Tok. Tok. Tok. Chloe mengetuk pintu rumah di depannya beberapa kali. Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari dalam. Sehingga membuat Chloe mengulangi ketukannya. Tok. Tok. Tok. Bunyi ketukan pintu dengan lebih keras.
"Sepertinya rumah ini kosong, Chloe," kata Damian yang berdiri di samping Chloe. Sesekali lelaki berbadan jangkung itu menoleh ke arah sekitarnya. Untuk memeriksa keadaan. Sepi. Memang tidak ada siapa-siapa di sana kecuali mereka berdua. Namun, Chloe tak menggubris. Ia malah mengetuk pintu di depannya itu dengan lebih keras. Tok. Tok. Tok. Tok. "Chloe! Hentikan!" cegah Damian. Sambil meraih tangan wanita itu. "Kamu ingin membuat kegaduhan di tempat yang tidak kita kenal?" tanya lelaki itu dengan nada serius. Chloe pun terdiam. Kemudian menarik tangannya yang berada di genggaman tangan Damian. "Begini saja! Kita pergi ke tempat lain. Siapa tau ada orang lain yang lebih menginginkan kedatangan kita?" usul Damian. Chloe lagi-lagi hanya terdiam. Hingga akhirnya ia pun mengangguk mantap.
"Baiklah. Kita pergi ke tempat lain," ujar Chloe sambil berjalan mendahului temannya itu. Damian pun menatap punggung Chloe yang bergegas mendekati mobilnya. Sedetik kemudian ia pun segera menyusul.
Chloe dan Damian datang ke rumah kedua dari daftar yang diberikan Felix pada mereka. Tepat di depan halaman yang cukup luas Damian menghentikan laju mobilnya.
"Benar ini rumahnya?" tanya Damian dengan kepala celingukan keluar jendela. Chloe pun menatap kertas di tangannya dengan lekat-lekat.
"Benar. Nomor rumahnya saja sama. A tiga puluh dua."
"Oke. Mari kita turun!" ajak Dian sambil membuka pintu mobil di sampingnya. Kemudian ia pun segera turun dari dalam mobil. Diikuti oleh Chloe yang tak mau membuang-buang waktu. Mereka berdua mendekati pintu rumah itu. Kemudian dengan antusias tinggi. Chloe memencet tombol bel yang disediakan di samping pintu kayu itu.
Tweet! Teeeet! Teeeet! Bunyi bel itu yang menggema di ujung rumah sana.
"Wow. Sepertinya rumah ini cukup besar," kata Damian sambil memandangi bangunan di depannya dengan takjup.
"Entahlah. Aku hanya berpikir semoga rumah ini tidak kosong lagi," sahut Chloe. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibuka dari dalam. Namun, sayangnya itu tidak terbuka lebar. Hanya menunjukkan sebagian nwajah seorang wanita tua yang terlihat ketakutan. Damian dan Chloe pun saling melempar pandang melihat hal itu. Mereka merasa apa yang dilakukannya cukup aneh.
"Selamat siang," sapa Chloe dengan ramah.
"Ada perlu apa kalian datang kesini?" tanya wanita itu dengan nada ketus. Seakan tak suka dengan kedatangan mereka berdua.
"Perkenalkan, saya Chloe dan ini teman saya Damian…."
Blak! Pintu pun mendadak di tutup sebelum Chloe berhasil mengutarakan niatnya datang kemari. Kedua siswa Aberdeen high school itu pun sontak terkaget saat mendengar pintu di depannya dibanting dengan cukup keras.
"Apa salahku? Bahkan, aku belum ngomong apa-apa?" tanya Chloe heran.
"Sudahlah. Mari kita datang ke tempat lain," ajak Damian lagi. Chloe pun segera mengangguk lalu mereka pergi dari tempat itu. Di balik tirai rumah itu, seseorang tengah memarahi wanita tua tadi.
"Lain kali! Jangan membuka pintu untuk orang sembarangan! Kami mau diculik seperti anjing kesayanganmu?!" ujar wanita dengan usia yang lebih muda. Wanita tua itu pun langsung menggeleng dengan cepat.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!" dengan panik wanita tua itu malah berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya dari dalam.
Sementara itu, Damian dan Chloe terus menyusuri jalanan kota Aberdeen untuk menemukan rumah selanjutnya. Mereka terus mengikuti petunjuk arah yang sudah ditentukan oleh map yang ada di mobil itu. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah rumah di daerah perkampungan pinggir pantai. Damian pun menghentikan mobil di tempat lapang sebelum perumahan itu. Sebab, jalanan yang sempit tidak memungkinkan mobilnya untuk masuk lebih dalam lagi.
Blak! Damian dan Chloe menutup pintu mobil itu bersamaan. Sebelum melangkahmereka saling melempar pandang satu sama lain. Namun, tak lama kemudian mereka melangkah kakinya meninggalkan mobil itu bersama beberapa mobil lainnya. Chloe dan Damian melanjutkan langkah mereka dengan berjalan kaki. Mereka memeriksa setiap nomor rumah di daerah itu dan mencocokkannya dengan nomor rumah yang ada di dalam daftar. Hingga di depan sebuah rumah yang tengah terjadi keributan cukup keras dari luar mereka berhenti.
"Terserah!!!" teriak seorang wanita dari dalam rumah itu. "Terserah kamu mau bilang apa? Terserah jika kamu akan terus menyalahkanku atas semua kejadian ini!!!" lanjutny dengan nada penuh amarah. Chloe dan Damian yang sudah berdiri di depan pintu pagar pun melonggokkan kepalanya ke dalam untuk memastikan nomor rumah yang sedang mereka cari.
"Gimana? Beneran ini rumahnya?" tanya Damian terdengar ragu. Chloe pun menatap kertas di tangannya dengan seksama.
"Iya, Damian. Benar. Ini adalah rumah yang akan kita datangi selanjutnya," jawab Chloe dengan nada tidak bersemangat.
"Sepertinya ini bukan saat yang tepat untuk kita datang kesini," kata Damian sambil menatap ke depan. Ke arah rumah yang tengah dijadikan tempat perdebatan hebat.
"Benar juga. Tapi, kita sudah jauh-jauh kesini. Masak kita tidak mendapatkan apa-apa?" Nada bicara Chloe pun terdengar kecewa.
"Ya harus bagaimana lagi. Kamu mau jadi sasaran kemarahan mereka?"
"Tidak juga sih."
"Ya, udah ayo kita pergi!" ajak Damian. Dan saat mereka hendak meninggalkan tempat itu tiba-tiba.
Brukk!!! Terdengar suara benda jatuh dengan cukup keras. Kemudian disusul dengan sebuah teriakan.
"Aaargh!!!"
Damian dan Chloe pun sontak menghentikan langkahnya.
"Damian. Kita harus membantu wanita itu," gumam Chloe dengan pandangan yang terus menatap ke arah rumah itu.
"Nggak! Nggak! Nggak! Kita nggak boleh ikut campur urusan orang lain, Chloe. Nanti kita juga yang dapat masalah," cegah Damian. Sayangnya, Chloe sudah berhasil lari terlebih dahulu. Menerobos pintu pagar dan pintu rumah itu yang ternyata tidak dikunci.
"Apa yang sedang terjadi di rumah ini?!" tanya Chloe setelah berada di dalam rumah itu. Damian pun segera menyusul Chloe yang terlihat sedang terpaku menatap keadaan di dalam rumah itu yang sebenarnya. Ternyata apa yang dibayangkan Chloe tak seperti terjadi pada kenyataannya. Dimana ia pikir wanita di rumah itu sedang mengalami k*******n. Namun, faktanya wanita itu hanya terjatuh dari kursi roda. Sementara suaminya yang tunanetra tengah berusaha membantu wanita itu berdiri. Chloe dan Damian segera membantu mereka berdiri.
"Terima kasih banyak atas bantuan kalian berdua," ujar wanita itu setelah ia kembali duduk di kursi rodanya.
"Sama-sama," balas Damian dan Chloe bersamaan.
"Mau kutawarkan secangkir kopi? Meskipun tidak melihat aku terkenal bisa bikin kopi yang sangat enak," ujar lelaki itu. Chloe dan Damian pun saling melempar pandang.
"Baiklah. Terima kasih banyak." Chloe pun menjawab lebih dulu. Sedangkan Damian hanya tersenyum sekilas.
"Kalau begitu mari kita duduk. Biarkan Stev membuatkan kopi untuk kalian."
Chloe dan Damian pun duduk di sofa tak jauh dari mereka berdiri. Sementara wanita itu menggerakkan kursi rodanya hingga berada di dekat mereka.
"Oh, ya. Bagaimana kalian berdua bisa sampai disini?"
"Ehms…. Sebenarnya, kami memang berniat untuk datang ke rumah ini," jawab Chloe yang langsung membuat kening wanita itu berkerut sempurna.
"Datang kesini? Untuk apa?"
"Sebelumnya, perkenalkan saya Chloe dan ini teman saya Damian. Saya… adalah salah satu korban kehilangan anjing. Sama seperti anda, bukan?" ujar Chloe dengan nada yang semakin pelan. Wanita berkursi roda itu pun terlihat tersentak sesaat. Ia mengerjapkan matanya berulang kali dengan gerakan yang cepat. Seakan ucapan Chloe membuatnya teringat pada kejadian besar dalam hidupnya.
"Miss You," gumam wanita itu dengan pandangan kosong. Mendadak ia pun terbengong. Sehingga membuat Chloe dan Damian saling bertukar pandang.
"Miss You adalah nama anjing peliharaan kami," ujar suaminya sambil datang membawa round tray berisi dua cangkir kopi. Melihat ia sedikit kerepotan. Dengan sigap Damian pun berdiri dan membantu lelaki itu. "Terima kasih," ujar si lelaki itu.
"Tidak masalah," balas Damian.
"Jadi, anjing yang hilang itu bernama Miss You?" tanya Chloe lagi.
"Iya. Benar. Dulu Steve memberiku Miss You di hari pertama ia bekerja di Glasgow sebagai seorang komposer. Dia sangat manis dan selalu menjagaku dengan benar. Kami selalu bersama dan menghabiskan waktu luang dengan bermain. Begitu pula siang itu. Di halaman belakang rumah kami bermain lempar bola. Saat bola baru saja kulempar dan Miss You berlari untuk mengambilnya. Tiba-tiba ia menggonggong sangat kencang. Aku pun berlari ke sumber suara. Di saat itu…. Keadaan benar-benar aneh. Angin begitu kencang dan dahan-dahan pohon beterbangan. Salah satu dahan yang besar menimpa tubuhku hingga aku pingsan. Namun, sebelum aku tak sadar. Aku masih melihat sosok Miss You ada di depanku. Seakan dia ingin menolongku, tapi ada yang menariknya dari belakang. Dia berusaha berontak. Namun, akhirnya semua gelap. Aku tidak ingat apa-apa lagi," cerita wanita itu dengan mata yang berkaca-kaca. Chloe dan Damian pun hanya terdiam. Bingung harus berkata apa. Sebab, Chloe pun tidak tau pasti bagaimana keadaan saat Sharon menghilang. "Aku tidak memaksa kalian untuk mempercayai ceritaku. Tapi, setidaknya itulah yang terjadi."
"Kenapa kamu berkata begitu?" tanya Chloe heran.
"Karena semua orang tidak ada percaya. Bahkan, orang-orang di kantor Tim Penyelamat Hewan menganggapnya gila," balas Steve sambil duduk di sofa yang ada di samping istrinya.
"Bagaimana menurut kalian? Apa kalian juga menganggap saya hanya berhalusinasi?"
"Tidak," jawab Chloe tegas. Semua orang yang ada di tempat itu pun langsung menoleh ke arahnya. "Maksudku. Aku juga tidak tau betul bagaimana kejadian saat anjingku menghilang. Hanya saja aku tidak percaya dengan omongan para pembual itu. Makanya kami datang kemari untuk mencari teman. Agar kita bisa mencari anjing-anjing kita bersama-sama. Meskipun terdengar konyol. Aku sangat yakin anjingku masih hidup. Tapi, dia berada di suatu tempat yang tidak ada orang yang tau," jawab Chloe mantap. Sepasang suami istri itu pun saling menatap satu sama lain.