TIGA PULUH EMPAT

1243 Words
Rasanya kepala Fitz mau pecah.             Bukan hanya kakak-beradik saudara kandung dari Keylo yang sudah mengganggu ketenangannya, melainkan orang lain yang juga mengenal Zeva. Baru saja ada seseorang yang mengenali Zeva dan membuat keributan di ruang UGD. Sepertinya, Fitz tidak mempunya jalan lain, selain mengurung Zeva di rumah dan tidak memperbolehkannya ke luar sama sekali. Tidak ada satu orang pun yang boleh merebut dan mengambil Zeva darinya. Tidak ada.             Zeva adalah Florencia. Titik. Dia pengganti Florencia bagi ibundanya, dan dia adalah cewek yang akan menjadi miliknya. Miliknya, seutuhnya, untuk selamanya.             Setelah berhasil menyeret orang asing itu keluar dari ruang UGD, Fitz kembali ke ranjang Florencia. Cewek itu sedang merenung, nampak berpikir. Fitz buru-buru berdeham untun memutus apa pun yang sedang Florencia pikirkan. Apalagi jika yang cewek itu pikirkan adalah mengenai keributan tadi dan nama Zeva. Fitz tidak akan membiarkan Florencia mengingat apa pun mengenai masa lalunya.             “Kamu kenapa bengong?”             “Hah? Oh....” Florencia tersenyum dan membasahi bibir bawahnya. Cewek itu mengusap wajah dengan sebelah tangan. “Cowok tadi... sama seperti Keylo, dia juga memanggil gue dengan nama Zeva, Bang. Bukan hanya mereka, tapi juga seorang cewek berwajah Arab yang belum lama ini gue temui.”             Seketika, tubuh Fitz membeku. Florencia pernah bertemu dengan Keylo?             “Keylo?”             “Ah....” Cewek itu tersenyum tipis. “Beberapa kali, gue pernah nggak sengaja ketemu sama seorang cowok. Dia manggil gue dengan nama Zeva dan menyebut dirinya sebagai Keylo. Dia juga nyuruh gue supaya nggak bercandain dia, di saat gue bilang kalau gue bukan Zeva dan gue adalah Florencia. Cuma, cowok itu nggak mau percaya.” Senyuman Florencia menghilang. Tatapannya berubah sendu dan sedih, membuat Fitz mengeraskan rahangnya. Kedua tangan cowok itu mengepal kuat. Sial! Kapan Florencia bertemu dengan Fitz?! “Tapi, waktu terakhir kali ketemu, Keylo bilang kalau Zeva nggak mungkin bersikap kasar dan bar-bar seperti gue dan itu membuat gue sakit hati, Bang. Entah kenapa. Rasanya sedih banget dengar dia ngomong seperti itu sama gue. Padahal sebelumnya, gue selalu nggak suka kalau dia panggil gue dengan nama Zeva.”             Fitz berdeham dan menggenggam tangan Florencia. Cowok itu tersenyum menenangkan.             “Udah, nggak usah lo pikirin orang-orang aneh itu,” katanya dengan nada malas. “Mereka itu nggak ada urusan sama kita. Mereka pasti cuma penipu yang mau menipu lo untuk menguras harta kekayaan kita.”             Florencia diam. Dia teringat akan reaksi dan tatapan Keylo di setiap pertemuan mereka. Tidak, itu bukanlah tatapan serta reaksi yang menggambarkan sebuah kebohongan atau kepalsuan. Reaksi itu asli. Tatapan penuh rasa sakit dan rindu yang bercampur itu asli, bukan kebohongan. Florencia bisa merasakannya dan melihatnya.             Kepalanya terasa nyeri, membuat Florencia meringis dan memegang kepalanya tersebut. Melihat itu, Fitz buru-buru berdiri dan lebih mendekat ke arah Florencia. Raut wajah dan tatapan matanya menggambarkan kecemasan.             “Flo, are you okay?” tanyanya panik. “Gue panggilin dokter sebentar, ya.”             Florencia menggeleng. “Mm... gue nggak apa-apa, Bang. Ini bukan efek dari kecelakaan, kok. Setelah gue mengalami mimpi aneh barusan, pas gue sadar, kepala gue selalu aja terasa sakit. Gue juga nggak tau kenapa.”             Mimpi... Fitz mengertakkan gigi. Florencia mulai memimpikan masa lalunya. Apa yang harus gue lakuin?             “Udahlah,” kata Fitz kemudian, ketika dia berhasil menemukan suaranya kembali. Cowok itu tersenyum tipis. “Itu kan cuma mimpi, bunga tidur. Nggak ada makna apa-apa. Semakin dipikirin, yang ada kepala lo semakin sakit. Mendingan lo lupain semuanya dan istirahat. Biar gue tanya apa lo bisa dirawat di rumah. Kalau perlu, gue akan sewa dokter dan suster di rumah sakit ini untuk mengurus lo di rumah.”             Florencia mengerjap dan detik berikutnya dia terkekeh geli. Cewek itu mengusap punggung tangan Fitz yang masih menggenggam tangannya, lantas mengangguk.             “Iya, gue juga udah bosan di sini. Gue mau pulang aja.” Florencia kemudian terdiam sejenak. “Tapi, Bang... gue mau ketemu sekali lagi sama orang yang nolongin gue dari kecelakaan itu.”             Fitz mematung. “Buat apa?”             “Mau ucapin terima kasih sekali lagi, sekaligus kasih dia reward karena udah menyelamatkan nyawa gue, Bang.”             “Nggak usah, dia juga bilang tadi nggak butuh reward apa pun, kok.”             “Tapi, Bang—“             “Zahara Florencia,” potong Fitz dengan nada tegas. “Cukup!”             Florencia diam. Cewek itu sampai mengerutkan kening karena tidak menyangka abangnya akan bersikap seperti ini hanya karena dirinya meminta untuk bertemu dengan orang yang sudah menolongnya tadi. Mm, siapa tadi namanya? Ah... Gazakha. Tadi kakaknya pun ada di sini. Verco namanya. Mereka orang yang baik, sama sekali tidak terlihat seperti seorang penipu. Lantas, kenapa abangnya sangat melarangnya untuk bertemu dengan mereka lagi?             Kalau dipikir-pikir oleh Florencia, abangnya juga bersikap sangat aneh hari ini. Dia sering melamun, mematung di tempatnya, pucat, ketakutan, panik dan lain sebagainya. Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan oleh Fitz? Apa abangnya itu sedang ada masalah di kantor?             “Maaf, Bang,” kata Florencia ketika dia sudah menyelesaikan pikirannya mengenai keanehan Fitz. “Gue nggak bermaksud untuk bikin Abang marah. Tapi, gue ngerasa nggak ada salahnya kalau gue ketemu sama Gazakha sekali lagi untuk mengucapkan rasa terima kasih gue. Kalau bukan karena Gazakha, gue pasti udah nggak ada di dunia ini lagi.”             Fitz menarik napas panjang dan memijat pangkal hidungnya. Dia sangat tidak ingin mempertemukan Florencia dengan Gazakha, tapi sialnya, dia tidak pernah bisa menolak apa pun permintaan cewek itu. Akhirnya, Fitz terpaksa mengangguk, mengiyakan permintaan Florencia, membuat cewek itu tersenyum senang dan menggenggam erat tangannya.             “Makasih banyak ya, Bang! Flo sayang banget sama Abang! Abang adalah kakak terbaik sedunia!”             Kakak, ya.... Fitz mendengus, kemudian terkekeh. Menertawakan kebodohan dan keberengsekkannya. Gue bukan kakak lo, Zeva... gue hanya seorang pembohong besar, penipu, yang mengganti identitas lo dan menjauhkan lo dari keluarga serta orang yang lo cintai. Dan, gue akan terus melakukannya karena sepertinya, gue menyukai lo.             “Biar gue cari dia dulu sebentar. Siapa tau dia masih ada di rumah sakit ini.” Fitz mencium kening Florencia, kemudian pergi dari hadapan cewek itu.             Di luar ruang UGD, Fitz merenung. Dia harus mempertemukan Florencia dan Gazakha sekali lagi. Tapi, bagaimana jika Gazakha berbicara yang tidak-tidak kepada Florencia? Bagaimana jika Gazakha mengungkapkan semuanya? Membeberkan semua kebohongan yang sudah dia lakukan di hadapan Florencia?             “Gaza!”             Seruan itu membuat Fitz tersadar dari pikirannya dan menoleh. Di kejauhan, dia melihat Gazakha sedang berdiri sambil menatap ke arah lain. Kemudian, seorang cewek menghampiri Gazakha. Cewek yang tidak pernah dilihat oleh Fitz sebelumnya. Lalu, di samping cewek itu, menyusul dari arah belakangnya, berdiri... Keylo.             Fitz mengeraskan rahang. Dia memperhatikan dari tempatnya bagaimana Gazakha, Keylo dan cewek itu sedang berbicara. Lalu, wajah Gaza terlihat sangat kesal ketika seorang cowok yang tidak dikenal oleh Fitz muncul dan berdiri di sisi si cewek itu.             “Ngapain ini orang berdua ada di sini?” tanya Gaza, yang bisa didengar oleh Fitz dari tempatnya bersembunyi. Kenapa dia bersembunyi juga, Fitz tidak tahu alasannya. Tahu-tahu saja dia sudah bersembunyi.             “Halo, adiknya Keylo yang keliatan banget nggak suka sama kehadiran kita berdua,” kata si cowok asing yang tidak dikenali oleh Fitz itu.             “Ah, bagus deh kalau situ paham gue nggak suka sama situ,” dengus Gaza.             Apa hubungan mereka tidak akur? Tapi, siapa mereka?             “Ada yang mau kita omongin, Za,” kata Keylo. “Tapi, nggak di sini.”             Gazakha mendesah berat dan mengangguk. “Di kamar Cath aja kalau gitu. Ayo.”             Fitz mengikuti kepergian keempatnya dengan kerutan di kening dan perasan yang mendadak tidak enak. Dan dia sama sekali tidak suka dengan hal ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD