Bab. 25 Latihan Pertama

1360 Words
Seperti yang sudah direncanakan Chloe dan Albern. Sepulang sekolah Chloe langsung bergegas datang ke rumah guru Biochemistry itu lagi. Tujuannya tentu saja untuk melatih emosi dan otot-otot Sharon yang kuat itu, agar bisa dikendalikan oleh Sharon. Sederet makanan dan minuman penambah energi pun sudah disiapkan oleh Albern. Mulai dari hati sapi, ikan salmon, yogurt, s**u bahkan sampai obat kuat. Semua sudah Albern siapkan dengan berbagai pertimbangan. Karena objek penelitiannya kini bukanlah manusia, melainkan anjing yang beberapa bagian tubuhnya hampir bertransformasi menjadi manusia. Sehingga ia memilih makanan yang enak disantap baik oleh anjing maupun manusia. Chloe menatap sederet makanan yang sudah disiapkan Albern. Senyumannya terus mengembang mengingat perhatian yang diberikan Albern untuk Sharon. Ia pun memperhatikan satu per satu makanan itu. Sambil menunggu Albern yang sedang menyiapkan semua peralatan yang akan digunakan di sebuah ruangan khusus. 'Aduh. Nggak nyangka deh Mister Albern bisa perhatian begini,' batin Chloe tanpa melunturkan senyumannya. "Kenapa kau tersenyum begitu lebar? Semua makanan itu enak ya?" tanya Sharon tiba-tiba. Chloe pun sedikit terkejut. "Eh…. Ehms…. Iya. Iya. Enak semua ini. Kau beruntung akan segera mendapatkan semua ini," ujar Chloe. "Benarkah? Kalau begitu aku jadi tidak sabar untuk menyelesaikan proses ini." Tak lama setelah Sharon mengucapkan hal itu, Albern keluar dari dalam ruangan khusus itu. "Bagaimana, Sharon? Kau sudah siap?" tanya Albern. Sharon dan Chloe pun saling berpandangan. Kemudian keduanya mengangguk mantap. "Aku sudah siap!" jawab Sharon mantap. Chloe pun menganggukkan kepalanya sambil terus menatap Sharon. Pertanda ia mengizinkan Sharon untuk ikut Albern. Sharon pun melangkahkan kakinya mengikuti Albern. Kemudian Albern membuka pintu ruang kosong itu, agar Sharon bisa memasukinya. Dengan langkah ragu Sharon pun berjalan masuk. Lalu Albern ikut Sharon masuk ke dalam. Albern memasang sebuah Oculus atau semacam perangkat keras yang berbentuk seperti kacamata yang memungkinkan penggunanya untuk merasakan sensasi game yang sedang berlangsung di dalamnya. Tak lupa Albern juga memasang touch controller di kedua tangan Sharon. "Gimana? Kau sudah siap, Sharon?" tanya Albern. "Iya. Aku siap," balas Sharon seraya menganggukkan kepalanya. "Baiklah. Kita mulai sekarang!" Albern mengatur permainan di dalam permainan itu. Kemudian ia segera keluar dan menempatkan diri di kursi dengan layar datar tepat berada di depannya. Chloe pun berdiri di samping Albern ikut menonton apa yang akan terjadi di dalam ruangan itu. "Baiklah. Kita mulai permainannya," gumam Albern sambil menekan tombol play di layar itu. Dan seperti yang sudah direncanakan Albern sebelumnya. Oculus itu mulai menampilkan permainan pertarungan anjing. Awalnya Sharon hanya menggonggong begitu keras. Kemudian ia mulai menyerang musuh virtualnya. Lima belas menit pertama. Badan Sharon belum menunjukkan tanda-tanda ingin berubah. Namun di menit berikutnya. Ketika musuhnya mulai bertambah banyak kedua lengan dan kakinya mulai bereaksi. "Kedua tangan dan kakinya," ujar Chloe dengan mata yang membulat. "Dia mulai bereaksi saat ada di level tiga. Kita lihat apa yang akan terjadi selanjutnya," balas Albern tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar itu. Kemudian keduanya fokus menatap layar datar di depan mereka. Ketika level permainan terus bertambah dan permainan semakin sulit. Tenaga Sharon semakin bertambah pesat. Anehnya, selain kedua tangan dan kakinya yang berubah kekar seperti manusia. Secara tidak sadar Sharon juga berdiri menggunakan dua kaki. Bahkan dia juga bertarung layaknya seorang manusia yang tengah berkelahi. Melihat hal itu dahi Chloe dan Albern berkerut sempurna. Mata mereka terus menatap tingkah Sharon yang semakin mirip manusia. Bug!!! Karena terlalu mendekati dinding. Tak sengaja tangan Sharon menghantam dinding. Hingga membuat keretakan cukup dalam sebesar kepalan tangan Sharon. "Wow. Tenaganya besar banget," gumam Albern. Namun, ternyata Sharon kehilangan kendali. Dia mengira dinding itu adalah musuh virtualnya. Sehingga tanpa ragu ia terus menghantam dinding itu hingga nyaris jebol. "Sharon!!! Kita harus menghentikannya!" kata Chloe panik. Ia pun segera berlari mendekati pintu masuk ruangan itu. Untung saja Albern langsung menahan lengan Chloe. Sehingga wanita itu belum sempat masuk ke dalam ruangan itu. "Tunggu, Chloe! Akan sangat berbahaya. Jika kamu mendekati Sharon sekarang. Tenanglah. Semua sudah kupikirkan," kata Albern. Chloe pun terdiam. Kemudian ia hanya bisa menatap Albern menekan tombol pause. "Ayo! Penelitian ini belum berakhir!" ujar Albern. Lalu Chloe mengangguk sambil kembali ke tempatnya berdiri tadi. "Dasar losers!!! Jangan menghilang!! Jangan bersembunyi!! Mari kita bertarung sampai mati!!!" teriak Sharon dengan tangan yang masih melayangkan tinjunya ke segala arah. Albern langsung meraih microphone kecil yang hanya sebesar ibu jari. "Sharon! Sharon! Apa kau mendengar ucapanku?!" tanya Albern dengan nada tinggi. Sharon pun sedikit terkejut mendengar suara Albern. Nafasnya masih tersengal-sengal, bahkan emosinya masih meledak-ledak. "Sharon!! Apa kau mendengar ucapanku?!!" ulang Albern dengan nada lebih tinggi. "Ya," balas Sharon lirih. Ia masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Namun, ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi dan badannya yang ingin terus menyerang. "Sekarang dengarkan aku! Kamu harus tenang, Sharon! Tenang!!" kata Albern dengan nada membentak. Bukannya membuat Sharon takut. Lalu emosinya melumer. Hal itu justru membuat Sharon semakin bertambah marah dan tidak terkendali. "Siapa kau, hah? Siapa kau mau mengatir hidupku?!!" Bug!!! Sharon menghantam dinding di sebelahnya hingga berlubang. Padahal, itu bukan tempat yang ia tinju tadi. Chloe dan Albern pun kembali membulatkan matanya. Bahkan, mereka berdua kesulitan menelan salivanya masing-masing. "HAH?!!! Jawab aku?!! Siapa kau berani mengatur hidupku?!!" Bug! Bug! Bug! Sharon terus menghantam dinding-dinding tak bersalah itu. "Biar saya yang bicara," ujar Chloe sambil merebut mikrofon kecil di tangan Albern. "Sharon," panggil Chloe lembut. "Chloe," timpal Sharon. Sambil menghentikan gerakannya. "Iya, Sharon. Ini aku, Chloe. Aku berharap. Kau akan lebih tenang setelah mendengar suaraku," kata Chloe dengan nada lirih. Sharon tak menjawab, tapi ia masih berdiri di tempat dengan pundak yang baik turun menahan emosinya. "Sharon sekarang kau bisa melepas alat yang terpasang di wajahmu!" titah Chloe seraya menoleh ke arah Albern. Dan lelaki itu pun mengangguk mantap. Tanda ia setuju dengan perintah Chloe pada anjing kesayangannya itu. Dan benar, kesetiaan anjing memang tidak bisa diragukan lagi. Lihat saja tangan Sharon yang segera melakukan apa yang Chloe perintahkan. Sharon pun terkejut melihat kekacauan di dinding yang ada di sekitarnya. "Chloe ini—" "Iya, Sharon. Ini semua adalah kekuatan yang kau hasilkan saat kau tengah emosi." Bruk! Badan Sharon pun terjatuh ke lantai. Tubuhnya pun sangat lemas. Karena tenaganya terasa begitu terkuras. "Sharon!" teriak Chloe sambil meletakkan mikrofon itu dengan asal. Lalu ia segera berlari ke arah Sharon yang sudah terkulai lemas. Albern pun segera mengikuti dari belakang sambil membawa makanan dan minuman yang sudah ia siapkan. "Minum ini, Sharon," kata Albern sambil menyodorkan sebotol yogurt yang sudah dibuka tutupnya. "Thank you," kata Chloe sambil meraih botol itu lalu ia minumkan ke pada Sharon. ………………………… Hai, kak. Jumpa lagi di cerita Riezka Karisha. Sebagai seorang penulis, saya kembali mengingatkan kepada kalian semua untuk saling menghargai setiap karya kita ya, kak. Tentunya, kakak-kakak semua punya sebuah karya yang mungkin berbeda bentuknya. Entah itu dalam bentuk lukisan, jahitan, makanan atau apapun itu. Yang pasti, kita tidak mau dong karya kita diatasnamakan orang lain, dijiplak orang lain, apalagi sampai diperjualbelikan orang lain. Jadi, tanpa mengurangi rasa hormat saya. Saya memohon kepada semua pembaca sekalian untuk bisa melindungi dan menghargai semua cerita yang pernah kalian baca. Entah cerita saya ataupun cerita penulis lain agar terbebas dari plagiat dan penjual Pdf tak bertanggung jawab. Memang benar kalian kadang harus membeli koin untuk membuka bab yang ingin dibaca. Namun, saya tekankan disini. Uang yang kalian bayar untuk membeli koin. Hanya mendapat hak membaca bukan membeli cerita. Karena sesungguhnya, cerita di Innovel maupun Dreame sudah dikontrak dengan Stary dan sepenuhnya milik Stary. Jadi, jika kalian melanggar hak cipta kami. Tentunya akan berurusan dengan pihak Stary yang lebih paham hukum. Selain itu, apakah kalian tidak bisa membayangkan bagaimana perasaannya si penulis yang menjadi sasaran plagiat. Ibaratnya nih, kita punya anak berprestasi. Tapi, diakui orang lain itu anak dia. Kan sakitnya tuh disini? Hehe. Aku yakin sih kalian semua pembaca bijak dan amanah. Tapi, saling mengingatkan itu penting, kan? Siapa tau kalian pernah baca cerita A disini lalu Nemu lagi disana. Kan nggak afdol tuh. Ya, sudah sekian pengumuman saya kali ini. Mungkin, kalian akan menemukan hal yang sama di bab-bab selanjutnya. Jadi, kalian bisa abaikan saja ya kak. Karena saya akan selalu mengingatkan hal yang sama. Agar kita bisa selalu sejalan dan sepaham. Terima kasih atas perhatiannya. Jika ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf sebanyak-banyaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD