Bab 9

1013 Words
"Nah! Aryan. Ini tugas kita sekarang!" Aira menunjukkan pekerjaan istana yang jauh lebih sulit dibandingkan hari sebelumnya. "Apakah kamu serius?" Adrian menatap tidak percaya. Aira mengangguk. "Hari ini tugas kita membersihkan semua toilet yang ada di istana." Ujar Aira bersemangat. "Semua?!" Adrian terkejut mendengarnya. "Iya. Semuanya." Jawab Aira mantap. Adrian hampir saja hilang keseimbangan. "Kamu kenapa?" Aira refleks menahan tubuh Adrian. Seketika kontak fisik keduanya, membuat perasaan Adrian bergejolak. Ia kembali mendapatkan kekuatannya setelah sebelumnya merasakan tubuhnya lemas. Adrian mundur beberapa langkah. "Kamu kenapa?" Aira merasa heran sekaligus cemas. Adrian masih tergagap. "Kenapa pipimu merah?!" Aira tidak mengerti dengan perubahan wajah pria dihadapannya. "Ti..tidak. Memangnya aku kenapa?" Adrian menyangkal. "Wajahmu merah. Apa kamu sakit?" Aira sedikit khawatir. "Aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak terbiasa untuk membersihkan ini semua." Adrian menunjuk toilet dan muncul perasaan mual ketika membayangkannya. Aira menarik paksa Adrian. "Tidak apa-apa. Itu hanya awalnya saja. Nanti juga terbiasa." Ujar Aira sambil terus menarik tubuh Adrian. "Tidak!" Teriak Adrian, ia ingin memberontak namun karena Aira sudah lebih dulu menariknya, Adrian akhirnya masuk ke toilet juga. Sepanjang membersihkan toilet Adrian terus merasakan mual, wajahnya memerah dan hampir tidak bisa mengendalikan diri. Beruntung Aira selalu sigap disana memberikan kekuatan pada tubuh Adrian. "Huft. Akhirnya selesai juga." Aira merasa puas karena semua pekerjaannya akhirnya selesai. "Terimakasih ya." Aira menepuk bahu Adrian, sedang Adrian hanya bisa menelan saliva nya. Hari menjelang sore. Setelah pekerjaan selesai, Aira meminta izin untuk keluar sebentar. "Ayo ikut denganku!" Aira mengajak Adrian karena ia tidak ingin pria itu dalam kesulitan jika tidak ada di sampingnya. "Aku harus pergi ke suatu tempat. Kamu boleh berjalan-jalan dulu disini sambil cuci mata." Ujar Aira. Aira mengajak Adrian pergi ke pasar internasional Kota Cahaya. Adrian tidak menolak. Menurutnya ini adalah kesempatan untuknya bertemu Lionel. "Bersenang-senanglah. Dua jam dari sekarang kita bertemu lagi disini!" Perintah Aira. Adrian hanya mengangguk. Tak berapa lama ia melihat sosok Aira semakin hilang dari pandangannya. Adrian merasa hampa. "Ada apa denganku?" Batin Adrian. "Tuan.." Suara di belakang mengejutkan Adrian yang masih merasa kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. *** "Apa Tuan?!" Lionel terkejut mendengar semua yang terjadi pada Tuannya. Adrian menceritakan bagaimana ia harus menjalani hari-hari sebagai pelayan istana disana. Namun semuanya ia lakukan karena masih belum menemukan jawaban dari semua masalahnya. "Tuan, apakah tidak ada jalan lain? Apakah Anda benar-benar harus bergantung pada gadis pelayan itu?" Lionel merasa putus asa. Adrian tahu ia bisa saja mengambil jalan pintas dengan menculik Aira. Namun menurutnya selama ia belum terdesak cara itu menjadi pilihan terakhir yang akan diambilnya. "Aku sudah berjalan sangat jauh. Dan ini sangat melelahkan." Ujar Aira sambil menenteng barang-barang di tangannya. Ia sudah kembali dari Toko Jenny, beruntung Jenny tidak ada disana dan ia hanya bertemu dengan pelayannya saja. Entah apa yang akan terjadi jika ia bertemu dengan Jenny. Selain karena ia masih berhutang, takutnya Jenny akan mengalami masalah atas kejadian tempo hari, pikir Aira. "Kemana Aryan itu?" Aira celingukan mencari keberadaan pria yang ia anggap sedikit bodoh itu. "Walaupun dia kadang-kadang menyebalkan, tapi ia juga sudah banyak membantu belakangan ini." Batin Aira sambil membayangkan sosoknya yang memang tampan. Aira segera tersadar. "Ada apa denganku? Hanya Tuan Devan yang ada di hatiku. Tidak boleh ada pria lain." Batin Aira menolak wajah Aryan yang tampan itu menggoyahkan perasaannya yang tulus pada Tuan Devan. Tak berapa lama Adrian sudah berdiri di hadapannya. "Pergi kamu!" Teriak Aira. Adrian merasa bingung. Bukannya sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja, pikirnya. "Kamu kenapa?" Adrian bertanya penuh rasa heran. Aira sadar bahwa pria yang sekilas melintas dalam pikirannya benar-benar berdiri di hadapannya. "Oh! Itu benar-benar kamu." Aira merasa malu karena ia sudah bertindak tidak wajar. Adrian dibuat bingung dengan sikap Aira. "Ayo segera kembali! Kamu darimana saja sih! Aku kan sudah bilang tepat waktu disini." Aira masih menggerutu sepanjang perjalanan kembali ke istana. Adrian mendengarkan ocehan Aira sedari tadi. "Setelah ini kamu harus dihukum." Tegas Aira. Adrian terkejut mendengarnya. "Berani sekali pelayan rendahan sepertimu bicara seperti itu. Setelah semuanya kembali normal. Kamu menjadi orang pertama yang akan menerima hukuman dariku!" Pikir Adrian sambil membuang nafas. "Kamu dengar tidak?" Aira masih saja mengomel sambil berjalan. Namun tak berapa lama pandangannya ia rasakan semakin lama semakin berat. "Ya, apa?" Adrian gelagapan mendengar Aira yang masih saja mengomel. "Aryan..Kamu.." Belum selesai Aira menyelesaikan kalimatnya tiba-tiba. BRUK! Adrian terkejut karena tiba-tiba Aira terjatuh dihadapannya. Beruntung karena refleks, Adrian segera menahannya hingga tubuh gadis itu tak sampai terbentur ke tanah. "Hei! Kamu kenapa? Bangun!" Adrian menepuk-nepuk pipi Aira dan sedikit menggoyangkan tubuhnya. Aira masih tidak bangun. Adrian memutuskan membopong tubuh Aira. Untungnya mereka sudah dekat dengan istana. Hari sudah malam, beberapa orang sudah beristirahat, hanya tinggal pengawal yang masih tetap berjaga. Mereka melihat Adrian membawa Aira yang sepertinya tidak sadarkan diri. Adrian meminta mereka segera memanggil tabib istana. Adrian sudah membawa Aira ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh lemah gadis itu di atas tempat tidurnya. Tak berapa lama tabib istana datang kesana. "Hanya kelelahan. Untuk beberapa waktu sebaiknya dia beristirahat dan jangan melakukan aktivitas berat," ucap tabib istana itu. Tabib memberikan beberapa ramuan herbal yang harus diminum Aira. "Terimakasih." Ujar Adrian yang kemudian menyadari entah kenapa beberapa waktu ini ia lebih sering menghargai orang lain. "Fokuslah!" Batin Adrian merutuki dirinya yang telah banyak berubah. Tabib telah keluar dari kamar. Tertinggal hanya Aira dan Adrian disana. Teman-teman Aira yang lain saat ini pasti sudah tidur karena lelah setelah seharian bekerja. "Pantas saja ia sering pingsan." Adrian menatap Aira membayangkan bagaimana gadis itu selalu bekerja keras menyelesaikan pekerjaannya. "Kamu memang benar-benar bodoh!" Batin Adrian sambil tetap mengompres kening Aira untuk menurunkan suhu badannya yang tinggi. *** "Ikut dengan kami!" Para pengawal istana menarik tubuh Aira dengan kasar. "Apa yang kalian lakukan?" Teriak Aira karena beberapa pengawal membawanya dengan paksa. Pengawal itu membawa Aira ke suatu tempat. Aira didorong hingga tersungkur ke lantai. "Kamu!" Aira terkejut melihat Aryan juga duduk bersimpuh di sampingnya. Aira mengalihkan pandanganya pada seorang pria yang berdiri membelakanginya. Pria itu berbalik dan memperlihatkan raut wajah tidak senang. "Tu..tuan Devan." Aira bicara dengan terbata-bata. "Tidak ku sangka kamu sudah memasukkan orang asing ke dalam istana," ujar Devan dengan penuh rasa marah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD