinya baru saja pulang dari kantornya. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku mohon, dengarkan aku untuk kali ini saja," pinta Chloe dengan wajah memelasnya. Chris tampak berpikir sejenak sebelum menganggukkan kepalanya lantas mempersilakan Chloe untuk masuk ke dalam apartemennya. "Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Chris setelah mereka berdua duduk berhadapan. "Bantu aku untuk mengungkap orang yang membuat hubungan Jordan dan Lori menjadi berantakan," jawab Chloe dengan jelas. Chris tampak mengerutkan keningnya. "Hubungan Lori dan Jordan?" tanyanya untuk memastikan yang langsung dibalas dengan anggukkan kepala oleh Chloe. "Kalau kau berhasil, aku berjanji untuk tidak lagi meminta dirimu bertanggung jawab atas kehamilanku. Aku berjanji akan melupakan apa yang pernah terjadi di antara kita. Aku akan menganggap kalau bayi ini ada hanya karena diriku saja. Aku berjanji," ucap Chloe yang terlihat begitu yakin dengan apa yang dikatakannya barusan. Jujur saja, awalnya Chris senang ketika mendengar kabar kalau hubungan Jordan dan Lori berantakan. Dan awalnya ia tidak akan membantu Chloe karena itu adalah kesempatannya untuk kembali mendapatkan Lori. Namun, setelah ia mendengar janji-janji yang disebutkan oleh wanita itu, ia langsung berubah pikiran. "Aku akan membantumu," ucap Chris pada akhirnya yang membuat Chloe merasa lega sekaligus merasa ingin mati saja. Dan dua minggu setelahnya, Chris berhasil menepati janjinya. Detik itupula, Chloe memutuskan untuk pergi dari hidup Chris. Ia berhenti dari pekerjaannya dan akan menetap di London bersama Jordan dan Lori. Ia akan menjelaskan semuanya kepada kakaknya nantinya. Dan Chloe memutuskan untuk mengurus anaknya seorang diri. Seperti yang Chris minta, ia akan menganggap kalau hanya dialah penyebab bayi itu hadir ke dunia ini. Ia tidak akan pernah menganggap Chris sebagai ayah dari anaknya. Tidak akan pernah. Hati dan harga dirinya sudah hancur tak karuan karena pria itu. Flashback off
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD