Sejak malam itu, Ayana tak bertingkah. “Pa, Ayana mau berangkat dulu ya...” pamit Ayana sambil mengulurkan tangan ke arah Raffa, laki laki itu menyambut tangan puterinya dan tersenyum. “Ati ati loh ya, jangan sampe handphonenya mati kaya hari itu...” pesan Raffa dengan tenangnya. Ayana hanya meringis setelah mendapatkan peringatan itu. “Sip! Papa....!!” jawab Ayana, kemudian ia beralih ke Ibunya. Loue sudah menimang nimang Ayana sejak tadi. “Ngapain Mama liatin Ayana kaya gitu?” tanya Ayana. Loue hanya tersenyum simpul. “Engga apa apa, Mama sedikit seneng... anak perempuan Mama akhirnya rada anteng.” Jawab Loue sambil menyodorkan tangannya ke arah Ayana dan Ayana menyambar tangan itu cepat

