Bab 10

1364 Words
Chloe tampak menghela napas panjang beberapa kali setelah berada di dalam kamarnya. Ia lalu mengambil duduk di pinggir ranjangnya lantas mengeluarkan suatu benda yang baru saja diterimanya beberapa saat yang lalu. Benda yang berisi tentang pernyataan kehamilannya. Kehamilan yang tak pernah ia bayangkan sekalipun. Kehamilan yang langsung memunculkan rasa cemas dan bahagia di dalam hatinya dalam satu waktu yang sama. "Apa yang harus aku lakukan?" lirih Chloe dengan mata yang menatap lurus ke arah kertas pernyataan kehamilannya tersebut. Hari-hari sebelumnya sejak Chloe merasakan adanya perubahan yang terjadi pada tubuhnya, ia memang berniat untuk memeriksakannya. Saat itu, ia mulai curiga dan merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi pada tubuhnya. Dan setelah ia memeriksakannya sepulang bekerja tadi, rasa curiga yang selama beberapa hari ini terus saja menemaninya, akhirnya terungkap juga ketika ia mengetahui kalau dirinya tengah hamil. Ia tak mengerti bagaimana bisa ia hamil. Setahunya, Chris selalu memakai pengaman saat ingin berhubungan dengannya. Rasanya tidak mungkin ia hamil di saat dirinya melakukan seks yang aman bersama Chris. Sampai saat ini, ia masih sulit untuk memercayai bahwa dirinya tengah hamil. Ia bahkan tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain Chris yang selalu saja memakai pengaman. Tidak mungkin ia dihamili oleh makhluk halus. Itu terdengar mengerikan. Chloe melirik jam tangannya yang sejak tadi masih melingkari pergelangan tangannya. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi sebelum Chris pulang. Dan ia hanya punya waktu dua jam saja untuk memikirkan apakah ia harus langsung memberitahu kepada Chris soal kehamilannya atau menundanya sampai ia menemukan waktu yang tepat. Tetapi setelah dipikir-pikir, apa setelah ia memberitahukannya kepada Chris, pria itu akan langsung bertanggung jawab? Chris pasti akan memastikan terlebih dahulu soal anak yang tengah dikandungnya. Ia saja masih belum bisa memercayai tentang kehamilannya karena ia dan Chris selalu bermain aman, apalagi pria itu. Chloe mengacak rambutnya frustasi. Ia tak mengerti kenapa semuanya bisa berubah menjadi serumit ini. Demi Tuhan, ia memang mencintai Chris walaupun pria itu dengan terang-terangan menolak cintanya, tetapi ia tak pernah berharap sedikit pun kalau ia akan mempunyai anak dari Chris. Ia memang masih bingung kenapa ia bisa hamil, tetapi ia yakin jika anak yang tengah dikandungnya saat ini adalah anaknya dan Chris karena selama ini ia hanya berhubungan dengan pria itu saja. Dan sekarang, ia bingung bagaimana caranya menjelaskan tentang kehamilannya yang aneh ini kepada Chris nantinya. Sungguh, walaupun ia masih bingung dengan kehamilannya, tetapi ia sangat berharap jika Chris mau bertanggung jawab. Chloe menghela napas panjang lantas meletakkan kertas yang berisi tentang pernyataan kehamilannya di atas nakas. Ia lalu memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sekaligus menyegarkan pikirannya agar ia tak bingung harus bertindak seperti apa nantinya. Chloe langsung membuka satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Setelahnya, ia diam sejenak di depan cermin yang ada di dalam kamar mandi. Matanya tampak memerhatikan bagain d**a hingga perutnya yang masih meninggalkan jejak-jejak percintaannya dengan Chris tadi malam. Ia tersenyum miris. Tiga hari yang lalu, Chris baru saja menolak cintanya. Dan tadi malam, keduanya kembali melakukan kegiatan mereka di atas ranjang seperti biasanya tanpa ada yang berubah sedikit pun. Chris menepati kata-katanya sendiri. Pria itu benar-benar telah melupakan apa yang terjadi di antara mereka tiga hari yang lalu. Pria itu benar-benar telah melupakan kalau wanita yang tadi malam ditidurinya adalah wanita yang sama dengan wanita yang tiga hari lalu menyatakan perasaannya kepada pria itu. Setelah mengingat apa yang terjadi tiga hari yang lalu dan apa yang terjadi tadi malam, sepertinya sulit untuk membuat Chris bersedia untuk bertanggung jawab atas kehamilannya. Pria itu bahkan tidak mencintainya. Sudah pasti jika Chris tidak akan mau menikahinya. Tetapi bukan pernikahan yang ia cari. Ia hanya menginginkan Chris yang mau bertanggung jawab untuk menjadikan dirinya sebagai ayah dari anak yang dikandungnya. Ia hanya berharap Chris mau mengakui anak yang dikandungnya karena ia yakin jika anak yang dikandungnya saat ini adalah darah daging Chris mengingat dirinya yang selama ini hanya berhubungan dengan pria itu saja. Chloe menghela napas panjang lantas melangkah untuk membawa dirinya berguyur di bawah shower. Namun, belum sempat ia menyalakan shower untuk membasahi tubuhnya, ia teringat akan sesuatu yang membuatnya merasa terkejut sekaligus senang. Ia teringat akan dirinya dan Chris yang pernah berhubungan tanpa memakai pengaman. Ia lupa kapan tepatnya, tetapi ia ingat jika kejadian itu terjadi saat Chris pulang dalam keadaan setengah mabuk dan babak belur. Dan jika dicocokkan dengan usia kehamilannya, jawabannya sangatlah cocok. Chloe tersenyum senang. Akhirnya ia tak perlu ragu lagi untuk meminta Chris bertanggung jawab atas bayi yang tengah dikandungnya.   ••••   Chloe langsung bangkit dari duduknya begitu ia mendengar suara pintu yang baru saja dibuka. Ia lalu menemukan Chris yang tengah tersenyum ke arahnya. "Kau sudah pulang?" Chloe bertanya dengan nada suaranya yang terdengar begitu semangat. Pasalnya, ia benar-benar tak sabar untuk menyampaikan tentang kehamilannya kepada Chris setelah ia mengingat hal yang begitu penting saat ingin mandi tadi. Dan entah kenapa, ia yakin jika Chris bersedia untuk bertanggung jawab karena pria itu menyukai anak-anak. Alasan yang konyol memang, tetapi hal itu malah membuatnya semakin yakin. Chris merangkul pundak Chloe lantas membawa wanita itu untuk ikut dengannya. "Kau terlihat sangat bahagia." Chloe mengikuti Chris yang mengajaknya untuk duduk di ruang tv. "Aku sangat bahagia hari ini." Chris melirik Chloe sekilas dengan senyumnya sebelum menunduk untuk melepas sepatunya. "Apa yang membuatmu sebahagia ini, hm?" Chloe mengambil sesuatu yang sejak tadi disembunyikan di dalam saku celananya. Ia lalu memberikannya kepada Chris dengan senyum lebar yang terpatri di bibirnya. "Apa ini?" tanya Chris sambil menerima kertas yang tadi diberikan oleh Chloe. Ia kemudian membuka lipatannya lantas membacanya dengan seksama. Chloe menunggu Chris yang masih membaca surat tentang pernyataan kehamilannya dengan harap-harap cemas. "Kau hamil? Selamat kalau begitu," ucap Chris yang tak menunjukkan ekspresi apa pun sembari menyerahkan kembali kertas tersebut kepada Chloe yang langsung diterima oleh wanita itu dengan bingung. Beberapa saat lamanya Chloe hanya diam untuk menunggu Chris yang mungkin akan kembali melanjutkan kalimatnya. Namun, pria itu hanya diam sambil sibuk melepas pakaian kantornya. Sungguh, ia butuh penjelasan lebih. Ia benar-benar tak mengerti dengan kalimat yang keluar dari mulut Chris beberapa saat yang lalu. "Chris." "Hm?" "Aku hamil." Chris yang sejak tadi tak menatap Chloe, akhirnya memutar arah pandangnya ke arah wanita itu. "Lalu? Aku kan sudah memberimu selamat. Apa itu kurang?" "Aku hamil anakmu." Chris tertawa sinis. "Aku tidak pernah menyuruhmu untuk hamil," ucapnya dengan kejamnya. Chloe menatap Chris dengan tatapan tidak percayanya. "Tetapi aku sedang mengandung anakmu, Chris. Dan kau harus bertanggung jawab." Chris tampak memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membuka suaranya. "Aku? Bertanggung jawab?" ia tertawa sinis. "Kenapa kau seperti ini? Demi Tuhan, dia darah dagingmu." Chris mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya. Ia lalu bangkit dari duduknya lantas menatap Chloe dengan tajam. "Itu semua salahmu! Kau yang memulai semuanya dan kau pula yang harus menanggung semuanya. Bukannya semua p*****r akan melakukan hal yang sama? Jadi, jangan berani-beraninya memintaku untuk bertanggung jawab," desisnya dengan amarah yang sudah mengumpul di dalam tubuhnya. Chloe bangkit dari duduknya dengan mata yang tak lepas dari Chris. Hatinya benar-benar terasa remuk tak karuan setelah Chris menolaknya dengan begitu kejamnya. "Aku hanya memintamu untuk bertanggung jawab. Hanya itu," ucapnya dengan suaranya yang terdengar parau. Chris mendengus pelan. "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah bertanggung jawab. Sudah ku bilang itu semua salahmu. Asal kau tahu, alasan yang membuatku tidak menikahi Lori walaupun aku mencintainya, itu semua karena aku tidak ingin terikat dengan wanita mana pun." "Tapi, bagaimana denganku? Apa yang harus ku katakan kepada Jordan nantinya? Dia pasti kecewa denganku. Aku mohon, bertanggung jawablah. Kau tidak perlu menikahiku. Kau hanya perlu mengakuinya sebagai anakmu saja," Chloe memohon dengan air mata yang berlinangan. "Sudah ku bilang aku tidak akan bertanggung jawab!" teriak Chris yang membuat Chloe mundur selangkah. "Ku ulangi sekali lagi, anak yang kau kandung saat ini tidak ada sangkut pautnya denganku. Anggap saja anak itu hadir hanya karena dirimu saja. Dan sekarang, pikirkan kapan kau akan pergi dari hidupku. Aku tidak suka berhubungan dengan wanita hamil," ia berucap dengan kejam dan penuh ketegasan. Setelahnya, ia langsung berderap meninggalkan Chloe. Chloe langsung meluruh dan terduduk di lantai begitu Chris meninggalkannya. Ia lalu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya lantas menumpahkan semua tangisnya di sana. Sungguh, ia tak percaya jika Chris yang selalu bersikap baik kepadanya, kini berubah menjadi seorang b******n.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD