Pukul delapan malam Chloe baru saja pulang ke rumahnya. Damian yang menemaninya seharian ini hanya mengantar Chloe sampai depan rumah.
"Terima kasih untuk hari ini," ujar Chloe setelah turun dari mobil Damian.
"Okay, no problem," balas Damian tulus. "Langsung istirahat ya. Jangan memikirkan macam-macam. Sampai besok," pesan Damian sebelum melajukan mobilnya. Chloe hanya mengangguk pelan, tak bersemangat. "Huft." Lalu ia menghembuskan nafas beratnya, setelah mobil Damian menghilang dari pandangan. Chloe memutar badannya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Hari ini adalah hari ke sekian kalinya Chloe mencari bala bantuan untuk melacak keberadaan anjing-anjing yang hilang. Namun, diantara puluhan korban yang sudah ditemui Chloe, hanya segelintir orang yang sependapat dan mau mengikuti keinginannya. Sementara yang lain sudah pasrah dan setuju dengan apa yang dikatakan Humas Tim Gabungan kemarin.
"Huft." Lagi-lagi Chloe menghembuskan nafas berat sambil menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa yang empuk. Seketika bayangan Sharon menari-nari di pelupuk mata. Dulu tiap kali Chloe pulang sekolah dan duduk dengan murung di sofa ini. Mendadak Sharon melompat ke pangkuannya. Lalu menatap Chloe dengan menggemaskan. Meminta Chloe menceritakan harinya saat itu. Setelah Chloe selesai bercerita, Sharon akan mengajaknya bermain hingga kesedihan Chloe menghilang. Namun, semua itu tinggal kenangan. Sharon telah menghilang dan tidak bisa menghibur kesedihan Chloe lagi. Tiba-tiba air mata Chloe mengalir tanpa permisi. Butiran bening itu membasahi pipi mulus Chloe yang tak berjerawat.
"Chloe. Kamu sudah pulang?" tanya Adam dari belakang Chloe duduk. Chloe pun segera mengusap jejak air matanya. Tak mau Daddy-nya melihatnya bersedih.
"Iy… iya. Baru saja," balas Chloe terbata. Adam melangkahkan kakinya hingga berdiri tepat di belakang Chloe duduk.
"Daddy punya hadiah spesial untuk kamu."
"Hadiah? Tapi aku tidak sedang berulang tahun, Dad? Tidak juga memenangkan pertandingan apapun?" sahut Chloe dengan nada rendah. Adam merangkul pundak anaknya dari belakang.
"Emangnya hadiah spesial harus diberikan saat ulang tahun atau kamu memenangkan pertandingan saja? Kalau Daddy ingin memberikannya sekarang. Tidak ada larangan dong?"
"Iya juga sih, Dad. Cuma aneh aja. Nggak biasa-biasanya Daddy kayak gini."
"Hehe. Demi putri Daddy yang paling cantik boleh dong sekali-kali."
"Oke. Memangnya apa hadiah dari Daddy?"
"Daddy keluarin sekarang. Tapi, kamu harus tutup mata dulu," pinta Adam.
"Ah, Daddy ada-ada saja deh. Kenapa aku harus tutup mata segala sih?"
"Udah lakuin saja. Atau Daddy nggak jadi kasih hadiah nih." Chloe memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Oke deh. Aku tutup mata sekarang," ujar Chloe lalu menutup kedua matanya rapat-rapat.
"Bagus. Tahan. Tahan sebentar. Sebelum Daddy bilang buka. Jangan buka dulu. Understand?"
"Yes, Dad. I'm understand," balas Chloe sambil melakukan apa yang Daddy-nya inginkan. Ia menutup matanya. Sedangkan Daddy-nya tengah mengambil sesuatu yang sudah ia siapkan dari dapur.
"Tunggu! Tunggu lima menit lagi! Tiga detik lagi! Dua detik lagi! Satu detik lagi! Dan… sekarang kamu boleh buka mata!" ujar Adam setengah memerintah. Perlahan Chloe membuka matanya sedikit demi sedikit. Tepat saat gadis berwajah oval dengan hidung mancung itu melebarkan matanya. Seekor Mini Poodle berwarna putih dengan bulu yang sangat halus melompat ke pangkuannya. Awalnya Chloe terlonjak kaget melihat sosok anjing lucu itu. Namun, sedetik kemudian ia pun tersenyum melihat kelucuannya.
"Hei. Kamu siapa? Kenapa kamu lucu sekali?" tanya Chloe sambil mengangkat tubuh anjing itu yang lebih mirip boneka itu. Adam tersenyum lega melihat Chloe mulai melupakan kesedihannya.
"Bagaimana? Kamu suka? Daddy beli anjing itu cukup mahal lho. Karena anjing di Aberdeen hanya tersisa beberapa saja," ujar Adam yang membuat Chloe berhenti menggerakkan badan anjing kecil itu.
"Ya, aku suka," ujar Chloe sambil memangku anjing itu. Tangannya pun tak henti-hentinya mengelus bulu halus anjing itu. Namun, matanya menerawang entah kemana. "Tapi, tak berarti anjing ini bisa menggantikan posisi Sharon di hati aku," tambah Chloe dengan nada mantap. Deg! Jantungnya mendadak berhenti berdetak.
"Oh, iy… iya tentu saja. Sharon kan sangat penting bagi hidup kamu. Karena dia adalah hadiah terakhir dari Mommy kamu. Jadi, tentu saja hal itu akan membuat kamu tidak akan bisa melupakan dia. Cuma…. Ada baiknya kamu juga memperlakukan hal yang sama pada anjing ini. Kenapa? Karena…. Anjing ini pemberian Daddy."
"Oke. Aku bisa terima hal itu. Tapi, dia nggak boleh tidur di kamar aku. Sebab, tempat itu khusus untuk Sharon."
"Oh… oke. No problem. Nanti dia bisa tidur di dapur atau juga di ruang keluarga. Biar Daddy yang atur," ujar Adam sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Oh, iya. Bagaimana hari ini? Kamu dapat banyak dukungan?" tanya Adam kemudian. Chloe tidak langsung menjawab, tapi kepalanya terlihat menggeleng dengan lemah.
"Tidak, Dad. Banyak orang yang lebih percaya sama omongan Humas Tim Gabungan itu."
"Yah. Kalau Daddy pun merasa… sama kayak mereka." Mendengar ucapan Adam Chloe seketika menghentikan gerakan tangannya yang mengelus anjing di pangkuannya.
"Jadi, Daddy juga mau bilang kalau Sharon dan anjing-anjing itu memang sudah meninggal?"
"Ya… bagaimanapun kita tidak bisa menyangkal kalau mereka semua itu orang-orang khusus yang berpengalaman."
"Tapi, bukan berarti mereka tau semuanya dong, Dad. Kemarin ada juga korban yang liat anjing itu menghilang secara misterius. Bahkan, tiba-tiba daerah di sekitarnya itu berangin kencang dan menumbangkan pohon-pohon di sampingnya. Sampai-sampai salah satu ranting pohon menjatuhi badan dia dan membuat kakinya terluka," cerita Chloe dengan terburu-buru. Adam menatap Chloe dengan seksama.
"Oke. Baiklah. Mungkin ucapan kamu memang benar. Ada yang aneh dari menghilangnya ribuan anjing itu. Hanya saja, Daddy sebenarnya tidak mau kamu terlalu ikut campur dalam urusan itu. Sebab, apapun yang sedang terjadi di dunia ini. Daddy yakin mereka bukan orang sembarangan. Sementara kamu adalah satu-satunya keluarga Daddy. Jadi, Daddy tidak ingin kejadian buruk menimpamu, Chloe." Mendengar ucapan Adam, Chloe menurunkan anjing yang ada dipangkunya. Kemudian ia berdiri.
"Dad. Percaya sama aku. Aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh kejelasan akan menghilangnya Sharon secara mendadak. Sharon itu tidak hanya peliharaan bagi aku, Dad. Tapi, dia lebih dari sahabat. Dia seperti saudara. Dia yang selalu menemani aku disaat Daddy nggak ada di rumah, dia yang selalu menghibur aku disaat aku sedih dan dia juga selalu mendengarkan ceritaku yang selalu mengalami banyak masalah di sekolah. Semua…. Hiks… kujalani bersama Sharon, Dad. Bahkan, Sharon lebih mengetahui perasaan aku daripada Daddy. Hiks…. Hiks.... Hiks…. Jadi, apa Daddy masih berpikir aku harus melupakan Sharon?!" teriak Chloe dengan bercucuran air mata. Setelah itu ia pun menghentakkan kakinya sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
"Chloe!!! Chloe tunggu!!" teriak Adam yang tidak dihiraukan oleh Chloe.
…………………………
Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab.
Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum.
Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe.
Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh.
Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.