Bintang, Keindahan itu hanya satu, Bintang Abimayu. *** Bintang hanya menatap Ifa. Tak seperti biasanya, pria itu tak memberikan pujian manisnya. Meski Ifa rasa puisinya cukup bagus untuk tercipta begitu tiba-tiba. “Aku akan menulis seperti itu jika saja sedang membawa pulpen dan buku,” ujar Ifa kemudian. “Ifa, tunggu sebentar.” Bintang kemudian berlari memasuki rumah sesaat. Selagi suaminya pergi Ifa memandangi halaman depan Kastil Abinaya. Pelan-pelan Ifa menurunkan kakinya pada undakan tangga. Ifa merentangkan tangan lalu menghirup udara dan menutup mata. Damainya tak bisa dikata. Ifa bisa mendengar langkah berlari suaminya di belakang sana. Kemudian pria itu berhenti di belakang Ifa, napasnya masih belum stabil semula. Ifa bisa menghirup aroma suaminya tanpa membuka mata, bi

