48

879 Words

Fatimah membuka mata yang terasa perih. Perlahan ia bisa melihat ruangan putih dengan aroma khas obat. Ia melihat tangan kirinya yang terpasang infus. Ia ingat terakhir kali ia pingsan dalam keadaan basah. Menyentuh perutnya dengan pelahan." Apa mungkin kamu gak bisa bertahan di perut bunda nak? Maafkan bunda yang baut kamu seperti ini." "Kak." Fatimah menoleh, ia menatap Shyla lama. "Aku adiknya kak Karisma. Bagaimana keadaan kakak? Mau aku panggil dokter?." Fatimah menggeleng, "Enggak perlu. Bagaimana keadaan Karisma?." "Sudah baik tapi ya begitu." "Apa itu benar?." Shyla mengangguk, "Kak Karisma amnesia jangka pendek. Tapi dia ingat kakak sebagai sekretarisnya." Fatimah hanya bisa diam. Ia sedih, ini salahnya. Tapi ia bisa apa. "Boleh aku melihatnya?." "Boleh, tapi kakak harus

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD