Pondok Energi. September 2012.
Ayah,
Yang paling penting dari seorang pria, apa?
Harusnya kutanyakan hal ini saat kau masih hidup.
***
Ifa mendengarkan. Itu keahliannya. Mulut hanya diciptakan satu. Telinga diciptakan dua. Tetapi riset menunjukkan kalau manusia punya kecenderungan untuk lebih banyak berbicara daripada mendengarkan. Sebagai spesies yang berbeda dari kebanyakan orang, ia rasa dirinya bisa diistimewakan, seperti hak untuk menjadi perawan tua.
"Dia tidak punya kekurangan apa pun. Ibumu benar, Bintang mewarisi perusahaan keluarga kami yang bergerak dibidang industri manufaktur perhiasan emas. Dia bisa memberimu satu ruangan penuh permata, intan dan berlian. Tetapi, bisa kupastikan dia tak akan melakukannya. Putraku, dia orang yang sederhana. Bintang memilih mengabdi pada negara dan menolak warisannya. Kekurangannya hanya satu, dia tidak bisa diatur, kecuali oleh syariat."
Sederhana. Apa makna kata itu. Otak Ifa tiba-tiba saja susah menjalankan fungsinya. Lamaran kali ini sungguh berbeda dari yang sebelumnya. Bagaimana cara Ifa untuk menolaknya. Kalau diingat-ingat lagi, sebenarnya Ifa bahkan tak pernah menolak, mereka-lah yang mundur dengan sendirinya.
"Usia Bintang 26 tahun. Dia putraku satu-satunya. Apa yang bisa kutawarkan padamu agar kau mau menerimanya?”
Ifa tak perlu penawaran apa pun. Ia tidak akan mau menerima Bintang atau siapa pun sebagai suaminya.
"Putraku anak yang baik. Pria sejati. Setiap calon pewaris perusahaan keluarga kami harus menjalani hidup satu tahun dalam pondok pesantren. Bintang sudah melewati itu dan dia diharapkan segera mengambil alih warisan dari ayahnya."
Ifa menelengkan kepala, ia tak paham arah pembicaraan ini. Nyonya Rani juga tampaknya mulai sadar kalau pembicaraannya telah menyimpang sehingga beliau-pun terdiam. Hening. Ifa tak tahu harus mengatakan apa. Pelayan juga tak kunjung hadir untuk menyelamatkan percakapan mereka.
"Kenapa kau menolak semua lamaran sebelumnya?" tanya Nyonya Rani meluncur lagi setelah lama hanya memandangi Ifa penuh penilaian.
"Saya tidak pernah menolak."
"Baiklah. Berarti kau menerima putraku?"
Ifa menatap Nyonya Rani dengan bingung bercampur amarah. Ia paham arti kalimat itu. Kemenangan sepihak. Itu tidak adil. Bukan begitu maksud Ifa. "Nyonya Rani..." Suara Ifa bergetar, bibirnya segera terkatup. Ia harus menjelaskan ini. Kesalahpahaman tak boleh terjadi dalam pembicaraan ini. "Anda salah memahami kalimat saya."
"Maafkan aku." Beliau mendekatkan wajahnya lebih rendah ke meja. "Kenapa mereka tak melanjutkan niat menikahimu?"
Itu bukan salahku, jawab Ifa tegas. Hanya dalam benaknya.
Nyonya Rani terus memandangi Ifa, bahkan beliau sepertinya menghitung berapa kali Ifa berkedip dalam satu menit diamnya. "Katakan. Kau sudah memikirkan jawabannya. Katakan, apa jawabanmu?"
"Itu bukan salah saya," jawab Ifa apa adanya. Ia perlu membela dirinya atas kegagalan yang Nyonya Naraya terpaksa alami tiga puluh kali untuk menikahkannya.
Nyonya Rani sekali lagi tersenyum. Ifa sampai-sampai memikirkan seperti apa rupa pria yang dibesarkan bersama senyuman itu. Apakah pria itu mewarisi senyuman dan kegemaran Nyonya Rani dalam hal tersenyum. Rasanya ia mendapati senyuman Nyonya Rani selama satu hari bisa lebih mengungguli senyuman yang bisa Ifa tunjukkan dalam satu bulan penuh.
"Kau benar. Bukan salahmu kalau mereka mundur." Nyonya Rani menunjukkan segaris tipis bibirnya, yang jelas bukan sebuah senyuman ramah. "Putraku akan menyetujui keputusanku. Dia akan menikahimu kalau kau mau menerimanya. Biasanya kau tak punya pilihan, bukan. Kali ini kau yang menentukan. Apa kau mau menerima putraku?"
"Saya ingin bertemu dengannya lebih dulu," kalimat Ifa meluncur selaras pemikirannya. Kali ini ia menjawab tanpa menyimpan lebih dulu jawaban itu. Tak seperti lawan bicaranya yang biasa, Nyonya Rani berhasil menunjukkan kesabaran dan keteguhan yang lebih lama dari teman bertukar kata Ifa sebelumnya, termasuk ibunya, Nyonya Naraya.
"Percayalah, dia orang yang lebih sabar daripada aku. Dia akan tetap memperlakukanmu dengan baik sekalipun kau mengabaikannya. Dia satu-satunya orang yang bisa bersamamu."
Ifa tak bisa menaruh kepercayaan pada sembarangan orang. Nyonya Rani adalah orang sembarangan yang baru saja bertemu dengannya. Sudah selayaknya seorang ibu memperindah anaknya di depan orang lain. Bahkan Nyonya Naraya melakukannya untuk Ifa. Ibunya menonjolkan karakter Ifa sebagai cantik, pendiam dan penurut meskipun sebenarnya Ifa adalah anak yang tak mau bertukar kata dengan sesama manusia.
"Ibumu akan memaksakanmu dalam pernikahan ini. Aku menginginkanmu sebagai menantu. Katakan apa yang kau inginkan? Apa yang ingin kau ketahui tentang putraku?"
Ifa tak punya jalan keluar lain. Harusnya Nyonya Rani tak datang. Jika putranya yang datang tentu Ifa tak perlu mengalami situasi dilema ini.
"Tidak ada?" tanya Nyonya Rani mendesaknya.
"Saya ingin bertemu dengannya lebih dulu," ulang Ifa datar.
"Akan kuusahakan. Selain itu, tidak ada?"
"Ada!" pekik Ifah pelan. Napasnya memburu karena terlalu sesak oleh amarah. "Saya akan mengajak Anda ke suatu tempat."
"Tunjukkan padaku sekarang juga." Nyonya Rani bangkit.
Sementara dari dapur pelayan baru saja muncul membawa baki. "Kami akan ke Pondok sebentar. Jaga tehnya tetap hangat dulu," kata Ifa seperlunya kepada pelayan yang segera mengangguk patuh.
Ifa bangkit dan mempersilakan Nyonya Rani berjalan setapak lebih dulu daripada langkahnya. Meski bukan termasuk orang yang ramah, Ifa bisa bersikap sopan, sepanjang yang bisa ia terapkan.
"Sebuah pondok?"
Ifa tanpa sadar menjawab, "Ya, saya yakin Ibu saya sudah bercerita kepada Anda bagaimana diri saya. Saya butuh tempat menyendiri, selalu, setiap hari."
Angin adalah ciptaan Tuhan yang tak punya wujud tetapi dia ada. Dalam setiap kesempatan, udara dan angin bersua. Ifa suka merasakan embusan angin. Ia melangkah menapaki jalan setapak yang berukuran lebar tak lebih dari satu meter yang meliuk dari rumah menuju pondok energinya. Ribuan kali Ifa lewati jalanan itu dan ribuan kali pula ia merasa senang ketika melakukannya. Ia suka terutama ketika angin menerpa gaunnya sehingga membuatnya berkibar. Ifa suka segala hal yang menandakan kebebasan. Angin itu bebas. Angin tak pernah bisa ditundukkan kecuali oleh penciptanya.
"Sejak kapan kau memakai jilbab?" Suara lembut wanita, teman langkahnya.
Sejak dulu. Sejak semua orang menertawai warna rambutku, pikir Ifa. Ifa merasa sendirian sebelumnya, sebelum Nyonya Rani mengajukan pertanyaan kepadanya. Tenggelam dalam ingatannya tak membantu Ifa mengatakan segalanya dengan mudah. Ifa tak mudah menemukan kata-kata untuk mewakili perasaannya. Sehingga ia lebih suka diam dan kebiasaan itu kini mendarah daging.
"Kenapa hanya kau yang berjilbab? Bahkan Ibumu tidak mengenakannya."
Ifa yakin tak ada yang perlu ditutupi dari ibu dan kedua saudarinya. Rambut mereka berwarna cokelat kemerahan, warna yang cukup umum. Sementara Ifa punya rambut keturunan Bakrie, pucat kekuningan. "Aku ingin," jawab Ifa singkat.
Ifa ingin menutupi rambutnya dari pandangan teman-teman, kemudian merasa nyaman terus memakainya di depan orang asing. Anggota keluarganya sendiri cukup asing, tetapi mereka tak pernah mempermasalahkan warna rambut Ifa. Sejak tingkat menegah pertama, Ifa bersekolah seperti anak-anak lain yang menutupi rambutnya dengan jilbab meski keluarga mereka bukan orang yang taat dalam beragama. Nyonya Naraya pernah tak menyukai permintaan Ifa karena menutupi rambutnya yang menarik. Namun beliau tak bisa berbuat apa-apa ketika Tuan Bakrie memutuskan. Oleh ayahnya Ifa boleh menyembunyikan rambutnya yang semakin menarik bagi orang lain. Ifa selalu boleh mendapatkan apa pun yang membuat dirinya nyaman, termasuk menyendiri. Sementara Nyonya Naraya, beliau lebih suka putri-putrinya pandai berdandan dan memilih pakaian daripada memahami isi bacaan, kecuali bacaan yang tercantum dalam majalah perhiasan. Ibunya selalu mendapatkan majalah itu yang terbit tiga bulan sekali berisi produk-produk terbaru barang mewah. Ifa sendiri lebih suka membaca buku yang lain yang banyak tulisannya dan bukan bergambar perhiasan semata.
"Untuk usia lima puluh lima tahun, perjalanan seratus meter cukup membuatku kelelahan," ucap Nyonya Rani menoleh ke belakang, tempat jejak langkah mereka tertinggal dari rumah hingga pondok. "Kapan Pondok ini mulai berdiri?" tanya beliau terlontar sambil menengadah ke genting yang menaungi teras pondok.
"Dulu."
Nyonya Rani tersenyum menelengkan kepalanya sambil menelaah Ifa yang memasukkan anak kunci ke lubang pintu. "Kau sangat cantik dibandingkan saudari-saudarimu. Sepengetahuanku mereka menjadi wanita yang menawan dan tetap ceria. Aku pernah bertemu keduanya suatu kali ketika mereka berbelanja bersama Ibu kalian. Baru kali ini aku bertemu denganmu."
Ifa tak punya apa pun untuk dikatakan. Dirinya memang lebih cantik dari Aya dan Ayu. Mereka memang cukup menawan dan terlalu ceria. Nyonya Naraya kadang membawa dua kakaknya berjalan-jalan tanpa Ifa. Bukan Ifa tidak pernah diajak, tetapi Ifa lebih suka ditinggal sendirian. Ifa mempersilakan Nyonya Rani masuk ke dalam pondok pribadinya. Ketika melangkahkan kaki, Nyonya Rani tampaknya menyukai pondok tersebut. Kelelahan beliau memudar dengan mudah. Senyumnya melengkung lagi dan lagi. Beliau mendekati jendela tempat pemandangan oleh bunga alamanda atau bunga lonceng emas berwarna kuning yang banyak membelukar di pagar tinggi pekarangan.
"Silakan duduk," kata Ifa kepada wanita senja tersebut. Ia tak akan sangat menyiksa Nyonya Rani untuk terus berdiri sementara ada kursi yang bisa mengistirahatkan kaki beliau sebelum mereka harus mengulang jejak lagi.
Nyonya Rani tersenyum lalu segera duduk di kursi Ifa, meletakkan sebelah tangan di atas mejanya. Sementara pandangan beliau tertuju ke luar jendela, kepada pohon Beringin dan ayunan tua. "Apa nama tempat ini?"
"Pondok Energi. "
Wajah Nyonya Rani berbalik kepada Ifa secara tiba-tiba. "Bagus sekali namanya. Kuyakini tempat ini berfungsi semestinya."
Tempat ini sudah memulihkan Ifa dari ribuan hari melelahkan dalam hidupnya. Seseorang akan menemukan Ifa dalam pondok ini dalam keadaan banyak hal. Ifa bahkan pernah tertidur dan dibangunkan oleh Ayu. Meski tak pernah diizinkan untuk menempatkan sebuah ranjang di dalam sini, Ifa bisa tidur siang dengan duduk di kursinya dengan kepala lemas di atas meja. Ayahnya sudah mengisyaratkan kalau pondok ini bukan rumah. Pondok Energi hanya boleh digunakan siang hari. Sebab tak pernah dipasang lampu di dalamnya agar Ifa tak terus terlalu nyaman dengan kesendiriannya.
"Setiap orang punya caranya masing-masing dalam memulihkan diri. Aku misalnya, aku suka memasak."
Ifa tak mengerti mengapa memasak bisa memulihkan energi. Menurutnya kegiatan itu butuh energi dan tidak akan menghasilkan apa pun yang bersifat energi positif. Memasak akan menghasilkan makanan, dapur yang berantakan dan perabotan yang kotor. Syukurlah Ifa tak perlu melakukan semua itu selamanya.
"Bintang misalnya..." Nyonya Rani tampak berpikir. Cukup lama menggantung kalimatnya sampai beliau diam sendiri.
Ifa tak tertarik mengetahui kelanjutan kalimat Nyonya Rani. Sebenarnya ia tak tertarik sama sekali dengan Bintang kecuali untuk membuat pria itu tidak mau menikahinya. Ifa memulihkan diri dengan sendirian, menyendiri. Dan, menikah bukan komitmen yang cocok untuk cara pemulihan Ifa yang hanya satu-satunya itu. Menikah itu menjadi dua, lalu menjadi tiga seperti Ayu, mungkin juga menjadi empat seperti Aya, bahkan mungkin menjadi lima seperti Nyonya Naraya. Sementara Ifa hanya ingin Ifa sendiri.
"Apa yang dilakukan Bintang untuk memulihkan diri?" tanya Nyonya Rani lebih kepada dirinya sendiri. Beliau tampaknya masih ulet menemukan jawabannya. "Menurutmu apa?"