Ayah, Hanya kau yang kupunya. *** Ifa menemukan reaksi gugup dari Bintang. Ia lalu sadar kalau dirinya sudah melewati batasan sebagai wanita terhormat didikan Nyonya Naraya. Tak seharusnya ia mengintip barang pribadi orang lain, tetapi ... bukankah Bintang Abimayu pernah mengatakan semua miliknya juga adalah milik Ifa pula? “Saya merasa ingin duduk, tetapi tak bisa melakukannya,” ujar Ifa menatap kursi kosong di samping dengan keinginan hampa. “Kenapa?” “Bagaimana kalau darahnya meresap ke gaun ini?!” tanya Ifa menaikkan suara seraya mendelik singkat. Bintang cukup peka kalau sesuatu diantara mereka berubah. Entah pengaruh menstruasi Ifa, atau laman pada ponselnya. Ia menghela napas sebelum mengatakan kalimat dengan tenang, “Darah haid tak sebanyak itu, Ifa. Gaunmu sangat tebal. Ap

