Bag. 3

1254 Words
Angga berjalan santai. Lelaki itu membuka kacamata hitam yang sejak awal menggantung di kerah kemejanya. Ia lantas memakainya kala kakinya sudah melangkah keluar dari teras gedung hotel. Lelaki dengan kemeja kotak-kotaknya itu menatap tajam pada seseorang di depan sana. Orang yang kini tengah bersikap ramah dengan seorang wanita. Hal yang membuat Angga berdecih kesal. Memang ya, kalau niat awalnya sudah salah, maka akhirnya juga akan salah. "Pak Angga, mobil sudah disiapkan," ujar sopir yang baru saja datang menghampiri Angga. "Tunggu sebentar, Pak," ujar Angga lalu berlalu pergi. Tangannya masuk ke dalam saku celana jeans selututnya. Ia menggeleng kecil melihat lelaki itu tertawa saat candaan yang sama sekali tak lucu keluar dari bibir wanita di depannya. "Permisi, Tante cantik. Bisa saya bicara dengan duda gay ini?" Ujar Angga. Tangannya melepaskan kacamata dengan gaya cool. "Eh, silah-- duda gay?!" Pekik wanita itu tak percaya. Sontak saja pria yang sebelumnya tengah bersenda gurau dengan wanita tadi langsung membalikkan badan dan menatap Angga tajam. "Beliau duda gay?! Pantas saja digoda gak mempan," gumam wanita itu diakhir kalimat dan pergi begitu saja. "Plis, Ngga. Buat Papamu ini senang sedikit." "Papa seneng dan Mama sakit hati di rumah, gitu? Kalau emang niatnya mau kaya gitu, lebih baik pulang aja," ujar Angga dingin. Lelaki itu buru-buru masuk ke dalam mobil. Meninggalkan Papanya yang kini mungkin saja tengah merasa bersalah. Sebenarnya Angga tak tega melakukan itu. Tapi kalau ia biarkan Papanya akan semakin berulah. Angga juga bingung, biasanya Papanya tidak berlaku seperti itu dan biasa saja. Bahkan terkesan menakutkan. Dan melihat pria itu tertawa bahkan tersenyum manis, jelas membuat Angga kesal bukan main. Mamanya yang dipenjara di rumah karena tidak diperbolehkan bekerja saja bisa menahan godaan. Apa-apaan dengan Papanya itu?! Aish! Ini masih pagi. Mood Angga sudah hancur saja. "Kamu kenapa, Bang?" Tanya Farhan begitu memasuki mobil dan duduk di sebelah anaknya. Angga tidak menjawab. Terlalu muak dengan segala hal yang ia lihat tadi. "Padahal tadi Papa lagi bujuk yang punya hotel biar dapet gratisan." Doeng. Angga menolehkan kepala perlahan. Menatap wajah Papanya dengan tatapan tidak percaya. Sebentar.. maksudnya apa?! "Tadi itu.." "Iya. Tadi itu yang punya hotel. Papa kenal lewat temen Papa. Tapi ternyata malah kamu datang tiba-tiba kaya gitu. Ilang udah, uang 10 juta Papa," ujar Farhan sedih. Angga mengedipkan matanya. Benar-benar tidak mengerti dengan apa yang Papanya pikirkan. Jadi sebenarnya tadi Papa mengobrol bahkan sampai tertawa karena ingin dapat gratisan? Ya, memang sih, 2 kamar selama 3 hari dengan harga 10 juta terlalu mahal. Tapi.. astagfirullah! Angga benar-benar tak habis pikir! "Duh, maaf, Pa. Angga kira Papa tebar pesona. Soalnya dari rumah kan niatnya kaya gitu," ujar Angga tanpa beban. "Ya ngapain tebar pesona sama nenek-nenek, Bang? Dia udah punya cucu. Masih cantikan Mama kamu kemana-mana." Angga meringis kecil. Berarti nanti-nanti Angga harus menanyakan lebih dulu yang sedang Papanya ajak bicara itu siapa. Tekor juga dirinya kalau seperti ini. Karena sang papa tentu saja tidak ingin rugi. "Sebagai balasannya, bayar seluruh penginapan sama kamu, ya. Papa kan udah berusaha biar gratis. Tapi kamu gagalin. Jadi, kamu yang bayar." Angga menghebuskan napas kecil. Tak bisa membantah. Karena merasa bersalah tentu saja. Bukankah seharusnya ia yang merasa senang dan Papanya yang merasa bersalah? Kenapa malah situasinya berbalik seperti ini? This is kualat yang sebenarnya. "Iya. Angga yang bakal bayar," jawab Angga pasrah. Lelaki itu lalu memilih membuka file di ponselnya untuk pertemuan nanti. Mereka sudah sampai di kota Jogja sejak semalam. Karena lewat jalan tol, perjalanan mereka lebih cepat. Ditambah mereka hanya sekali berhenti. Membuat perjalanan tidak terlalu memakan waktu banyak. Dan Angga bisa leluasa tertidur nyenyak sebelum beraktivitas seperti biasanya. Karena pertemuan mereka saat ini cukup berpengaruh bagi masa depan perusahannya dengan sang papa, alhasil Angga harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Ia juga sudah mencoba menghapal dan melihat semuanya dengan teliti. Takut-takut hasil pemeriksaannya masih kurang dan dikoreksi habis-habisan. Bisa-bisa ia kena amuk tiga hari tiga malam. "Kamu udah siapin filenya kan, Bang?" Tanya Farhan memastikan. "Udah, Pa," jawab Angga seraya menunjukkan flashdisk dan ponselnya pada sang papa. "Bagus! Jangan sampe Papa yang harus keluarin berkasnya." "Siap, Pa! Tenang aja." "Simpan baik-baik. Sebentar lagi kita sampai." Angga menoleh ke jendela. Ia langsung mengangguk dan menyimpan flashdisk itu dengan baik di kantung kemejanya. *** "Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." "Tentu, Pak Jo. Saya berharap semuanya berjalan dengan baik." Lelaki dengan jas hitamnya itu mengangguk. Ia tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya. Menyodorkan tangan kanannya pada Angga sebagai salam perpisahan. Angga yang awalnya hanya diam dan menatap aneh lelaki itu akhirnya menggapai tangannya dan menjabat sebentar. "Terima kasih. Semoga di lain waktu kita bisa bertemu," ujar lelaki itu sebelum akhirnya meninggalkan Angga dan sang papa di restoran. "Siapa nama lengkapnya, Pa?" Tanya Angga ingin memastikan kembali. "Jonathan Sindes. Anak pertama Pak Robert Sindes. Anak yang cukup cerdas. Beruntungnya dia bukan orang yang gila sama kedisiplinan." Angga mengangguk pelan mendengar ucapan Papanya. "Kenapa kamu tanya hal itu?" "Gak tau kenapa, tapi Angga rasa Angga bakal punya masalah besar sama lelaki tadi," ujar Angga menebak. Farhan lantas mengerutkan kening. Biasanya ucapan Angga tidak pernah meleset. Apalagi mengenai hal-hal yang berbau keburukan. "Masa? Tapi kelihatannya dia anak yang baik." "Berapa umurnya, Pa?" "Sama kaya kamu." Angga kembali mengangguk. Semoga saja itu hanya dugaan Angga. Karena kalau benar adanya, itu bisa jadi hal yang tidak baik. Mungkin hubungan dua perusahaan juga akan memburuk. Semoga saja itu hanya perasaan Angga saja. "Kamu mau diem di sini terus? Gak mau jalan-jalan keliling Jogja, gitu?" "Mau, dong! Ya kali Angga diem di sini terus. Ayo, Pa!" "Kamu bayar dulu sana!" Titah Farhan santai. "Eh, kok Angga yang bayar?" "Ya kali Papa. Sebagai anak kamu harus berbakti, Ga! Jangan--" "Iya, iya. Angga bayar. Papa duluan aja. Angga juga harus beresin ini dulu." Farhan tersenyum lebar sebelum akhirnya mengangguk dan pergi. Sepeninggal Farhan, Angga langsung membereskan beberapa berkas yang ia bawa tadi. Tak lupa flashdisk dan laptopnya juga ia masukkan ke dalam tas dengan rapi. Menghitung barang-barangnya untuk pemeriksaan terakhir, Angga lalu mengangguk dan melambai pada seotang pelayan. "Mbak!" Panggil Angga seraya melambaikan tangan. Lelaki itu tak lupa mengeluarkan dompetnya agar pembayaran cepat dilakukan dan ia bisa berkeliling Jogja sesuka hatinya. Dug. Angga yang memang sedang berdiri langsung meringis kecil. Bahunya ditabrak seorang gadis. Tapi Angga tidak tahu jika ada perempuan dengan tinggi yang sama dengannya. Ia langsung menolehkan kepala. Begitupun gadis tersebut. Mungkin merasa bersalah karena sudah menabrak. "Em, sorry," ujar gadis itu kaku. Angga mengernyit. Tampaknya gadis itu bukan asli orang Indonesia. Terdengar sekali dari cara bicaranya dan bentuk wajahnya. Belum lagi mata yang kecil itu seakan memberitahu Angga bahwa gadis ini keturunan mata kecil. Alias orang-orang Asia seperti China, Korea, Vietnam, Thailand dan Jepang. Anehnya, mata itu terlihat asing bagi Angga. "No problem." Gadis itu tak bicara kembali dan memilih pergi begitu saja. Entah karena tidak bisa bicara selain kata maaf, atau memang merasa tak bersalah. Entahlah, Angga tak mengerti. "Aneh." "A-aku gak, Tôi không thể nói tiếng Indonesia. Bạn ở đâu? Tôi đang ở nhà hàng!" (Aku gak bisa bahasa Indonesia. Kamu dimana? Aku di restoran!) Angga melirik sedikit pada gadis yang tadi menabraknya. Baru akan menghampiri gadis itu lagi untuk membantu, seorang pelayan datang dan memberi bill. Angga segera menyelesaikan pembayarannya dan memberi kartu hitam dari dompet kulitnya pada wanita di depannya. "Jo! Không đua đâu! Tôi đã đi lên!" (Jo! Jangan bercanda! Aku udah naik ke atas!) "Ini, Pak. Terima kasih." "Sama-sama, Mbak." Angga memasukkan kembali kartu dan dompetnya ke dalam saku. Baru akan menghampiri gadis itu, ponselnya sudah diberondongi oleh panggilan dari Papanya. "s**t! Jonathan Sindes!" Umpat gadis itu sebelum akhirnya pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD