Perkiraan pertama yang akan dilakukan Dave adalah mengungkung Karyna di dalam kamar hotel. Dia sudah memikirkan trik lain untuk mencegah adanya insiden mandi air dingin
kembali setelah kejadian enam hari lalu. Dave dan rencana licik dalam kepalanya tidak akan berhenti hanya karena jadwal rutin bulanan wanita. Persetan dengan masa period. Dave tahu seharusnya dia tidak dikelabui oleh Karyna hanya karena datang bulan. Dia bisa mengakali dengan hal lainnya dan bodohnya dia terperdaya semenjak Karyna melayangkan pertahanannya.
"Karyna," panggil Dave begitu mendominasi.
Balutan pakaian adat nan resmi sudah terlepas dari tubuh pria itu. Kematangannya lebih nampak dengan segala aksesori yang tak lagi melekat pada rambut, wajah, maupun tubuh suami Karyna itu.
"Iya, Pak?"
Dave mendekati Karyna yang sudah sama polosnya—dalam artian tidak menggunakan riasan maupun aksesori lainnya. Perempuan itu sibuk mengeringkan rambut dengan handuk dari hotel, sedangkan alat pengering rambut ditinggalkan di rumah Dave.
"Duduk sini!" Titah pria itu.
Dave memang lebih suka bicara dengan posisi duduk. Akan lebih tenang jika nantinya ada gesekkan pendapat. Setidaknya, dengan duduk di ranjang berdua dengan Karyna yang sudah berstatus menjadi istrinya akan lebih mudah. Mudah melucuti setiap helai pakaiannya.
Karyna menurut. Kebiasaan ketika berada di kantor, perempuan itu akan selalu menuruti titah dari bibir Dave. Walaupun ada banyak argumentasi yang muncul setelahnya.
"Bagaimana, Pak?"
Tidak langsung merujuk pada gagasan utaman pembicaraan, Dave memilih mengelus d**a Karyna dengan telunjuknya sekilas. Diperhatikannya Karyna yang menahan napas ketika putingnya berdesir merasakan kulit jemari pria itu dibalik gain tidurnya.
"Benar, ternyata."
"Apa yang benar, Pak? Kenapa bapak tiba-tiba menyentuh... d**a saya?" protes Karyna meski tak menutupi d**a setelahnya.
Entah terlalu polos atau hanya menggoda Dave, tapi yang dilakukan Karyna dengan protes keras sembari membiarkan dadanya tak ditutupi semakin menantang bagi Dave.
"Benar, ternyata kamu memang tidak memakai bra." Dalam sekejap, Dave melabuhkan bibirnya pada leher istrinya. Mengarahkan setiap gerakan tangannya untuk mengusap lengan atas, bahu, tengkuk, hingga d**a tak terlewati oleh jemari pria itu. Kecipak bunyi dari hasil bibir yang berlabuh di leher itu mengisi kesunyian kamar yang mereka tempati.
"Apa bapak nggak jera? Saya sudah bilang—hng!" Karyna terkesiap ketika Dave, tanpa aba-aba, memastikan sendiri bagian intim perempuan itu.
"Kamu nggak memakai pembalut, Ryn." Serak, pria itu berkata. "Ini tipuan? Kamu mencoba menipu saya lagi , hm?"
Tangkupan telapak tangan Dave yang lebar serta kuat di bawah sana mendadak semakin liar.
Sisi telunjuk yang dimiringkan menekan katup bibir bawah Karyna yang hanya terbalut lain tipis yang tidak bisa dikatakan celana dalam, sebab tidak ada sekat kain yang melapisi bagian wanita milik Karyna itu.
"Sialan, Karyna! Kamu mempermainkan saya."
Semakin Dave menggerutu, semakin pula Karyna mengeluarkan gaya terkesiap sensualnya. Ya, s*****l. Sebab Karyna sudah belajar banyak selama enam hari yang tidak diketahui Dave
itu.
Enam hari untuk menonton ragam video bermuatan dewasa. Karyna melakukannya, sebab dulu ketika masih menjadi mahasiswi banyak teman perempuannya yang membahas malam melepas lajang dengan berburu tontonan tak etis sebelum salah satunya menjadi milik orang lain. Ada pula yang menyewa penari streaptease
pria sekaligus wanita untuk melepas masa lajang di malam itu. Masih banyak cara dan Karyna tidak bisa melakukan cara manapun bersama temannya.
Teman? Siapa yang memerlukan teman untuk mengamati berbagai video tersebut? Toh, Karyna bisa mengaksesnya sendiri. Lebih tenang, fokus dan tentunya menggairahkan. Walau dipermulaan Karyna harus menahan mual, lama-lama dia terbiasa untuk memahami setiap momen, gaya, serta plot dalam video-video tersebut.
"Saya nggak mempermainkan bapak... hhh." Karyna menekan telapak tangan Dave.
Dalam kepala berantakan Dave, respon Karyna terlalu bagus. Ketika dia paksakan jemarinya masuk tanpa penetrasi dan masih begitu kering, pria itu yang justru terlonjak sedikit terkejut.
"Dari mana kamu belajar menjadi basah seperti ini?" bisik Dave menurunkan bibirnya.
Semula pada tulang selangka, lalu d**a dan akhirnya menyentuh p****g menegang Karyna.
Tak kunjung mendapat jawaban dan justru mendapati istrinya mendongak seraya merapatkan jemari Dave dengan bagian sensitif perempuan itu, Dave tahu harus melakukan apa.
"Pak??? Kok, dilepas???" protes Karyna yang tidak merasakan pergerakan apapun di dalam inti tubuhnya.
"Jawab saya, Karyna. Dari mana kamu belajar menjadi seperti ini, hm?"
Bibir Karyna yang membuka seiring dengan usapan ibu jari Dave pada klitorisnya membuat pria itu gemas. "Jawab, Karyna!" Dengan mencubit bagian kecil seperti kacang polong itu hingga membuat Karyna terhenyak menaikkan bokongnya karena sensasi yang dirasa.
Napas bak diburu, Karyna menjawab. "Dari mana lagi memangnya? Bapak pasti tahu... ugh!
Hati-hati dengan kuku bapak!" Dalam merasakan nikmat, masih saja Karyna memprotes. Sepertinya sudah mendarah daging dalam diri perempuan itu untuk selalu protes dan membalas argumen.
Dave menyeringai, kembali memasukkan jemarinya satu persatu dalam inti Karyna. Dia buat sang istri melenguh hingga rambut panjang perempuan itu menjuntai menyentuh ranjang dan leher jenjangnya melebar memberi ruang bagi mulut Dave untuk mengeksplorasi.
"Akh—pak!" kembalik Karyna menyaringkan suara. "Kenapa leher saya sakit!?"
Mau tak mau Dave terkekeh. Rupanya Karyna masih harus banyak belajar secara praktikum, bukan sekadar teori.
"Kamu akan tahu jawabannya. Tapi sebelum itu..." Dave menatapi wajah memerah serta mata setengah terpejam Karyna lebih dulu.
"Sebelum itu, apa, Pak?"
Dave melumat dalam bibir Karyna untuk waktu singkat, membuat perempuan itu berharap lebih mendapatkan kepuasan.
"Sebelum itu, tunjukkan kepada saya apa saja hasil dari observasimu selama saya lengah mengawasi kamu."
Dave tahu, dia harus menggoda Karyna lebih dulu sebelum menyemburkan tujuan utamanya.