(Sebenarnya mau pakai dua bahasa gitu, tapi takut memusingkan. Jadi anggap mereka memakai bahasa vietnam, yap! Thank's)
"Kamu gila, ya?! Aku sudah ke restoran dan kamu malah ke apartemen duluan?!"
"Come on, Fre. Aku gak tau kamu nyusul sampe restoran. Aku minta maaf."
"Gampang banget minta maaf! Kamu gak tahu aku sampe dimarahin sama manager aku gara-gara jemput kamu ke Indonesia?!"
"Oke. Aku bener-bener minta maaf. Aku ngaku salah. Jadi, kita jalan-jalan aja ya?"
"Gak segampang itu!"
"Oke. Kamu mau apa?" Tanya lelaki dengan jas hitamnya itu. Gadis di depannya tersenyum kecil. Ia menunjukkan sesuatu di ponselnya. Memperlihatkan sebuah gambar pada lelaki yang kini berdiri tepat di depannya. Lelaki yang menjadi kekasihnya kurang lebih 2 tahun ini.
"Aku dapat info dari Bibi, kalau ini dijual di Indonesia. Aku mau kucing ini, Jo."
"Kita cuman 3 hari di sini, Fre."
"Aku gak mau tahu! Bibi udah ngasih info yang menarik. Dan kamu harus turuti permintaan aku."
"Itu terlalu beresiko, babe. Kita gak bisa ngurus itu di apartemen nanti."
"Ya, gak masalah. Kamu harus tetep beliin ini buat aku."
Jonathan mendesah kasar. Lelaki itu menyugar rambutnya ke belakang. Merasa bingung karena keputusan gadisnya. Kalau saja ia tidak mengatakan akan pergi ke Indonesia, sudah pasti gadis ini tidak akan menyusul. Beruntungnya gadis ini tidak tersesat saat mencari apartemennya. Jonathan sudah tidak tahu harus apa sekarang. Kalau ia menolak, maka kehidupannya tidak akan baik-baik saja. Gadis ini pasti akan marah padanya dalam waktu yang lama. Dan Jonathan tidak mau sampai hari-harinya hampa tanpa melihat gadis ini tentu saja. Sosok cantik macam dia di mana lagi Jonathan harus mencarinya?
Sudah cantik, model, pintar memasak, gesit, disiplin, tidak pernah membuang waktu, selalu mengerti kesibukannya dan yang utama adalah setia. Pasalnya Jonathan sudah sering menerima banyak cinta, tapi dari mereka kebanyakan hanya mencari suka sesaat saja. Lalu pergi. Lagipula, siapa yang akan tahan dengan sosok Jonathan? Sudah cuek, jarang memperhatikan pasangannya--bahkan terkadang lupa, tidak pernah memberi pesan saat sibuk dan lenggang, hanya mau dimengerti--kadang, tidak suka dikejar-kejar dan termasuk lelaki yang sangat mencintai pekerjaannya. Dan gadis ini adalah satu-satunya perempuan yang mampu bertahan selama 2 tahun dengan Jonathan. 1 bulan saja Jonathan sudah bersyukur. Dan ini 2 tahun? Bisa dibayangkan, kan betapa membosankannya berpacaran dengan Jonathan?
"Oke. Ayo, kita beli dia."
"Serius?" Jonathan tersenyum. Lelaki itu mengusap rambut gadis di depannya dengan lembut.
"Yap. Kita cari pengasuhnya juga selama kita sibuk di sini."
"Buat apa?"
"Kamu mau dia mati di apartemen karena tidak terurus?" Tanya Jonathan yang lebih masuk ke arah menyindir..?
Fresya menyengir lebar. Gadis itu lalu menepuk tangannya heboh saat Jonathan membukakan pintu mobil untuknya.
"Makasih."
"Anything for you, Babe."
"Lama-lama kamu jago bahasa inggris," goda Fresya seraya menggeser tempat duduknya. Agar Jonathan bisa lebih cepat duduk di sampingnya.
"Kamu juga harus belajar."
"I can, Jo!"
"Masa? Kenapa di restoran kaya orang kebingungan?" Tanya Jonathan disertai senyum miring. Fresya menghembuskan napasnya kasar. Merasa kesal karena sudah dipojokkan oleh kekasihnya.
"Itu.. karena aku takut mereka tidak bisa bahasa inggris. Dan lagi, aku lagi belajar bahasa Indonesia."
"A-aku gak.."
"Stop, Jo! Berhenti menggoda!" Jonathan tertawa. Lelaki itu mengusap kepala Fresya lagi. Kali ini disertai dengan mengacak sedikit. Membuat gadis itu kesal dan menghentak tangan besar Jonathan.
"Oh, ya. Aku dengar dari Gustaf, kamu bertemu dengan lelaki lain? Siapa? Dia menyapamu? Apa kamu--"
"Gak. Aku gak ketemu siapa pun. Aku cuman gak sengaja nyenggol orang."
Ya, satu sifat Jonathan yang mungkin menjadi pertimbangan bagi semua wanita mendekati lelaki itu. Terlalu posesif dan overprotektif. Terkadang bahkan Fresya merasa Jonathan berubah menjadi abusif.
"Benar? Kamu gak berbohong?"
"Iya, sayang. Serius. Kenapa? Gak percaya?" Tanya Fresya dengan wajah tegasnya. Jonathan menatap gadis itu dengan tatapan curiga. "Kamu benar-benar tidak percaya? Oh, my gosh!"
"Oke. Aku percaya."
"Bagus. Memang harusnya kamu percaya." Jonathan masih menatap Fresya dengan tatapan curiga. Sebelum akhirnya keningnya mendapat jitakan dari jari mungil gadis itu. Cukup sakit. Karena kebetulan gadis itu sedang memakai kuku palsu yang cukup panjang.
"Cukup liatinnya! Kalau masih gak percaya, kamu balik sana ke restoran. Liat CCTV," ucap Fresya tanpa menatap Jonathan. Merasa jika Fresya akan segera mendapatkan mode marahnya, segera Jonathan memeluk gadis itu dari samping dan menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher gadis itu.
"Maaf. Aku hanya takut kamu--"
"Tenang. Aku gak sehina itu untuk berselingkuh dari kamu. Kalau memang aku udah gak cinta, aku bisa langsung putusin kamu dan pergi."
"No! Aku gak mau!" Tolak Jonathan seperti anak kecil. Fresya tertawa kecil. Tangannya yang lain terulur mengusap kepala Jonathan dengan lembut.
"Gak akan ada yang bisa nebak takdir, Jo."
"Tapi jangan bilang gitu," rengek Jonathan. Fresya kembali tertawa. Hey, Jonathan itu besar. Tingginya bahkan menginjak 192 cm dengan berat badan 87 kg. Kalau di bilang raksasa, mungkin Jonathan adalah cucunya. Tapi lihatlah kelakuannya saat ini? Tidak jauh dari kelakuan anak 5 tahun!
"Emh, Fre," panggil Jonathan dengan nada lirih.
"Ya?"
"Soal pindah agama, kamu yakin?" Tanya Jonathan. Kepalanya mendongkak menatap wajah Fresya yang kini juga tengah menatapnya.
"Iya, Jo."
"Papa dan Mama kamu? Kakak kamu?" Tanya Jonathan beruntun.
"Mereka udah kasih izin. Lagipula masalah agama itu hak aku. Aku juga kayanya bakal cepet-cepet resign."
"Kenapa? Kamu cocok jadi model, sayang."
Fresya tersenyum kecil. Tangannya kini ikut memeluk tangan Jonathan. "Terkadang, untuk menjadi yang lebih baik di depan Tuhan, kita harus mengiklaskan sesuatu yang kita inginkan."
"Tapi, Fre.."
"Aku yakin, Tuhan bakal kasih yang lebih baik dari apa yang aku ikhlaskan." Fresya menaruh kepalanya dan bersandar di kepala Jonathan yang masih berada di bahunya.
"Kalau gitu, apa aku harus ikut kamu juga?" Tanya Jonathan.
"Buat apa?"
"Emm, aku rasa kita bakal melangkah ke jalan yang lebih serius?" Ujar Jonathan tampak ragu.
"Aku rasa gak perlu. Aku gak tahu apakah hubungan kita bakal sejauh itu atau nggak. Dan sebaiknya jangan. Karena agama itu bukan untuk permainan, Jo. Kalau kamu memang punya niat, kamu harus jalani itu. Sekalipun yang menghadang kamu lebih dari sejuta batu besar."
Jonathan memeluk pinggang Fresya lebih erat. Ini yang ia suka dari Fresya. Gadis itu selalu bisa bersikap dewasa. Kapanpun dan di mana pun tempatnya.
"Kapan kamu bakal mutusin pindah?"
"Secepatnya. Aku butuh memantapkan mentalku dulu." Jonathan mengangguk paham.
"Ngomong-ngomong, kita kemana? Kok aku rasa dari tadi kita muterin jalan ini, ya?" Tanya Fresya bingung. Gadis itu menatap keluar jendela guna memastikan. Benar, ia sudah melihat gedung ini untuk yang ketiga kalinya selama perjalanan.
"Pak, kita kemana?"
"Saya gak tau, Pak. Bapak tidak menyebutkan tujuannya. Jadi, saya bawa muter. Saya kira Bapak hanya ingin bicara dengan Nona di dalam mobil."
Fresya mendatarkan wajahnya. Bisa-bisanya mereka memutar jalanan ini sebanyak tiga kali?!
"Kita sebenarnya mau kemana sih?"
"Lah? Kamu bilang katanya mau ke toko kucing."
"Ya terus? Kenapa gak bilang ke sopir?"
"Aku gak tau di mana tempatnya." Fresya membulatkan matanya. Gadis itu melongo menatap wajah Jonathan yang seperti tanpa dosa.
"Jo, aku rasa kita gak akan bertahan lama deh."
"Fre, maaf. Aku.."
"Kenapa kamu gak bilang dari tadi?!"
"Emang kamu tahu?" Tanya Jonathan penuh harap.
"Gak tau."
Jonathan menatap dingin pada Fresya. Lelaki itu diam dan hanya menatap Fresya selama beberapa detik. Sampai akhirnya Fresya tersenyum dan menyengir lebar. Tangannya juga menggaruk belakang tengkuknya.
"Aku kira kamu tahu," ujar Jonathan seraya menggelengkan kepala. Freysa terkekeh kecil. Ia lalu mengangkat ponselnya sebelum akhirnya menggoyangkan perlahan.
"Ada hape. Kita bisa cari toko kucing terdekat."
"Ya sudah. Kamu cari, aku mau tidur dulu." Fresya menatap Jonathan sebelum akhirnya menggeser tempat duduknya menjadi lebih dekat dengan pintu lalu menepuk pahanya.
"Yang nyenyak tidurnya, ya."