Ayah, Kau akan kebanjiran cucu. *** Ifa mengerjap. Bagaimana ia bisa tahu kabar itu kalau tidak ada yang memberitahunya. Aya tersenyum mengusap perutnya, “Kau juga tak tahu kalau aku sedang mengandung pula.” Ifa menutup mulut dengan tangan. “Kalian merencanakannya?!” pekik Ifa pelan dengan bola mata melebar. Tawa Aya terlepas. “Mana mungkin direncanakan, Ifa.” Ifa merengut. “Seingatku Ayu trauma menjalani peran ibu.” “Dia tidak trauma bergulat dengan suaminya.” Aya melibas udara. “Maaf. Aku tak bermaksud kasar.” “Paman Bintang mana, Bibi? Khumaira?” tanya Edwina lagi. Kepalanya tak diam menoleh sekitar seolah mencari apa yang ditanyakannya. “Orang-orang tertarik pada Khumaira, pasti bersama Nininya.” Edwina diam dalam wajah kecewa, tapi tak mengatakan apa-apa. Ifa membiarkan A

