kopi manis

1528 Words
Part.3. Kopi Manis. *** Ini adalah hari tersial bagi Chelsea. Ditolak william skaligus dimaki oleh David. Chelsea menyanderkan tubuhnya di kursi kayu dekat taman kampus. Meremas-remas jas juga menahan malu telah mengungkapkan hatinya pada willy. Menyesali apa yang sudah ia ucapkan Feby duduk di bangku dekat Chelsea. " kenapa, lo?" tanya Feby memberikan tisu Chelsea mengusap air matanya lembut dengan jemarinya. Ia menggeleng. " Gue denger elo suka sama si willy b***t itu..." tanya Feby. " b***t gimana?" tanya Chelsea. " iya gue ditolak willy..feb. hiks.. padahal gue masuk kesini buat ngejar willy. Dan membuktikan gue berhasil dan lolos dari tes ini dan itu..." Jelas Chelsea sedih. " Ah..., untung saja elo ditolak. Kalau enggak ntar elo jadi korban keberapa lagi..." " korban. Maksud elo apa sih...?" tanya Chelsea heran. " William yang elo ceritain semasa menengah dulu itu beda sama william yang sekarang. Chelsea, kabar buruknya sih ia pernah hamilin cewek sewaktu semester pertama disini. Terus cewek itu minta ia nikahi. willy juga sebenarnya mau tanggung jawab sama cewe yang namanya siapa ya...sell..selly deh. Kalau gue enggak salah, ya. Tapi setelah pertengkaran hebat selly sama keluarganya. terus keluarga meminta selly untuk mengugurkan kandungan, dibanding nikah sama willy. karena keluarga Selly tidak mau anaknya putus kulian karena Accident. Cewek itu lari dengan willy, mungkin mereka berniat kawin lari dan semacamnya. Tapi disuatu jalan tol, mobilnya celaka atau ditabrak gitu deh, si cewenya meninggal ditempat. sejak saat itu willy jadi gitu deh. Manfaatin cewek dan membuangnya bagai permen karet yang sepah..." Jelas Feby panjang lebar. " dan mungkin karena ia frustasi juga.., itu ungkap sahabat si Jody, yang sekarang tinggl di bandung." " oh.." jawab Chelsea singkat. " pantas saja, Willi yang dulu gue kenal jauh beda ketika gue ketemu lagi dia." Feby pamit. Tapi dicegah Chelsea singkat. Ia menahan lengan Feby. Feby mengernyit heran. " Apa lagi..?' tanya Feby hampir melotot. " Gue mau tanya?, tadi elo liat cowo yang lempar jas ini. Gue mau balikin jasnya yang kotor, tapi gue enggak kenal siapa? Lo... tau namanya gak?." Tanya Chelsea malu. "Jasnya kotor. ketumpahan makanan..." Ringisnya. " Oh...cowok, sijutek itu David. Udah jangan deketin cowo songgong itu. Balikin ajah jasnya! ia kakak kelas kita. Lo tau kan harus cari kemana. David anak buah Prof Setiawan. Anak kesayangannya. Elo cari ajah..., bye..., gue udah ditunggu sama Sule. Dia mau anter gue potong rambut. Sekalian dia juga mau luluran katanya biar kinclong." Jelas Feby. Lalu pamit berlari kecil menuju parkiran. Ditunggu mobil kecil milik Sule. " Elo Gak pulang?" Tanya Feby. Chelsea menggeleng. " Cowok pintar, tapi jutek sama songong, hegh!. lupain..! Tapi tipe pintarnya tipe elo banget kan?" Ledek Feby." awas ajah kalo lo berani deketin David." Ancamnya. "kenapa?" " Nanti yang ada elo dilempar buku sama dia, Udah banyak tuh korbannya. maklum anak kesayangan Prof.." Chelsea senyum. Lalu meremas jasnya kesal, Karena baru pertama kali ia dibentak-bentak. Feby menjelaskan bahwa ia adalah mahasiswa pintar. Ganteng juga jutek. Dan namanya adalah " david" Chelsea selalu mengulang nama itu. Berulang ulang. " david...david...david." *** Esok harinya Chelsea sudah membawa jas milik David dalam tasnya, Ia tersenyum samar ketika ia mengingat cowok jutek itu membuka jas dan melempar jasnya kelantai. Ada raut wajah yang tertangkap oleh Chelsea membuat jantungnya berhenti sedetik. Hari itu juga ia lupa jika ia sudah ditolak oleh William. Akhirnya Chelsea illfeel sama willi. Dan apa yang dikatakan oleh Feby benar. Ia melihat William menggoda cewek dijalan dengan tampang mesumnya. Tak lama motor itu berhenti di hadapan Chelsea. William menyapanya, hari ini menebar senyum dengan pamer ninja diparkiran, mengisyaratkan pada Chelsea untuk naik. Tapi Chelsea menolaknya, mengangkat kedua bahunya. lalu berjalan santai. Itu membuat willy kaget dan melongo. Tampang gantengnya sekarang kalah dengan tampang d***o mirip sapi ompong. "hei..hei chelsea.." mengejarnya pelan dengan motornya. Padahal ia ingat bahwa chelsea kemarin ia mengungkapkan hatinya lewat surat. walau sebenarnya Willy pura- pura menolaknya. Karena ada Mona kemarin. Jadi willy berpura-pura setia dihadapan Mona dan mempermalukan Chelsea. " Bye..." ucap Chelsea singkat. Chelsea sedikit berlari menuju arah rumah sakit. Melihat dimana David sedang bersama prof. Setiawan yang terkenal killer. Lima menit ia sampai di depan pintu kelas. Dan memberanikan masuk. " Bismillah" Ucapnya dalam hati. Chelsea masuk ke kelas prof dengan sikap yang kekanak-kanakan. " Halo...prof. he..he..., hmmm, maaf ganggu..., Saya mau kembalikan ini." Ucap Chelsea. Dengan tampang anak kecil polos. Dengan menebar senyum. Pada prof. Padahal prof botak itu tidak senyum sama sekali ataupun mengangguk. Prof malah melototi dirinya. Dengan kumis tebal yang menutupi bibirnya. " Anda! ke..L.." Ucap prof terpotong. David maju melangkahkan kaki dan menemui Chelsea di depan kelas. Ia mengambil jas miliknya. Chelsea senyum menganggukan kepalanya untuk pamit kepada beberapa pasang bola mata yang sedang melihat mereka berdua. Lalu meninggalkan kelas dengan melambai ala miss universe. 'bye..." tanpa suara. penuh senyum dengan gigi rapi milknya. William melihatnya. Dari luar. Ketika melihat Chelsea masuk kedalam kelas yang tergolong killer. Ia baru sadar jika Chelsea itu lebih menarik dari Mona. Mona yang sudah dipacarinya enam bulan lalu dan selalu memakai rok mini dan kemeja ketat yang melihatkan tubuhnya. Si Mona gadis sexy yang terkenal dengan hidup glamour dan kehidupan malam nya. Willy pertama kali menemukan Mona bukan dikampus, tapi malah diclub. Mona memperkenalkan diri dan menawarinya kencan semalam. Lalu esoknya ia kembali tidak sengaja bertemu dengan Mona dikampus. Mereka berdua kaget. Lalu menjalani kisah nya hingga sekarang. Willy masih terbayang bagaimana mata Chelsea menarik perhatianya dengan lesung pipit di kedua pipinya dan bibir tipis yang selalu berwarna peach. Cantik dan polos. " cantik.."desis willy. ia berdecak kagum dari jauh melihat chelsea jalan dan menjauh. selalu menebar senyum pada warga kampus. Dan ramah. Satu jam sudah. Jam praktek David selesai. Ia keluar dengan gesit tanpa menghiraukan teman yang sudah mengajaknya untuk main basket. " David kita main..." ajak temannya. hanya dapat tepukan bahu dari David dan meningglakannya cepat. "saya ada urusan sebentar!" David berjalan tegas menuju lorong menyusuri kelas satu demi satu, melihat mahasiswi dikelas dan menelak-kan satu-satu wajah mereka. Kembali ia menggeleng dan mencari satu demi satu. Ia masih mencari tahu siapa mahasiswi yang sudah berani masuk kedalam kelasnya dan tebar pesona. ia masih kesal dan geram. Hingga ia mendapatkan teguran dari prof. Setiawan karena telah memamerkan pacar baru untuk mengantarkan jas nya yang tertinggal. Itu membuatnya malu setengah mati ketika prof pujaanya menyindir. David menemukan kelas dimana gadis itu duduk dipaling depan. Sedang menatap mata dosennya. Dan mengigit pulpen oleh bibirnya. Berusaha menahan kantuk yang melanda dengan terus melotot. melihat gadis itu menahan kantuk dan menguap. Ada raut wajah aneh yang membuat David mengernyit." Ikhssh.." dumel David. Ia masuk kedalam kelas tanpa permisi. memamerkan gigi pada chelsea. daan berdiri dihadapan dirinya. Chelsea melongo. " David" desis chelsea kaget. David menariknya seketika. "'Ih...apaan..sih.." Ringis Chelsea mendapat cengkraman tangan yang kuat dari david. David menyeretnya keluar kelas. Chelsea masih meringis dan berusaha melepaskan cengkaraman David. menjauhi kelas menuju lorong toilet. dan persimpangan kelas. " lepaskan.." ringis Chelsea. Dosen itu teriak- teriak, tapi tidak digubris oleh David. David mengacuhkannya. terus membawa Chelsea hingga persimpangan kelas. " Akh.." David melempar tubuh Chelsea dan membentur ke dinding. Ia kembali meringis. david sangat kasar padanya. " Kamu kesal jika dipermalukan dikelas bukan.." Ucap David menembak dengan bibir pedasnya. Matanya tajam dan melihat wajah chelsea seksama. " Benarkan..?"tanya kembali memastikan Chelsea kesal padanya. " Tidaak. Aku berterima kasih. Karena Sudah keluar dari kelas membosankan." Ucap Chelsea. Dengan matanya, ia berkata jujur. David melepaskan cengkramanya. Ketika mendengar jawaban dari Chelsea. meluncur seperti air kelapa dari dahaga yang melanda. " Tidak." Ucap David tidak percaya. Chelsea mengangguk. Ia menjawab dengan matanya yang polos dan tidak pernah berbohong. David berdecak kesal. " Ck.." " kenapa? kamu kesal? Kalau ekspresiku tidak melotot dan marah telah keluar dari kelas.." Ledek kembali Chelsea." Thanks..ya. Udah buat aku keluar sebentar refresh otak!" Chelsea senyum. Ia sangat berterima kasih pada David. Bukan berniat mengejeknya supaya kesal. David meninggalkanya. Dengan kesal lalu merutuk dirinya sendiri. "ikhsshh...Gadis sial, itu.." Rutuknya. membayangkan raut wajah polos berkata jujur dihadapanya, membuat nafasnya berhenti sedetik. "ikhh.." ia masih mencoba menepis pikiran. Itu membuat Chelsea tertawa bahagia. " Ha..ha" Tawa chelsea ketika melihat David kesal sendiri. " Hey! aku udah bersihin jasnya. Bersih kan seperti baru?'' ucap Chelsea. Setengah teriak. Dan bangga pembantunya sudah sangat teliti, membersihkan dan memberikan pewangi pakaian lalu disetrikanya. Chelsea diam ia masih memandang. Punggung David yang memakai kaos kerah warna hitam dengan celana bahan warna abu. Menjauh dari tubuh Chelsea. Satudetik tubuh itu menghentikan langkahnya. David membalik. Ia hanya senyum dan kembali berjalan tegas. Meninggalkan Chelsea yang sudah diteriaki oleh dosen untuk kembali masuk atau keluar dari kelasnya seumur hidup. Dan Itulah ancamannya. Chelsea berlari kembali ke kelasnya. Dengan membawa senyuman sumringah dengan disoraki oleh teman sekelas. 'Woooo...." Wajah Chelsea merah. ________ Seperti Jam pasir yang membolak balikan waktu lalu dan waktu yang terhenti di saat ini. Lamunannya kembali pada tubuhnya yang memaku diruang dokter Dinda. Hingga Dokter Dinda bertanya padanya berkali-kali. "chelsea..! hallo..chelsea.." Dokter Dinda masih membuyarkan lamunan chelsea. "oh..eh..,maaf dok." Chelsea masih berdiri menyanderkan tubuhnya kedinding dan mengingat beberapa tahun lalu yang membuat dirinya mulai menyukai David. Memori yang membuat dirinya sesak dan tidak bisa membuat dirinya lupa. Lupa akan nama itu. Nama yang sudah ia ukir dalam hatinya. " David.."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD