47

617 Words

"Kenapa aku bisa disini? Di Yogyakarta? Aku harusnya berada di kantor, dimana sekretaris itu?." Burhan dan Shinta saling pandang, keduanya sama-sama bingung untuk menjawab. "Jangan terlalu banyak pikiran Karisma. Kamu baru saja pulih." "Tapi aku harus tahu, kenapa aku disini. Kenapa bukan di Jakarta? Lalu bagaimana pekerjaanku?." Burhan memijat dahinya pelan, Karisma terlalu banyak bertanya hingga ia bingung ingin menjawab apa. "Ayo di minum obatnya." "Ma, aku gak mau ah.... Gak enak." "Karisma, gak ada obat yang enak. Kalau mau enak ya makan permen." "Nah, itu, Karisma mau. Ada?." PLAK. Shinta memukul bahu laki-laki itu, ia gemas sekali dengan anak nya satu ini. Sedang sakit masih bisa bercanda. "Ayo ini minum." Karisma manyun, ia menerima nya. Lalu menelan obat itu dengan waj

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD