Bab. 6 Sharon Belum Mati

1077 Words
Di Kerajaan Fabelion "Hei, Kalian semua! Saya tau kalian semua merasa kelaparan saat ini. Dan sebentar lagi. Tepat di hadapan kalian akan muncul makanan enak yang harus kalian makan. Untuk itu! Nikmatilah hidangan yang ada!" teriak seorang Panglima yang berdiri di atas gunung batu itu. Tepat setelah ucapan itu berhenti. Muncul makanan anjing yang keluar dari tanah depan mereka berdiri. Semua anjing pun merasa girang. Dan seketika mereka menikmati hidangan yang tersaji. Sharon merasa ada yang aneh. Ia memang merasa lapar dan haus sekarang. Namun, ia tak begitu antusias seperti lainnya. Melihat kanan dan kirinya terlihat begitu menikmati makanan di depannya. Sharon pun mulai menundukkan kepalanya untuk memulai makannya. Belum sempat mulutnya menyentuh isi mangkoknya. Tiba-tiba…. Bruk!!! "Aaargh!!!" teriak seekor anjing dari barisan belakang. Mendengar hal itu reflek Sharon mengangkat kepalanya dan menoleh ke belakang. Kemudian ia pun melihat anjing yang masih satu keluarga dengannya itu tengah dipukuli oleh para anjing penjaga. "Kenapa dia dipukuli?" gumam Sharon. Ia pun segera balik badan untuk mencari tau apa yang terjadi. Namun, tak sengaja kakinya menginjak mangkuk makanan anjing di belakangnya. Sharon pun terbelalak saat melihat isi mangkuk itu tampak seperti biji plastik. Berbeda dari apa yang ia lihat tadi. Sementara di lubang mangkuk satunya, yang semula berisi s**u. Kini terlihat seperti air laut yang terkena tumpahan minyak. Karena penasaran ia pun menoleh ke arah mangkuknya. Dan ternyata isinya pun sama saja. "Makanan apa ini?" gumam Sharon. Saat Sharon asyik memperhatikan isi mangkuknya. Ia tidak menyadari jika anjing di belakangnya kini terlihat sangat marah dan hendak menyerangnya. "Herrrr…. Herrrr…. Herrr…." Anjing di belakang Sharon mendengung dengan raut wajah penuh amarah. Kedua matanya terlihat memerah dengan gigi yang ia gesekan satu sama lain. Dan sedetik kemudian anjing itu melompat ke atas tubuh Sharon dan menggigit telinga Sharon yang berbentuk segitu. "Guk! Guk! Guk!" Sharon menggonggong sambil berusaha melepaskan diri dari gigitan anjing itu. Dengan sekuat tenaga ia pun melempar tubuh anjing itu. Bruk! Anjing itu pun terjatuh tepat di atas badan anjing lain. Anjing yang lain itu tidak terima kemudian mereka saling beradu. Karena barisan mereka sangat dekat. Sehingga pertengkaran mereka merembet hingga puluhan anjing lain saling bertarung. Sementara Sharon hanya berdiri di tempat sambil memandangi perkelahian mereka. Anehnya, pertarungan mereka benar-benar tidak dipedulikan oleh anjing-anjing lain yang masih menikmati makanannya. Padahal, pertarungan itu terjadi tepat di depan mata mereka, tapi mereka tidak merasa terganggu sama sekali. Mereka terus menikmati isi mangkuk mereka masing-masing. Dan akan ikut menyerang ketika tubuh ataupun makanan mereka tersenggol. "Hei!! Hentikan!! Hentikan pertarungan kalian!!!" teriak beberapa anjing penjaga sambil berlarian mendekati pertarungan. "Tarik semua perusuh itu dari barisan!!!" teriak Panglima dari atas gunung. Mendengar hal itu Sharon langsung berpura-pura memakan isi mangkuknya. Sehingga ia tidak ikut dikeluarkan dari barisan. "Cepat ikut kami sekarang!!" ujar salah satu Penjaga sambil menyeret salah satu anjing. Namun, tepat di depan Sharon. Anjing yang ditarik oleh si Penjaga malah menggigit tangan Si Penjaga. "Aaargh!" Si Penjaga pun berteriak sehingga membuat kepala Sharon reflek terangkat. Tak lama sebab ia segera tersadar dan kembali menunduk. "s****n! Rasakan ini!" Jleb! Si Penjaga pun menusuk anjing tadi dengan sebuah suntikan yang diambilnya dari balik baju besinya. Hingga tak lama kemudian…. Bruk! Anjing itu terjatuh tepat di hadapan Sharon. Mata Sharon membulat saat melihat anjing yang tadi menyerangnya dengan sekuat tenaga. Kini tengah meregang nyawa. Mata anjing itu yang awalnya terlihat begitu buas perlahan meredup hingga terakhir sorot matanya terlihat memohon pertolongan. 'Tempat ini sangat berbahaya. Aku harus segera cari cara untuk melarikan diri,' batin Sharon sambil terus menundukkan kepalanya. Berpura-pura menghabiskan isi mangkuknya. Sementara itu di kota Aberdeen…. Chloe tengah mencari cara untuk bisa memecahkan masalah yang tengah terjadi. Ia pun berusaha menghubungi satu per satu orang yang bernasib sama dengannya, yaitu kehilangan anjing kesayangannya. Karena para tim gabungan sudah menutup kasus ini dan menganggap kejadian aneh ini terjadi karena adanya rekayasa manusia. Yap! Dalam konferensi pers yang diselenggarakan beberapa jam yang lalu. Humas anggota tim gabungan menyatakan, bila menghilangnya para anjing ini akibat ulah sekelompok orang yang hendak meraih keuntungan dengan menguliti tubuh hewan berbulu itu. Mengingat akhir-akhir ini sering terjadi badai salju di daerah kutub. Sehingga banyak orang memburu mantel bulu yang harganya semakin meroket itu. "Mantel bulu sintetis harus melalui proses yang cukup panjang dan lama. Sementara dengan menggunakan bulu hewan asli akan mempercepat proses produksi. Ini adalah alasan yang paling relevan untuk saat ini," ujar Humas Tim Gabungan dari dalam layar televisi yang Chloe lihat. "Untuk itu kami hentikan pencarian dan kami serahkan kasus besar ini kepada pihak Polisi. Sebab, dalam kejadian ini mengacu pada kejahatan kelompok kriminal. Sehingga, hal itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab petugas kepolisian. Dengan cepat beberapa tempat produksi mantel bulu kini dalam pengawasan dan penyelidikan polisi. Jadi, tunggu saja kabar selanjutnya," lanjut lelaki paruh baya itu yang sampai saat ini masih terngiang-ngiang dalam benak Chloe. "Chloe. Kamu yakin akan melakukan hal ini?" tanya Damian sambil berjalan keluar dari area sekolah bersama Chloe. "Iya. Dengan alamat rumah para korban ini aku akan mencari bala bantuan untuk melanjutkan pencarian," balas Chloe dengan pandangan yang terus menatap ke depan. Di tangannya sudah ada daftar alamat dan nomor telepon orang-orang yang sudah melapor kepada Tim Penyelamat Hewan kemarin. Tentu saja Chloe mendapatkan daftar ini dari teman Damian itu. Damian yang mendengar ucapan mantap Chloe langsung menoleh ke arah sahabatnya itu. "Tapi, Chloe. Kalau kamu tetap tidak menemukan Sharon. Gimana? Kamu tau sendiri kan? Para Tim Gabungan yang profesional saja nggak menemukan jejak apa-apa. Apalagi kamu?" tanya Damian dengan nada pesimis. Mendengar ucapan Damian itu, Chloe langsung menghadap ke depan lelaki itu. "Kalau kamu tidak percaya sama aku? Dan kamu merasa usaha ini hanya akan sia-sia? Tak perlu kamu repot-repot membantuku. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan itu," ujar Chloe dengan nada penuh penekanan. Setelah mengucapkan hal itu. Chloe pun balik badan dan berjalan menjauh meninggalkan Damian yang masih berdiri mematung di tempatnya. "Dia marah? Kenapa harus marah? Kan omongan aku benar?" ujar Damian bingung. Kemudian ia pun sadar jika Chloe jauh di depan sana. "Eh, Chloe! Chloe! Tunggu! Tungguin aku!!" teriak Damian sambil berlari mengejar Chloe. Tanpa disadari perlakuan kedua sahabat dekat itu diperhatikan oleh segerombolan cewek dari balik dinding. "Lihat dia! Si cewek cupu itu benar-benar merebut hati Damian, kan? Buktinya cowok itu langsung melupakan kamu setelah kalian putus. Padahal, aku tau banget. Bagaimana cintanya Damian sama kamu," ujar Alice kepada Sarah. Mantan Damian. "Dasar. Cewek cupu nggak tau diri!!" ujar Sarah sambil menghentakkan kakinya menjauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD