Ayah, Aku rindu. *** Bintang pikir ia melihat pantulan dirinya di mata Ifa. Begitu jelas nampak berbayang di sana. Ia takut untuk mengatakan sebenarnya, takut menyakiti Ifa lagi. Tetapi mungkin memang Ifa tak mengerti apa yang selama ini Bintang khawatirkan terjadi diantara istri dan ayahnya. Ifa masih menunggu jawaban, tak sesaat pun ia melepaskan pandangan dari wajah Bintang. “Ataukah Anda ... mencintai saya?” ulang Ifa sama. Bintang akan menggeleng keras andai ia tak akan menyakiti Ifa jika melakukannya. Namun benar, Bintang belum menemukan apa-apa dalam hatinya untuk Ifa, Latifa. “Ifa, maaf. Aku akan ... mencintaimu, tapi belum. Belum sampai saat ini.” Sesal yang Bintang tampilkan membuat Ifa kesal. Seolah dirinya minta dikasihani, dicintai. Padahal bukan begitu konteks pembicara

