Di Kerajaan Fabelion
Setelah semua anjing dimasukkan kembali ke dalam ruangan mereka masing-masing. Bangsa Fab meminta mereka untuk tidur. Semua anjing pun menurut dan tidak ada yang terlihat ingin membantah sama sekali. Hanya Sharon yang terlihat masih memiliki akal sehat dan merencanakan kabur dari tempat ini. Tak mau rencananya di baca oleh bangsa Fab. Sharon pun pura-pura tidur seperti yang lain. Hingga saat semua anjing penjaga pergi. Ia segera membuka matanya. Lalu turun dari tempat tidurnya. Untung saja mereka tidak lagi mengunci keempat kaki Sharon. Sehingga, anjing itu bisa dengan mudah untuk turun dan pergi.
Dengan gerakan yang sangat pelan. Sharon membuka pintu yang terbuat dari plat besi itu. Kemudian Sharon pun berjalan mengendap-endap melewati lorong yang mirip sekali dengan lorong rumah sakit seperti yang pernah ia kunjungi saat Adam dirawat di rumah sakit beberapa bulan yang lalu.
Melihat jendela kecil yang ada di setiap pintu, membuat rasa penasaran Sharon pun memuncak. Ia pun berdiri untuk mengintip isi ruangan itu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat anjing-anjing lain yang badannya mulai berubah seperti badan anjing panglima. Badan, tangan dan kakinya berubah selayaknya manusia. Hanya saja ditutupi bulu halus sesuai ras mereka masing-masing.
"Hah?!" Sharon terkaget-kaget sampai ia harus memundurkan kakinya beberapa langkah. "Apa yang sebenarnya terjadi disini?" gumamnya bingung. Ia segera mengalihkan perhatiannya pada tangan, kaki dan tubuhnya. Dia pikir, dia juga akan berubah seperti mereka. Hanya saja badannya tak menunjukkan reaksi apa-apa. Sharon kembali membuang pandangannya ke arah depan. Tatkala ia memperhatikan pintu itu secara seksama. Ia baru sadar ada lambang khusus yang tertera di samping pintu itu. Terdapat gambar tulang dengan warna silver. Ia pun seketika teringat pada kalung yang melingkar di lehernya. "Punyaku warna emas. Kenapa di pintu ini warnanya silver? Apa ini artinya kita berada di kelompok yang berbeda?" gumam Sharon lagi. Ia terus berpikir.
Lalu anjing itu berjalan ke depan pintu yang lain. Ia menatap lambang tulang yang di tempat itu berwarna hitam. Saat ia melongokkan kepalanya untuk memeriksa isi di dalamnya. Sharon membuka mulutnya lebar-lebar. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di dalam ruangan itu. Anjing-anjing yang ada di sana berubah seperti para anjing penjaga. Badan mereka masih seperti anjing, tapi tangan dan kakinya sudah berubah seperti tangan dan kaki manusia.
"Kenapa bisa begini?" gumam Sharon bingung. Tiba-tiba terdengar sebuah suara mendekat. Bergegas Sharon mencari tempat sembunyi. Ia masuk ke dalam ruangan lalu bersembunyi di balik pintu.
"Apa kamu berpikir kita akan mendapatkan hadiah dari Tuan Pho. Jika kita berhasil melaksanakan semua tugas?" ujar salah satu penjaga.
"Bisa juga. Mungkin makanan kita nanti malam akan diganti dengan makanan yang enak. Seperti makanan para panglima. Haha," sahut penjaga yang lain.
"Betul. Betul. Bagi kita hal seperti itu saja sudah cukup," balas si penjaga pertama sambil membuka ruangan yang dijadikan Sharon bersembunyi. Untungnya mereka sedang mengobrol. Sehingga mereka tidak menyadari ada sosok Sharon yang langsung memepetkan badannya di balik pintu. Agar tidak terlihat.
"Kalian ini jangan berkhayal terlalu tinggi. Lakukan saja pekerjaan kita ini dengan benar. Kalau sampai salah satu hal saja. Kita semua yang akan menanggung akibatnya," ujar penjaga ketiga yang sedari tadi hanya diam.
"Benar kata kamu. Sudah ayo! Kita bawa mereka ke ruangan Professor!" ajak si penjaga kedua. Penjaga pertama hanya diam saja. Namun, kedua tangannya tetap mengerjakan apa yang kedua rekannya kerjakan. Mereka mendorong satu per satu tempat tidur itu keluar dari ruangan ini.
'Mau dibawa kemana mereka? Duh, apa sih yang sebenarnya ingin mereka rencanakan?' batin Sharon bingung. Ia yang tidak mau kehilangan jejak mereka pun langsung berjalan mengendap-endap mengikuti langkah ketiga penjaga yang tengah mendorong ketiga anjing itu entah kemana.
Ketiga anjing penjaga itu berjalan terus melewati sebuah koridor dengan pangar pembatas di samping kanan mereka. Mereka menyusuri lorong yang melingkar naik itu dengan langkah tenang. Karena langkah Sharon yang sangat pelan. Sehingga mereka bertiga tidak bisa mendeteksi pergerakan Sharon yang terus mengikuti gerakan langkahnya. Melihat sebuah lubang besar yang ada di tengah-tengah bangunan itu. Kembali mematik rasa penasaran Sharon. Ia pun melongokkan kepalanya keluar pembatas dan lagi-lagi ia terkejut dengan pemandangan memilukan di hadapannya. Dari lubang yang masuk ke dalam tanah itu dapat tergambarkan seperti apa kondisi para penghuni kerajaan Fabelion ini yang sesungguhnya. Memang ada strata yang berbeda-beda pada setiap bentuk tubuh yang berbeda. Seperti strata paling bawah dihuni oleh para anjing yang berbadan manusia hampir di seluruh tubuh. Bahkan, kepala mereka pun hampir sama persis seperti kepala manusia. Hanya saja, cara jalan mereka dengan merangkak. Selain itu mereka pun tampak tak secerdas para penjaga. Tugas mereka seperti b***k. Mereka membawa bertumpuk-tumpuk pasir dan batu dari luar tempat ini. Sementara, strata kedua diisi dengan anjing penjaga. Ternyata tidak hanya menjaga para anjing yang mereka culik. Para anjing pekerja itu juga diawasi oleh mereka. Lalu diurutan berikutnya ada strata panglima. Ternyata kelompok ini pun lumayan banyak. Bahkan, Sharon sampai menggidik ngeri saat ia membayangkan tubuhnya dihajar oleh mereka semua saat rencana kaburnya berhasil.
"Hih?! Aku tidak boleh ditangkap. Kalau tidak aku bisa jadi dendeng dihabisi mereka semua," gumam Sharon sambil menurunkan badannya dari pembatas itu. Ia tidak mau kalau sampai mereka sadar ada dia di tempat itu. "Bagaimana ini? Sepertinya aku tidak akan mudah pergi dari tempat ini," tambahnya masih bergumam. Otak Sharon pun ia gunakan berpikir dengan keras. Ketika pandangannya menyapu daerah sekitarnya. Tak sengaja matanya menangkap sebuah kandang besi yang diisi oleh anjing betina yang satu ras dengannya itu. "Dia kan anjing betina yang tadi pagi?" ujar Sharon sambil memicingkan matanya. Perlahan nun pasti ia berjalan mendekati kandang itu.
"Hust! Hust! Hei kamu sedang apa disana?" tanya Sharon dengan nada berbisik. Anjing betina itu mengangkat kepalanya saat mendengar ada anjing lain yang memanggilnya.
"Kamu," ujarnya sedikit kaget. "Kenapa kamu ada disini?" tanyanya heran.
"Harusnya aku yang bertanya. Kenapa kamu berada di dalam kandang begini?"
"Aku… aku menolak untuk memakan makanan tadi. Perutku rasanya mual sekali. Saat mencium aroma dari makanan tadi."
"Kalau begitu. Berarti ada sesuatu hal dengan makanan itu."
"Entahlah. Tapi, kamu liat saja hasilnya seperti apa? Semua anjing yang memakan makanan tadi sekarang seperti zombie yang mau diperintah oleh mereka."
"Sepertinya kamu tau banyak?"
"Yap! Karena di dalam sel ini. Aku banyak banget denger percakapan mereka sambil melintas."
"Sudah kuduga. Ada yang aneh dengan makanan itu. Kalau begitu. Aku bantu kamu keluar dari sini. Kita cari cara untuk kabur dari tempat ini." Saat Sharon hendak melangkah mendekat. Mendadak anjing betina itu melarangnya.
"Stop!! Diam di tempat!" titahnya bak para penjaga tadi.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Kandang ini sudah dilengkapi dengan muatan listrik. Jadi, siapapun yang menyentuhnya akan tersetrum."
"Lalu bagaimana cara kita bisa keluar dari tempat ini?"
"Caranya cukup patuh dengan semua perintahku!" ujar seseorang dari belakang Sharon. Lalu anjing itu pun memutar badannya. Seketika matanya terbelalak dengan cukup lebar.
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.