"Sudah kuduga. Ada yang aneh dengan makanan itu. Kalau begitu. Aku bantu kamu keluar dari sini. Kita cari cara untuk kabur dari tempat ini." Saat Sharon hendak melangkah mendekat. Mendadak anjing betina itu melarangnya.
"Stop!! Diam di tempat!" titahnya bak para penjaga tadi.
"Kenapa? Apa yang terjadi?"
"Kandang ini sudah dilengkapi dengan muatan listrik. Jadi, siapapun yang menyentuhnya akan tersetrum."
"Lalu bagaimana cara kita bisa keluar dari tempat ini?"
"Caranya cukup patuh dengan semua perintahku!" ujar seseorang dari belakang Sharon. Lalu anjing itu pun memutar badannya. Seketika matanya terbelalak dengan cukup lebar.
"Siapa kamu sebenarnya?! Dan apa maksud kamu melakukan ini semua?!" tanya Sharon dengan nada yang semakin meninggi.
"Hahaha." Pho malah tertawa sangat keras. "Apa kamu benar-benar ingin tau apa yang terjadi sebenarnya?"
"Ya. Tentu saja!" jawab Sharon mantap.
"Baiklah. Kalau kamu memang ingin tau sesuatu. Mari ikut denganku dan biarkan teman betinamu itu beristirahat," ujar Pho sambil membalikkan badannya. Sharon tak langsung melakukan apa yang tadi Pho perintahkan. Ia malah menatap ke arah anjing dalam kandang itu dengan tatapan iba. Mau bagaimanapun mereka berasal dari ras yang sama. Sehingga, mereka masih menjadi keluarga dekat.
"Jangan hiraukan aku! Cepat sana pergi!" ujar si anjing betina itu dengan nada berbisik. Awalnya Sharon enggan meninggalkannya sendirian di tempat ini. Namun, ia pun harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Di saat Sharon terlihat begitu bimbang. Pho menatap ke depan sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Bagaimana? Apa kamu mengurungkan niatmu?" tanya Pho tanpa memutar badannya.
"Mari kita lihat sekarang!" balas Sharon cepat. Lagi-lagi Pho tersenyum penuh kemenangan. Sharon pun mengangguk mantap.
"Baik."
Lalu Pho berjalan mendahului Sharon untuk meninggalkan tempat itu. Sebelum pergi Sharon menatap anjing tadi beberapa saat. Si anjing betina pun menganggukkan kepalanya dengan mantap. Agar Sharon segera mengikuti langkah Pho. Sharon membalas anggukan anjing itu sambil berlari kecil untuk mengejar kepergian Pho.
Pho yang berjalan di depan memutar beberapa dadu yang terpasang di samping pintu hingga menunjukkan beberapa digit angka tertentu. Tempat ini memang tidak secanggih laboratorium internasional di bumi. Namun, juga tidak bisa dibilang tertinggal jauh. Mungkin jika ada manusia yang mau membantu mereka mengajarkan sedikit saja ilmu pengetahuan yang sudah berkembang di bumi mengenai kunci digital yang kini sedang digandrungi para pemilik hotel berbintang. Maka mereka akan menemukan kunci yang sama atau bahkan lebih canggih dari yang sudah dipakai oleh manusia. Cekrek! Pintu pun terbuka dengan sendirinya. Pho membuka pintu itu lalu mempersilakan Sharon untuk masuk.
"Silahkan," ujar Pho dengan senyum yang terus mengembang. Sharon pun menatap Pho dengan penuh curiga, tapi perlahan ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Baru saja masuk Sharon sudah disuguhi kabut putih yang mengurangi jarak pandangnya.
"Tempat apa ini?" tanya Sharon bingung.
"Nanti juga kamu akan tau," jawab Pho. Sambil berjalan mendahului Sharo lagi. Ia melanjutkan langkahnya memasuki ruangan itu. Sementara, Sharon segera mengikutinya dari belakang. Setelah ruangan berasap yang berguna untuk membasmi kuman di badan Sharon dan Pho. Mereka masuk ke dalam bangsal lain. Disana Sharon menatap ribuan kapsul magnetik yang siap diisi. Tak hanya itu, tiga anjing yang dibawa penjaga dari ruangan tadi pun kini sudah dimasukkan ke dalam tiga kapsul yang berbeda.
"Kenapa mereka dimasukkan ke dalam tempat itu?" tanya Sharon penasaran.
"Nanti juga giliranmu akan datang. Mereka hanya sebagai bahan percobaan," jawab Pho mantan. Saat melihat Pho datang dengan Sharon. Ketiga anjing penjaga itu kaget bukan main. Sebab, mereka takut akan segera mendapatkan hukuman berat dari Pho. Karena sudah lalai mengerjakan tugasnya.
"Hoh. Bagaimana ini? Kita bisa mati?" bisik salah satu dari ketiga penjaga itu. Mendengar ucapan itu, Sharon langsung mengerutkan keningnya seketika.
"Kalian bertiga! Cepat kerjakan tugas yang lain! Jangan terlalu banyak mengobrol!" titah Pho tegas.
"Ba… baik, Tuan," balas mereka dengan takut-takut. Kemudian mereka segera enyah dari pandangan Pho dan Sharon. Sharon dan Pho saling bertukar pandang sesaat. Lalu Pho kembali tersenyum.
"Mari kita lanjutkan tujuan kita datang tempat ini," kata Pho dengan tangan yang mempersilahkan Sharon berjalan lebih dahulu. Sharon menatap Pho lebih dalam. Namun, ia tidak melihat sorot kebohongan dari kedua manik matanya yang masih terlihat seperti anjing itu. Huft. Sharon menghembuskan nafas beratnya lalu melanjutkan perjalanan. Ia masuk ke ruangan yang lebih dalam.
Baru saja melewati pintu yang berbentuk lingkaran dengan diameter hanya sekitar satu meteran itu. Sharon langsung disuguhkan dengan sebuah teropong antariksa yang biasanya digunakan Pho untuk mengintai kehidupan di bumi.
"Apa ini?" tanya Sharon bingung.
"Biar kutunjukkan sesuatu." Pho mengatur tingkat ketajaman pandangan di teropong itu. Lalu setelah itu ia meminta Sharon untuk mencobanya. "Silahkan. Kamu dekatkan salah satu matamu di sini!" ujar Pho sambil menunjuk ke lingkaran lensa yang ada di ujung teropong. Perlahan Sharon pun mendekatkan wajahnya ke arah yang ditunjuk Pho tadi. "Untuk lebih jelas. Kamu bisa menutup salah satu mata kamu," ujar Pho lagi. Lagi-lagi Sharon hanya nurut. Tanpa banyak tanya atau pun protes. Sharon segera menutup salah satunya.
Melalui teropong itu Sharon dapat melihat Chloe dan Adam yang terlihat baru saja membeli anjing baru. Anjing itu kini berada di pangkuan Chloe dengan begitu nyamannya.
"Chloe," gumam Sharon sangat lirih. Nyaris tidak terdengar.
"Lihat apa yang pemilikmu lakukan! Baru saja kamu pergi beberapa hari. Dia sudah mencari penggantimu. Huh? Dasar manusia," ujar Pho memanas-manasi.
"Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin!" ujar Sharon sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia juga memundurkan kakinya beberapa langkah. Hingga ia menabrak dinding di belakangnya. Sharon terus menggelengkan kepalanya dengan cepat. Seakan tidak ingin mengetahui kenyataan ini.
"Sudahlah, Sharon. Kau sudah dilupakan oleh pemilikmu. Chloe dan Adam sudah memiliki pengganti yang lebih menggemaskan daripada anjing Siberian Husky tua sepertimu."
"Tidak. Tidak mungkin. Chloe tidak mungkin melupakan aku. Kita sudah melewati banyak hal bersama-sama. Dan dia sudah menganggapku saudara," elak Sharon.
"Hahaha. Apa kamu yakin?" tanya Pho dengan nada menohok. Sharon pun terdiam. "Ingat saat terakhirmu bersama manusia itu?" tambah Pho yang membuat Sharon semakin down. Ia menjatuhkan badannya di lantai dengan tidak bersemangat. "Padahal, kamu cepat-cepat ingin pergi dari sini untuk menemuinya, kan? Tapi, kenapa dia malah sejahat itu padamu. Sungguh, malangnya. Ck. Ck. Ck." Pho terus menekan mental Sharon agar dia membenci Chloe dan mau mengikuti keinginannya.
"Tidak. Ini tidak mungkin," gumam Sharon terus menerus. Pho pun tersenyum penuh kemenangan.
"Sudahlah, Sharon. Jangan khawatir. Aku bisa membuatmu merebut hati Chloe kembali," ujar Pho dengan mantap.
"Bagaimana caranya?" tanya Sharon cepat. Pho tidak langsung menjawab. Namun, ia kembali menarik kedua ujung bibirnya.
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.