"Sudah sampai, Nona."
"Sstt.. Bapak bisa keluar dulu. Jonathan kayanya lagi butuh waktu."
Sopir yang kini tengah mematikan mesin mobil itu lalu mengangguk sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Fresya dan Jonathan berdua. Gadis itu tampaknya tak tega membangunkan Jonathan yang masih terlelap di atas pangkuannya. Dengan gaya meringkuk layaknya bayi, Jonathan tampak nyenyak. Padahal tubuhnya tidak benar-benar cukup di jok mobil yang mana satu bangkunya dipakai Fresya duduk. Tapi, ya namanya lelah. Mau sempit, luas, panjang, pendek, tinggi ataupun rendah, terobos saja selama bisa memejamkan mata.
Tangan Fresya menyugar rambut Jonathan dengan lembut. Sebenarnya lelaki ini cukup baik dan ramah. Hanya saja karena sedari kecil dididik selalu paham dengan kondisi orang lain tanpa memahami kondisi diri sendiri, membuat Jonathan acuh. Dan lagi, keluarga Jonathan cukup keras menurut Fresya. Lelaki itu memiliki seorang adik lelaki yang mana sangat menginginkan posisi yang saat ini Jonathan duduki. Dan posisi itu adalah posisi yang tidak bisa diambil oleh sembarang orang. Terutama oleh anak kecil yang bahkan masih berada di bangku SMA. Jonathan juga termasuk anak yang patuh. Berbeda sekali dengan Fresya yang selalu menetukan sesuatu sesuai keinginannya.
"Jangan terlalu memaksakan. Kamu juga butuh istirahat," gumam Fresya seraya mengusap pipi Jonathan sayang.
Fresya Friciana. Gadis yang kini berprofesi sebagai model itu adalah gadis asli Vietnam yang lahir 2 tahun lebih muda daripada Jonathan. Nama Fresya itu sendiri awalnya hanya nama panggung. Karena nama asli yang diberikan oleh kedua orang tuanya jauh dari kata bagus. Namun, karena tuntutan pekerjaan, Fresya mau tak mau mengganti namanya. Dan karena keluarganya juga termasuk keluarga yang tidak terlalu mengekang, alhasil Fresya mendapatkan restu lebih mudah dari yang gadis itu bayangkan untuk mengganti nama.
Mamanya dulu seorang dokter bedah. Tapi, karena insiden besar di salah satu rumah sakit tempat Mamanya berkerja mengalami kendala, akhirnya sang mama berhenti bekerja dan fokus mengurus rumah. Ya, walau sesekali masih ke rumah sakit kalau ada panggilan mendesak. Dan Papanya adalah Jaksa Agung di sebuah pemerintahan. Papanya memang sedikit keras, namun kenyataanya malah pria itu yang sangat mudah memberikan izin Fresya untuk mengubah nama dan pindah agama.
Lalu Kakaknya, Kakak laki-lakinya--Fachin An Giang, adalah seorang dosen. Kakaknya termasuk orang yang sangat mirip dengan Mamanya. Suka berdebat dan tidak mau kalah. Terkadang, lelaki itu juga selalu berhasil membuat Fresya kalah jika bicara dengannya. Kakaknya masih belum menikah. Dan tahun ini, lelaki itu berhasil menjadi tentara di sebuah negara terpencil. Sampai mengabdikan diri dan tidak mau menikah. Ya, di tempatnya masalah menikah memang bukan hal yang diharuskan. Biaya kehidupan sehari-hari saja harus benar-benar berjuang. Bagaimana dengan menikah, kan?
Lalu dirinya. Fresya dulunya bekerja membantu Mamanya menjadi asisten khusus. Tapi, satu waktu ada satu agensi yang menawarkannya pekerjaan sebagai model. Dengan tubuh yang ideal dan sangat pas, tentu saja mereka mengincar Fresya. Awalnya gadis itu menolak karena merasa tidak pantas. Ditambah agensi itu berasal dari Korea. Hal yang sempat Fresya idamkan sampai-sampai menghabiskan waktunya untuk berolahraga karena ingin menjadi salah satu grup band di sana.
Sempat terpikir oleh Fresya untuk menolak, tapi keinginannya terlalu besar. Sampai akhirnya ia diterima dan menjadi model magang selama 2 tahun lebih. Lalu mulai menjadi model yang sebenarnya beberapa tahun terakhir. Karena domisilinya Vietnam, akhirnya Fresya sementara waktu bekerja sebagai model di negaranya. Tapi, jika sewaktu-waktu ada panggilan ke Korea, gadis itu harus selalu siap.
"Enggh!" Lenguh Jonathan saat merasa ada sesuatu menimpa keningnya. Fresya yang memang kini sedang bermain ponsel tak sadar jika ujung ponselnya membentur kening Jonathan.
"Eh, maaf. Aku kira kamu gak kena."
"Gak papa," jawab Jonathan dengan suara serak khas bangun tidurnya. "Sudah sampai?"
"Iya. Dari setengah jam yang lalu," ucap Fresya tanpa beban.
"Hah?! Setengah jam yang lalu?! Aku tidur selama itu?!" Pekik Jonathan dan duduk secara tiba-tiba. Lelaki itu memegang kepalanya karena merasakan pusing akibat bangun secara tiba-tiba.
"Kayanya satu jam kamu tidur."
"Paha kamu gak pegel?" Tanya Jonathan khawatir.
"Nggak. Aku udah biasa olahraga kaki. Kamu bukan apa-apa." Bohong. Sebenarnya kakinya cukup ngilu dan sulit digerakkan karena posisi Jonathan yang tidak berubah. Tapi ia tidak bisa mengungkapkan yang sebenarnya dan membuat Jonathan panik. Karena jika lelaki itu benar-benar panik, sudah pasti akan bersikap berlebihan. Dan mungkin akan membawa Fresya ke dokter untuk mengecek tubuhnya.
Jonathan memang selebay itu.
"Kamu berapa lama gak tidur, sih? Nyenyak banget tidurnya. Jangan terlalu memaksakan diri, Jo. Kamu juga butuh istirahat," ujar Fresya dengan mata yang menatap khawatir pada Jonathan.
"Gak papa, Fre. Lagian ini udah tugas aku. Gak akan ada waktu kalau aku terus istirahat dan tidur."
Fresya mengembuskan napas jengah. Selalu saja dengan alasan klasik yang sama sekali tidak memuaskan. Untung Fresya sudah kebal dengan alasan seperti itu, kalau tidak mungkin saja ia sudah mengomel seperti awal-awal berpacaran.
"Setelah dari sini kamu free, kan?" Tanya Fresya memastikan.
"Kayanya. Ada apa?"
"Aku mau buatin bubur Chào Bò."
"Buat apa? Aku gak sakit, kok. Di sini juga udaranya cukup hangat."
Bubur Chào bò adalah salah satu bubur tradisional Vietnam. Yang mana bubur ini biasanya terbuat dari daging giling, nasi (beras), jahe, ketumbar, daun bawang, garam dan lada hitam. Cara pembuatannya juga cukup mudah. Bahan-bahan hanya tinggal dimasukkan satu persatu sesuai urutan. Mulai dari daging sapi, daun bawang, lada hitam yang ditaruh di atas bubur yang sudah dibuat dengan rempah khas Vietnam lalu terakhir menuangkan kuah jahenya. Terkadang daging sapinya dicampur langsung dengan bubur dan disajikan dengan diaduk (sesuai selera dan restoran yang menyajikan). Chào semacam bubur berkuah yang biasanya diberikan untuk orang yang sakit atau kedinginan. Karena rasa kuahnya yang hangat dan bisa menambah energi.
"Ya, gak masalah. Kamu juga keliatannya lagi gak enak badan, kan?"
"Ah, iya? Aku terlihat begitu?"
"Ck, udah. Lebih baik kita ke dalam. Aku ingin melihat kucing-kucingnya!"
"Kenapa bukan anjing? Anjing lucu, Fre," ujar Jonathan seraya memulihkan nyawanya.
"Agama baruku tidak memperbolehkan memelihara anjing."
"Kenapa?"
"Haram," jawab Fresya singkat sebelum akhirnya keluar dari mobil meninggalkan Jonathan yang masih sibuk menguap.
***
"Yakin kucing ini? Jangan sampai nanti ke apartemen kita harus balik lagi," ujar Jonathan. Lelaki itu kini tengah duduk bersimpuh melihat Fresya yang asyik bermain dengan salah satu kucing yang dipegangnya.
"Iya. Sepertinya yang ini."
"Kalau salah boleh tukar?" Tanya Jonathan pada seseorang yang menjadi pemilik toko kucing tersebut. Tentu saja dengan bahasa Indonesia. Karena Fresya yang masih sulit berkomunikasi, jadi mau tak mau Jonathanlah yang bicara.
"Boleh. Asal kucingnya masih lengkap dan sehat," ujar pemilik toko itu disertai tawa kecil.
"Siap. Kalau begitu, saya pilih yang ini. Dengan tempatnya dan alat-alat makannya sekalian."
Meninggalkan Fresya yang masih asyik bermain bersama kucing, Jonathan memilih bangkit dan pergi menuju tempat pembayaran. Lelaki itu menatap Fresya sebentar dengan senyum manisnya. Fresya memang tahu apa yang ia butuhkan. Hanya melihat Fresya tersenyum dan senang, itu saja bisa membuat Jo ikut senang. Terlalu sering melihat kekacauan dan pertengkaran dalam keluarganya, membuat Jo merasa bersyukur mendapatkan Fresya. Walaupun terkadang ia harus merelakan waktunya demi gadis itu.
"Kandangnya mau warna apa, Fre?" Tanya Jonathan seraya memperlihatkan sebuah kertas yang baru saja ia dapatkan dari pemilik toko.
Fresya yang sedang anteng langsung menoleh. Ia melihat dengan teliti gambar-gambar yang ada di kertas tersebut. Karena kucing yang ia gendong terlihat tenang, Fresya menggeser duduknya. Menatap lebih teliti gambar-gambar di sana.
"Badan Goen besar. Kita butuh kandang yang besar dan cukup," ujar Fresya seraya melihat wajah Jonathan.
"Goan?"
"Iya. Goan."
"Siapa Goan?"
"Ini," tunjuk Fresya pada kucing berbulu lebat yang duduk tenang di pangkuannya. Jonathan tersenyum geli. Bahkan belum membeli saja Fresya sudah memberikan nama. Bagaimana kalau sudah jadi milik gadis itu?
"Oke. Namamu Goan, manis. Jangan sampai Mamamu ini mengganti namamu menjadi Goar, ya."
Fresya memajukan bibir bawahnya kesal. Matanya menatap sebal Jonathan yang malah tertawa senang. "Aku tidak akan menamainya seperti itu!"
"Benarkah? Goan, kamu harus berhati-hati. Jangan buat Mamamu marah dan kamu mencakarnya. Nanti namamu akan benar-benar berubah."
"Jo!" Seru Fresya kesal. Jonathan tertawa. Lelaki itu mengusap rambut Fresya sayang.
"Baiklah. Jadi, kamu mau pilih yang mana?"
Kring.
Suara pintu toko terdengar. Jonathan sempat menolehkan kepala. Melihat siapa yang datang ke toko kucing selain dirinya. Ia mengernyit sebentar menemukan sosok yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu.
"Angga?"